Penistaan Islam Subur dalam Sistem Sekuler



Oleh : Nur Aliah, SKM
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Penghinaan terhadap agama Islam berikut simbol-simbolnya terus berulang dari tahun ke tahun, bahkan hal itu dilakungan dengan kesengajaan dan dipertontonkan tanpa rasa bersalah. Kejadian akhir Agustus lalu yakni aksi penodaan dan pembakaran al quran yg sistematis dilakukan dengan dukungan politisi di Swedia dan di Norwegia.

Tindakan aktivis-aktivis sayap kanan Swedia membakar Alquran di Kota Malmo memicu kerusuhan. Polisi mengatakan kerusuhan terjadi setelah sekitar 300 orang berkumpul untuk menggelar unjuk rasa. Pengunjuk rasa menyalakan api dan melempari polisi dan tim penyelamat dengan berbagai benda. Kerusuhan mereda saat polisi berhasil mengamankan tiga orang yang dicurigai sebagai penghasut kebencian terhadap kelompok etnik dengan membakar dan menendang kitab suci Alquran (Republika.co.id,30/08/2020).

Sebenarnya tindakan Islamophobia sudah berlangsung secara terpisah-pisah di Swedia. Misalnya kota Skurup yang melarang penggunaan jilbab di Institusi pendidikan pada Desember 2019. Keputusan ini diikuti kota Staffanstorp. Tempat ibadah Muslim juga menjadi sasaran kebencian berdasarkan hasil penelitian ahli sejarah Swedia, Mattias Gardell dari Universitas Uppsala pada 2017.

Di Ibu kota Norwegia, Oslo seorang wanita yang merupakan anggota SIAN merobek halaman Alquran dan meludahinya. Wanita itu sebelumnya pernah didakwa kemudian dibebaskan atas ujaran kebencian. Dalam unjuk rasa itu, wanita tersebut mengatakan pada para pengunjuk rasa “lihat sekarang saya akan menodai Alquran”. Bentrokan pun tak dapat terhindarkan antara pengunjuk rasa anti-Islam yang dimotori SIAN dengan kelompok yang kontra. Kelompok yang kontra melemparkan telur kepada anggota SIAN (VIVA.co.id,30/08/2020).

Tak hanya itu penistaan agama Islam dan ajarannya juga terjadi di dalam Negeri, masi jelas teringat apa yang dikatakan oleh Ibu Sukmawati Soekarnoputri tahun lalu saat menghadiri diskusi bertemakan ” Bangkitkan nasionalisme bersama kita tangkal radikalisme dan berantas terorisme” Ibu Sukma menanyakan ke audiens Siapa yang lebih berjasa yang Mulia Baginda Nabi Muhammad atau Insinyur Soekarno.

Baca juga  Smelter Nikel, SDA Yang Wajib Dikelola Oleh Negara

Apollinaris Darmawan menjadi perbincangan warganet setelah mengunggah sejumlah materi ke media sosial yang menghina Islam. “Menjelaskan secara terbuka dan beradab bahwa Islam bukan agama, melainkan ajaran sesat yang mendungukan serta membiadabkan umatnya,” tulis Apollinaris Darmawan di akun @ApolDarmawan (detik.com,10/08/2020).

Penistaan ajaran Islam akan terus terjadi di sebabkan adanya islamofobia, salah satunya berpangkal pada narasi bahaya radikalisme yang terus disuarakan oleh penguasa dan para pembenci Islam. Tidak henti-hentinya tudingan radikalisme selalu dikaitkan dengan Islam. Tudingan radikal pun senantiasa dialamatkan kepada kaum Muslim, terutama pada mereka yang berpegang teguh pada Islam dan syariahnya.

Meski negara Barat mengangap tindakan ini melanggar hukum, namun seringkali pelakunya bebas atau sekalipun ada yang diberi sanksi namun tak memberi efek jerah. Ahirnya penistaan agama Islam dan ajarannya semakin marak dan ini menggambarkan kegagalan sistemik untuk menjamin keadilan dan kebebasan beragama.

Padahal hal tersebut terjadi di negara yang mengagung-agungkan HAM, tapi anehnya HAM tidak berlaku untuk umat Islam. Umat Islam seolah tidak mendapat pembelaan jika agamanya dinista dan dirinya dianiaya akibat akidahnya.

