Opini: Rajab Bulan Mulia, Wujudkan Kebangkitan Islam

  • Bagikan

Oleh: Anggun Sunarti, S.H (Aktivis Dakwah)

Bulan Rajab adalah bulan perubahan, karena terdapat kesempatan mendulang banyak pahala di bulan ini. Rahmat Allah akan diturunkan bagi mereka yang berharap dan berusaha. Bulan rajab adalah bulan yang penuh dengan kebaikan dan merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim).

Tidak hanya itu, Imam al-Baihaqi menyatakan bahwa Allah Swt. telah menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan haram tersebut—termasuk pada bulan Rajab ini—lebih besar. Begitu juga amal saleh dan pahalanya (yang dilakukan pada bulan-bulan haram tersebut) juga sangat besar (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Îmân, III/370).
Salah satu kenikmatan pada bulan Rajab adalah akan dimasukan ke surga dan dijauhkan dari api neraka. Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas, yakni:

Artinya: “Barangsiapa berpuasa sehari pada bulan Rajab, maka dia seperti berpuasa sebulan. Barangsiapa berpuasa pada bulan Rajab selama tujuh hari, maka tujuh pintu neraka ditutup untuknya. Barangsiapa berpuasa pada bulan Rajab sebanyak delapan hari maka delapan pintu surga dibuka untuknya. Barangsiapa berpuasa pada bulan Rajab sebanyak sepuluh hari maka keburukannya diganti kebaikan”.

Dalam hal ini, Imam As-Suyuthi mengomentari hadist tersebut, bahwa menurutnya hadits itu merupakan hadist yang memiliki kualitas dhaif (lemah) Namun, itu boleh dijadikan sebagai fadhilah amal. (akurat.com, 2/2/22)
Bulan Rajab yang menjadi bagian dari ke empat bulan haram (suci) ini adalah bulan yang memiliki banyak keistimewaan. Tidak hanya terkenal semata dengan keistimewaanya pada peristiwa Isra’ Mi’raj Rasul saw pada tahun ke-10 kenabian, saat Rasul saw menerima perintah kewajiban shalat. Namun, Beliau juga diangkat sebagai pemimpin bagi seluruh umat manusia. Saat itu beliau diperintahkan menjadi imam para nabi dan rasul terdahulu di Baitulmaqdis.

Selain itu banyak kemenangan yang diperoleh kaum muslim. Diantaranya pada tahun 9 H, kaum muslim dalam perang Tabuk mampu menggemparkan adidaya Romawi. (Ibnu Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah, V/195).

Pada tahun ke 14 H, Kota Damaskus (Syam) dibebaskan oleh kaum muslim di bawah Panglima Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ra. dan Khalid bin al-Walid ra. Kemudian pada tahun 15 H/636 M, Perang Yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid ra. menghadapi Romawi, juga terjadi pada bulan Rajab (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, VII/4).

Khalid bin al-Walid ra. membebaskan Hirah, Irak, juga pada bulan Rajab (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, VI/343).

Pada 28 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M, Baitulmaqdis pun berhasil direbut kembali oleh kaum muslim tepatnya di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi, setelah mereka mengalahkan pasukan Salib dalam Perang Hittin. Saat itu pun adzan kembali dikumandangkan dan shalat Jumat kembali dilaksanakan di Masjidil Aqsa setelah 88 tahun diduduki tentara Salib.
Inilah perinstiwa-peristiwa penting yang terjadi pada bulan Rajab, bulan pengampuan penuh kemulian dan kebangkitan kaum muslim.

Meskipun demikian, pada 28 Rajab 1342 H, tepatnya pada 3 Maret 1924 M, Kekhalifahan Islam Turki Utsmani dibubarkan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Setelah pembubaran itu, kehidupan kaum muslim berubah menjadi kehidupan yang jauh dari syariat Islam. Eksistensi penerapan Islam lambat laun hilang dalam kehidupan masyarakat. Waktu yang terus berjalan tanpa syariat, menjadikan masyarakat bebas dengan kehidupannya. Peran agama yang harusnya ada dalam kehidupan bukan lagi perkara yang utama.

Kehidupan kapitalis sekuler sudah menggerogoti sebagian besar individu muslim. Memperhatikan kemulian dan keutamaan bulan Rajab tidak lagi memiliki perhatian besar dalam benak mereka. Kecuali bagi mereka yang sadar akan keberadaan agama atau yang hanya sekadar mengingat tanpa ada kualitas amal dalam diri dengan syu’ur Islam yang harus selalu ada.

Kaum muslim mengambil syariat Islam hanya pada amalan tertentu. Berbuat karena suka, bukan berbuat karena perintah.Tolak ukur syariat dalam perbuatan tidak lagi menjadi patokan dalam melakukan sebuah amalan sehingga amalan atau perbuatan yang dilakukan akan mengikuti kemana muara zaman berada.

Di bulan haram Rajab ini, sepatutnya dioptimalkan penggambaran Islam kaffah dalam peradaban Islam dan kesanggupannya untuk menggantikan peradaban kapitalis sekuler. Hanya Institusi Islam yang bisa mewujudkan peradaban unggul dan memberikan kehidupan hakiki bagi seluruh manusia yang ada di bumi.

Momentum penaklukan dan pembebasan negara di berbagai wilayah yang telah berlalu, seharusnya menjadi pacuan untuk mengembalikan kembali kejayaan Islam sehingga akan terlihat gambaran penerapan Islam kaffah di tengah-tengah masyarakat. Islam sebagai tameng dan negara sebagai pilar akan kembali terdepan dalam peradaban dunia.

Penarapan Islam secara kaffah hanya akan terwujud dalam sistem Islam. Keberadaan syariat akan membawa maslahat bagi umat. Allah subhaanahu wa Ta’aala berfirman yang artinya: Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melaingkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

Maksud ayat di atas adalah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah datang dan membawa syariat yang mengandung maslahat bagi seluruh manusia.

Bukanlah sesuatu yang mustahil jika kepemimpinan yang adil dan penerapan Islam secara kaffah bisa terwujud dalam momentum bulan Rajab. Menanti kebangkitan tiada henti, bulan Rajab kan selalu kunanti.
Wallahu a’lam bisshawab

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.