Kehadiran model bahasa besar (Large Language Models) dalam dunia pendidikan sering kali memicu kekhawatiran instan mengenai integritas akademik, terutama risiko kecurangan di kalangan mahasiswa. Namun, narasi ini mulai bergeser. Alih-alih melarang penggunaan teknologi, sejumlah pendidik kini justru berupaya mengajarkan cara hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan, menekankan pentingnya penguasaan teknologi secara etis dan strategis.
Membangun Mentalitas Baru di Ruang Kelas
Di Babson College, Kristi Girdharry, Direktur Writing Center, menolak pandangan sempit bahwa AI hanyalah mesin untuk mencontek. Baginya, teknologi ini adalah alat bantu yang harus dimanfaatkan, bukan dihindari. Girdharry kini menerapkan mantra khusus kepada para mahasiswanya: “Kalian harus lebih baik daripada robot.” Pendekatan ini mengubah peran pendidik dari sekadar pengawas menjadi mentor yang memandu siswa untuk menghasilkan karya yang melampaui kemampuan algoritma.
Untuk memperluas wawasan ini, Babson College menggelar simposium bertajuk ‘Babson Tea Party’ yang mengumpulkan para pendidik menulis dari seluruh Boston. Acara ini tidak hanya membahas pendekatan berbasis nilai terhadap AI, tetapi juga menghadirkan panel mahasiswa yang secara efektif mematahkan stigma bahwa teknologi hanya digunakan untuk jalan pintas akademis.
Peluncuran Standar Kompetensi Digital untuk Dosen
Sejalan dengan perubahan pola pikir di tingkat kelas, langkah struktural yang lebih besar juga diambil untuk menstandarisasi penggunaan teknologi di pendidikan tinggi. ISTE+ASCD, sebuah organisasi nirlaba global yang berfokus pada pembelajaran berbasis teknologi, bekerja sama dengan Old Dominion University (ODU), baru saja merilis Standar Fakultas ISTE untuk Kompetensi Pengajaran dan Pembelajaran Digital.
Standar ini dirancang sebagai kerangka kerja berbasis riset untuk membantu institusi pendidikan merespons dinamika pendaftaran mahasiswa, kebutuhan tenaga kerja, serta adopsi AI yang kian cepat. Dokumen ini menguraikan bagaimana seharusnya dosen berinteraksi dengan teknologi dalam tiga pilar utama: pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Di dalamnya, didefinisikan enam atribut peran utama bagi staf pengajar, yakni sebagai Instruktur, Koordinator, Pemimpin, Peneliti, Pembelajar, dan Kontributor.
Respon Akademisi dan Adopsi Institusional
Langkah ini disambut positif oleh kalangan akademisi. Helen Crompton, Profesor Teknologi Instruksional sekaligus Direktur Eksekutif Research Institute for Digital Innovation in Learning di ODU, menyatakan antusiasmenya melalui LinkedIn. Sebagai sosok yang memimpin riset di balik standar ini, Crompton menekankan bahwa kerangka kerja tersebut dibentuk oleh kelompok fakultas yang beragam untuk mencerminkan realitas pengajaran digital saat ini. Menurutnya, ini adalah fondasi kuat yang sangat dibutuhkan untuk memandu pengembangan fakultas di tengah lanskap digital yang berubah cepat.
Dampak dari peluncuran ini mulai terasa secara nyata. Beberapa institusi pendidikan, termasuk Old Dominion University, Aquinas College, dan Utah Valley University, telah berkomitmen untuk menerapkan standar ini di seluruh lingkungan kampus mereka. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kualitas pengajaran serta memastikan para dosen memiliki kompetensi digital yang relevan.
Richard Culatta, CEO ISTE+ASCD, menegaskan bahwa standar baru ini memberikan peta jalan yang jelas bagi pendidikan tinggi. Tujuannya bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan pemanfaatan teknologi baru dengan cara yang bermakna, etis, dan berorientasi masa depan.
More Stories
QS WUR 2025 Rilis Peringkat Universitas: Fokus pada Kelayakan Kerja dan Keberlanjutan Jadi Sorotan Global
Era Baru AI: Dari Strategi Bisnis di Eropa hingga Kurikulum Sekolah di Alaska