Sebuah penelitian terbaru mengungkap pergeseran paradigma yang cukup meresahkan di dunia pendidikan global: kecerdasan buatan (AI) kini tidak lagi sekadar dianggap sebagai alat bantu akademik, melainkan sebagai sahabat bagi para remaja. Riset yang melibatkan 545 siswa sekolah menengah di Kashmir menemukan bahwa hampir 96% dari mereka menggunakan ChatGPT secara rutin. Pola ini mencerminkan tren serupa yang terjadi di Kamboja, Hungaria, dan berbagai negara Eropa lainnya. Namun, data statistik tersebut hanyalah puncak gunung es dari realitas yang lebih kompleks di mana batas antara teknologi dan interaksi manusia kian kabur.
Ilusi Kehadiran Teman Digital
Para siswa mendeskripsikan alat berbasis AI ini sebagai mitra dalam pengambilan keputusan. Salah seorang remaja bahkan menyebut ChatGPT terasa seperti teman yang bisa dipercaya, sementara siswa lain mengaku menggunakannya untuk menata kehidupan pribadi atau sekadar tempat berbagi perasaan ketika tidak ada orang lain yang bisa diajak bicara. Ketergantungan emosional ini memicu kekhawatiran mendalam. Model bahasa besar (LLM) tidak dirancang untuk tujuan terapeutik, dan insiden global belakangan ini telah menyoroti bahaya ketika remaja memperlakukan chatbot layaknya terapis. Kendati demikian, daya tariknya sulit ditolak: AI selalu tersedia, sabar, dan yang terpenting, tidak pernah menghakimi. Bagi generasi yang tumbuh dengan kepuasan digital instan, kenyamanan ini sangat memikat.
Di sisi lain, cara siswa mengadopsi teknologi ini terjadi tanpa panduan. Mereka belajar secara otodidak melalui media sosial dan YouTube, bukan melalui instruksi terstruktur di sekolah. Hal ini menciptakan ketimpangan tajam antara mereka yang memiliki akses internet mumpuni dengan yang tidak. Tanpa pelatihan formal, siswa kehilangan pemahaman kritis tentang cara kerja sistem AI dan risiko misinformasi. Mereka hanya belajar cara memberi perintah (prompting), namun tidak dibekali kemampuan mengevaluasi jawaban yang dihasilkan.
Krisis Kebijakan dan Kemalasan Kognitif
Ambiguitas moral juga dirasakan oleh para pengguna muda ini. Seorang siswa berusia 16 tahun mengakui adanya perasaan bersalah, seolah-olah ia sedang berbuat curang, namun rasa malas untuk memverifikasi fakta sering kali menang. Mereka menyadari adanya penurunan kemampuan kognitif, namun tetap melanjutkannya karena kemudahan yang ditawarkan dan ketiadaan otoritas dewasa yang melarang secara tegas. Situasi ini diperburuk oleh kegagalan institusi pendidikan dalam merespons cepat.
ChatGPT diluncurkan pada November 2022, namun survei menunjukkan 77% siswa melaporkan bahwa sekolah mereka belum memiliki sikap resmi terkait penggunaan AI. Kekosongan kebijakan ini membuat guru kewalahan, terutama di kelas-kelas besar dengan lebih dari 40 siswa, di mana mendeteksi tugas hasil buatan AI hampir mustahil dilakukan. Guru-guru memperingatkan bahwa tanpa intervensi, siswa tidak akan tumbuh secara intelektual dan hanya menggunakan AI sebagai tongkat penyangga yang justru melemahkan nalar mereka.
Ekspansi Solusi Pendidikan Terstruktur
Sementara sekolah-sekolah berjuang merumuskan kebijakan literasi AI, sektor swasta mulai bergerak untuk mengisi celah kebutuhan akan pendidikan teknologi yang terstruktur dan aman, khususnya di pasar Asia Tenggara. Arothinking Co., Ltd., perusahaan penyedia solusi pendidikan AI dan Extended Reality (XR) berbasis di Korea Selatan, mengumumkan percepatan ekspansi global mereka pada tahun 2025, dengan menempatkan Vietnam sebagai pasar strategis utama.
Langkah ini sejalan dengan kebutuhan mendesak untuk memperkenalkan teknologi secara bertanggung jawab sejak usia dini. Didirikan pada 2018, Arothinking mengkhususkan diri pada platform pembelajaran eksperimental yang mengintegrasikan konten VR (Virtual Reality) dan AR (Augmented Reality) dengan pendidikan bahasa Inggris serta pengodean (coding). Berbeda dengan penggunaan AI liar di kalangan remaja yang disebutkan sebelumnya, program seperti Thinking Play dan AI Thinking Lab dirancang untuk membangun pemikiran logis, kreativitas, dan komunikasi interaktif secara sistematis.
Vietnam Sebagai Pusat Pertumbuhan Baru
Rekam jejak operasional perusahaan ini cukup kuat di pasar domestik Korea, dengan implementasi di sekitar 1.200 taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Untuk pasar Vietnam, Arothinking telah mendirikan entitas lokal bernama CEEREDS guna mendukung operasional jangka panjang. Salah satu inovasi kunci mereka adalah ruang kelas multimedia AR digital yang tidak memerlukan perangkat head-mounted display, sehingga memungkinkan penggunaan yang aman dan mendalam bagi pelajar muda tanpa risiko isolasi fisik.
Perusahaan ini juga tengah aktif menjalin kemitraan distribusi regional untuk melokalisasi solusi mereka agar selaras dengan kurikulum setempat. Upaya ini diharapkan dapat menjadi antitesis dari penggunaan AI yang tidak terkontrol, dengan menawarkan infrastruktur pembelajaran terpadu melalui sistem manajemen pembelajaran (LMS) dan peluncuran program AI-LIT yang memanfaatkan analisis mahadata untuk memberikan wawasan pembelajaran yang dipersonalisasi kepada pendidik dan orang tua.
Masa Depan Literasi Digital
Ekspansi ini tidak berhenti di Vietnam. Arothinking telah menyelesaikan ekspor pertamanya ke sebuah sekolah internasional di Thailand dan sedang dalam tahap diskusi untuk penyebaran lebih lanjut, serta telah memvalidasi platform mereka melalui proyek proof-of-concept di DWI Emas International School, Malaysia. Jepang dan Uni Emirat Arab juga masuk dalam radar ekspansi global mereka.
Dukungan dari program bantuan ekspansi luar negeri Kementerian Sains dan TIK Korea semakin memuluskan jalan bagi adopsi platform ini. Pada akhirnya, baik temuan riset mengenai ketergantungan remaja pada AI maupun masuknya perusahaan EdTech seperti Arothinking bermuara pada satu kesimpulan: teknologi tidak bisa dibendung, namun harus dikelola. Jika sekolah dan penyedia teknologi dapat bersinergi membuat kebijakan yang jelas serta program literasi yang terstruktur, AI dapat berubah dari sekadar “teman curhat” yang melenakan menjadi alat ampuh untuk mempertajam kemampuan berpikir kritis generasi mendatang.
More Stories
Transformasi Pendidikan di Era AI: Dari Mentalitas ‘Lebih Baik dari Robot’ hingga Standar Kompetensi Global
QS WUR 2025 Rilis Peringkat Universitas: Fokus pada Kelayakan Kerja dan Keberlanjutan Jadi Sorotan Global
Era Baru AI: Dari Strategi Bisnis di Eropa hingga Kurikulum Sekolah di Alaska