30 November 2025

Ragam Musik: Menelusuri Jejak Warisan Kalimantan Barat hingga Gebrakan Hip-hop Global

Musik memiliki kemampuan unik untuk merekam jejak zaman, mulai dari senandung tradisional yang berusia ratusan tahun hingga detak industri hiburan modern yang serba cepat. Di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat, lagu daerah bukan sekadar hiburan semata, melainkan arsip sosial yang mencatat sejarah, kondisi geografis, dan nilai gotong royong masyarakat. Sementara itu, di belahan dunia lain, musisi modern terus melahirkan karya baru yang menandai pencapaian karier mereka di tahun 2025 ini.

Satire Sejarah dalam Cik Cik Periuk

Salah satu warisan budaya yang paling menonjol dari Sambas, Kalimantan Barat, adalah lagu “Cik Cik Periuk”. Tembang ini diyakini telah eksis sejak 150 tahun silam, namun di balik nadanya yang riang, tersimpan kritik sosial yang tajam. Lagu ini sejatinya merupakan bentuk sindiran masyarakat setempat terhadap tentara Jawa yang mengenakan seragam Hindia Belanda.

Kehadiran para tentara di masa lalu tersebut dianggap membawa pengaruh negatif, terutama karena strategi adu domba yang sering diterapkan. Liriknya secara metaforis menggambarkan kehidupan masyarakat yang mulai bercampur aduk dan kacau, di mana manusia digambarkan terlalu sibuk mengejar urusan duniawi hingga melupakan akhirat. Frasa seperti “idong picak gigi rongak” menjadi simbol cemoohan yang berani pada masanya, merekam ketegangan sosial yang terjadi di era kolonial.

Romantisme Sungai Terpanjang dan Pesta Panen

Bergeser dari tema sejarah, lagu “Aek Kapuas” karya Paul Putra Frederick hadir sebagai ode bagi keindahan geografis provinsi ini. Lagu ini telah menjadi semacam lagu wajib yang menceritakan kemegahan Sungai Kapuas, sungai terpanjang yang membelah kota dan hutan di Kalimantan Barat. Ada mitos romantis yang tertuang dalam liriknya, yang menyebutkan bahwa siapapun yang meminum air Kapuas, sejauh apapun mereka pergi merantau, pasti akan merasakan rindu yang berat dan sulit melupakannya.

Sementara itu, semangat kebersamaan masyarakat Sambas terekam jelas dalam lagu “Alok Galing”. Berbeda dengan nuansa kritik atau romansa, lagu ini adalah pengiring tarian yang merayakan masa panen padi. Liriknya menceritakan betapa masyarakat, tanpa memandang status, akan turun bersama ke sawah untuk menumbuk padi. Tradisi menumbuk “amping” (padi muda) di bawah terang bulan bukan hanya soal agrikultur, melainkan cara warga mempererat tali silaturahmi dan menjaga budaya gotong royong tetap hidup di tengah masyarakat agraris.

Gebrakan Akhir Tahun dari London Barat

Sementara tradisi terus dijaga di Nusantara, panggung musik internasional juga mencatat momen penting di penghujung tahun 2025. Rapper asal London Barat, Central Cee, kembali mencuri perhatian publik dengan merilis singel terbarunya yang bertajuk “Booga”. Perilisan ini menjadi penutup yang manis bagi sang musisi setelah menjalani tahun yang sangat kolosal dalam kariernya.

Tahun ini memang menjadi titik balik besar bagi Central Cee, ditandai dengan peluncuran album debutnya, “Can’t Rush Greatness”, yang mendapat sambutan hangat. Setelah sibuk mengelilingi dunia untuk berbagai pertunjukan besar, ia tidak lantas beristirahat. Melalui “Booga”, Cench—sapaan akrabnya—menawarkan pendekatan melodik yang segar namun tetap mempertahankan ciri khasnya yang adiktif, membuktikan produktivitasnya yang tak surut di tengah jadwal tur global yang padat.