Wujudkan Takwa Hakiki dengan Menegakkan Hukum-Nya


Oleh: Hamsina Halik, A. Md. (Pegiat Revowriter)

Tamu mulia itu telah meninggalkan kita. Bulan Ramadan yang agung. Di bulan ini, Allah Swt. mewajibkan umat Islam untuk berpuasa selama sebulan lamanya. Agar kita bisa meraih takwa. Adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk meraih takwa bila mereka berharap keridhaan Allah Swt. Hal ini akan membawa mereka pada kemenangan. Dan berbahagialah orang-orang yang memperoleh kemenangan itu.

“Pada hari kemenangan itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah, Dia menolong siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (TQS ar-Rum [30]: 4-5)

Jika ditelisik, dari tahun ke tahun kondisi umat Islam di bulan Ramadan ataupun pasca Ramadan tak jauh beda dengan sebelum-sebelumnya. Masih berada di bawah pengaturan sistem kapitalis sekular. Bahkan, semakin liberal. Bagaimana tidak, berbagai serangan pemikiran-pemikiran liberal menyerang umat Islam. Tak sedikit yang terjerumus ke dalam pemikiran liberal itu. Pada akhirnya, sebagian besar Umat Islam semakin jauh dari agamanya. Akidah kian terkikis.

Tak hanya itu, serangan fisik pun tak hentinya menyerang umat Islam. Sebut saja, serangan rezim Israel ke Palestina di bulan Ramadan, sukses mengoyak kekhusyukan warga Palestina dalam beribadah di bulan Ramadan. Sungguh suatu kekejaman yang sangat keji. Bentuk nyata permusuhan kaum kafir terhadap Islam.

Baca juga  Selamatkan Negeri dari Wabah Covid-19 dengan Solusi Islam

Dan kini, umat Islam semakin kehilangan jati dirinya sebagai khairu ummah. Umat Islam tidak bisa mendapatkan hak-haknya serta menikmati kegembiraan yang merupakan buah dari puasa Ramadan akibat terkungkung sistem sekular saat ini.

Ramadan Mewujudkan Ketakwaan

Di sepanjang Ramadan, umat Islam cenderung melakukan amal kebaikan. Olehnya itu, bulan Ramadan boleh saja berakhir ketika 1 Syawal telah menyapa. Namun, semestinya amal-amal baik yang sudah terbiasa kita lakukan di bulan Ramadan sekiranya tetap dilakukan. Sebab, Ramadan ini merupakan bulan untuk menempa diri meraih takwa.

Ibarat fase kepompong pada perkembangan seekor ulat menjadi kupu-kupu. Ketika menjadi kepompong tampak diam, lemah dan tak bergerak. Tatkala masa kepompong selesai, maka segera akan keluar kupu-kupu cantik yang akan menarik hati siapa pun yang melihatnya. Tentu saja, apa yang dialami ulat semasa menjadi kepompong kadang tidak mengenakkan dan tidak menarik. Namun, akan terlihat indah ketika sudah menjadi kupu-kupu.

Baca juga  KOMUNIS DAN LGBT DIKAJI, SYARIAT ISLAM DIBUNGKAM

Demikian pula dengan aktivitas di bulan Ramadan, mungkin saja terasa berat dan banyak godaan. Namun, dibalik rasa berat itu ada keberkahan yang menanti dan pahala yang tak ternilai besarnya. Olehnya itu, bagi orang-orang yang berhasil melewati Ramadan akan merasakan hasilnya sampai kapan pun. Selama 11 bulan ke depan energi baru telah diperoleh dari Ramadan ini. Dengan kata lain, amalan-amalan Ramadan itu akan terus terlihat hasilnya setelah Ramadan sebagai wujud ketakwaan.

Inilah tujuan puasa Ramadan. Dengan ketakwaan itu akan membuat setiap insan akan senantiasa berhati-hati dalam bersikap dan berbuat, sebab dalam dirinya telah terbersit rasa takut kepada Allah Swt. Takut melanggar hukum-hukum Allah Swt. sekecil apapun.

Inti dari Takwa

Ibnu Qayyim berkata, “Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan atau pun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang melakukan perintah itu karena imannya, yang diperintahkan-Nya disertai dengan pembenaran terhadap janji-janji-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya.

Baca juga  Kebijakan Buka Tutup Wisata, Membingungkan Rakyat

Sedang ihtisab adalah koreksi diri dan penilaian sendiri sehingga akan membawa pada pengharapan terhadap ridho Allah semata. Buah ihtisab adalah kesabaran, ketabahan, dan kemampuan menahan diri dengan perhitungan yang matang. Maka ihtisab akan membawa seseorang untuk bertindak benar sesuai perintah Allah Swt. dan Rasulullah Saw. amalkan.

Dengan kata lain, ketakwaan bermakna ketaatan kepada ketentuan-ketentuan Allah Swt. dalam segala aspek. Maka dari itu, inti takwa sejatinya adalah kesediaan seorang muslim untuk tunduk dan taat pada aturan Allah Swt., meninggalkan yang dilarang dan menjalankan yang diperintahkan.

Jika seorang muslim mampu melewati puasa Ramadan yang terasa berat dan penuh godaan, maka demikian pula dengan melaksanakan aturan Allah atau syariah Islam tidaklah sulit. Sebab, jika seorang muslim menghayati dengan benar puasa Ramadan, maka selepas Ramadan menjadi pribadi yang lebih bertakwa lagi. Lebih gigih lagi melaksanakan syariah-Nya dan lebih bersungguh-sungguh lagi dalam menegakkan hukum-hukum-Nya sebagai pengatur dalam segala aspek kehidupan.

Wallahu a’lam


OPINI