Hal serupa juga pernah terjadi pada tahun 2010 di Negeri Ratu Elizabeth sendiri yang katanya mengagungkan kebebasan dan toleransi, saat para pengikut Pendeta Terry Jones membakar Al Quran sebagai ekspresi peringatan atas peristiwa 911.

Baca juga  Menyoal Kompetensi dan Profesionalitas Pejabat Negara

Bahkan, di Negeri mayoritas muslim Indonesia, hal yang demikian juga pernah terjadi meskipun dalam bentuk yang lain yaitu penistaan terhadap Al Qur’an khususnya surat Al Maidah: 51 yang akhirnya menjadi pemantik lahirnya peristiwa 212 yang fenomenal.

Kebencian kepada Islam dan umat Islam itu nyata. Peristiwa pembakaran Al Qur’an merupakan sebagian dari ekspresi ketidaksukaan pada Islam dan umatnya atau yang dikenal dengan islamophobia.

Sistem Demokrasi sekuler yang mejunjung tinggi HAM, Kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi, namun itu semua tidak ada untuk Islam jika yang terbungkam adalah kebebasan beragama umat Islam maka HAM membisu. Jika ada aktivis dakwah yang menyerukan syari’ah Islam dan mengkritik penguasa, maka tudingan radikalpun disematkan ke padanya. Padahal apa yang disampaikan adalah ajaran Islam yang dimana kebebasan untuk memeluk agama dan menjalankan ajarannya telah diatur UU.

Terhadap aksi-aksi penistaan itu kaum muslim hanya bisa marah dan mengutuk, tokoh Agama hanya bisa melayangkan kecaman dan kutukan semata. Bahkan penguasa Negeri-Negeri muslim tak dapat berbuat banyak diantara merekapun ada yang hanya diam. Negeri-Negeri Islam hari ini tak memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghentikan penistaan agama disebabkan mereka menerapkan sistem buatan manusia.

Sedari dulu sudah diingatkan oleh Allah swt. dalam firmannya:
“orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti mereka”.

Ummat Islam Butuh Perisai
Islam tentu agama yang mulia. Demikian pula syariahnya dan seluruh ajarannya. Kemuliaan Islam antara lain tercermin dalam firman Allah swt :
“Sungguh agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (TQS Ali Imran [3]: 19).

Kemuliaan Islam juga tercermin dalam sabda Nabi saw :
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam” (HR ad-Daruquthni).

Baca juga  Serangan Terhadap al Aqsha Terus Terjadi, Tak Cukup Kecaman Semata

Namun kemuliaan Islam dicabik-cabik dalam sistem Sekuler, nampak jelas banyaknya aksi penodaan terhadap Islam menjadi bukti gagalnya sistem ini menjamin dan melindungi keadilan dan kebebasan beragama khususnya pada umat Islam.

Islamopobia yang ditunjukan dengan aksi kekerasan dan penistaan agama hanya bisa diatasi dengan kekuasan Islam yang akan menjadi perisai bagi Islam dan kaum muslim. Pemerintahan Islam yang kuat bebas dari intervensi Negara lain akan memiliki power untuk menjaga dan melindungi Islam dan segala bentuk penghinaan, dan akan memberikan sanksi yang tegas bagi mereka.

Pada masa Rasulullah saw. telah memberikan contoh nyata bagaimana kehormatan Islam dan kaum muslimin dilindungi.

Tatkala ada peristiwa tersingkapnya aurat seorang muslimah yang dilakukan oleh orang Yahudi Bani Qoinuqo’, Rosululloh SAW bertindak tegas dengan melakukan pengusiran kaum Yahudi tersebut dari Madinah.

Hal demikianpun dipraktekan tatkala Prancis akan mengadakan pertunjukan theater yang isinya penghinaan terhadap Rasulullah saw. Maka penguasa muslim yakni Khalifah Abdul Hamid mengamcam akan mengobarkan jihad jika theater itu tetap dilaksanakan. Prancis gentar dengan ancaman dari Negara adidaya, akhirnya pertunjukan theater itu dibatalkan.

Tak ada junnah atau perisai yaitu Khilafah adalah penyebab utama maraknya penistaan dan pelecehan yang menimpa umat Islam di berbagai belahan dunia. Tak hanya penistaan tapi umat Islam juga dizalimi oleh kaum kafir harbi dengan sistem kufur yang mereka terapkan. Maka sudah saatnya Islam diterapkan dan menjadi perisai bagi Islam dan selurum umat manusia.
Wallahua’lam bissawab.