Urgensi Investasi Puluhan Triliun Untuk Laptop Lokal


Oleh: Sri Lestari

Pandemi masih terus melanda angkanya terus bertambah, bahkan sampai pengadaan PPKM. Yah, memang seharusnya demikian, pengadaan PPKM untuk menyadarkan masyarakat bahwa pandemi masih ada. Pasalnya banyak masyarakat yang tidak percaya dan dampaknya seperti sekarang ini. Sudah diberitakan misal si A meninggal karena terkena Covid-19 masih saja tak peduli dengan protokol kesehatan seperti memakai masker dan jaga jarak.

Bukan pesimis karena covid-19. Tapi karena melihat kebelakang, yang disebutkan dan di banggakan dengan slogan karya anak bangsa hanya berumur jagung. Bukan karyanya yang mati, tapi produksinya mungkin di hentikan, tidak terdengar kabar burungnya lagi. Akankah kali ini bisa bertahan dan berkembang?

Karya anak bangsa dan bulan Juli menjadi saksi lahirnya laptop merah putih. Menteri koordinator bidang kemaritiman dan investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia akan memiliki laptop merah putih yang dikembangkan konsorsium industri TIK bersama ITB, ITS, dan UGM.

Berapa anggaran yang dipersiapkan pemerintah? Pemerintah menyiapkan anggaran sebeasar Rp 17,42 Triliun. Sukabumiupdate.com (23/7/21). Luhut berujar belanja pemerintah untuk produk dalam negeri betul-betul kita dorong tidak boleh impor-impor, padahal kita bisa produksi. Harus dibasmi orang-orang yang masih main disini, dalam Youtube Komenko Maves, Kamis, 22 Juli2021.

Masih dilansir dari Sukabumi.com, di tahun 2021, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, riset dan Teknolohgi telah mengalokasikan APBN senilai 1,3 triliun untk pengadaan 189.165 unit laptop yang seluruhnya diproduksi oleh industri lokal. Sedangkan pemerintah daerah memiliki dana alokasi atau DAK fisik sebesar 2,4 triliun untuk pengadaan 242.565 unit laptop.

Baca juga  Sekolah Putus, Akankah Harapan Pupus?

Dari pemberitaan diatas, artinya pembeli terbesar itu langsung dari pemerintah sendiri. Kabarnya laptop tersebut akan disebarkan ke sekolah-sekolah dari berbagai jenjang pendidikan, baik formal maupun non formal, Kompas.com (30/7/21).

Selain itu, harga laptop tersebut terbiang mahal, yakni 10 juta atau kisaran 5-10 juta yang sampai sekarang belum fiks berapa sebenarnya. Terkesan terburu-buru dan menghabiskan dana. Ditambah spesifikasi laptop yang sangat standar, meski itu tujuaanya hanya untuk pelajar atau tenaga pengajar yang sebatas untuk pembelajaran formal.

Dari komentar para Youtuber salah satunya “ghaigepe” laptop ini tidak meyakinkan/mendukung untuk Game ataupun editing (30/7/21). Sangat disayangkan, belum uji komentar masyarakat sudah besar-besaran di produksi, ada apa dibalik ini?

Kembali ke problem negeri dan dunia. Pandemi ini masih mengancam nyawa, masih menakut-nakuti, adakah yang lebih penting dari nyawa manusia? Haruskah orang terdekat kita yang meninggal barulah kita sadar akan bahaya Covid-19 ini. Tidak sedihkan melihat tetangga atau masyarakat yang melakukan isoman dengan keadaan ekonomi yang buruk. Bansos tidak merata, artinya penanganannya kurang serius. Bansos tidak merata, ini benar adanya.

Baca juga  Penghinaan Agama Berulang, Dimana Peran Negara?

Menko marinvest mengungumumkan rencana produksi laptop dalam negeri, menyedot anggaran puluhan triliun padahal jika melihat kondisi saat ini pemerintah harusnya lebih fokus pada masalah yang lebih urgen dengan mengalihkan aggaran tersebut untuk penanganan pandemi Covid-19 semisal pemberian bansos atau penyediaan alat medis.

Hal ini tentu berbeda dalam sistem Islam yakni khilafah. Dalam buku the great leader of umar bin khathab, dikisahkan kehidupan dan kepemimpinan khalifah kedua ini, diceritakan bahwa ketika terjadi krisisi khalifah umar radhiyallahu anhu melakukan beberapa hal berikut:

Pertama, Ketika krisis ekonomi, memberi contoh baik dengan cara berhemat dan bergaya hidup sederhana bahkan lebih kekurangan dari masyarakatnya.

Kedua, khalifah Umar radhiyallahu anhu memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan, pada masa krisis, bangsa arab dari berbagai penjuru datang ke Madinah, khalifah Umar radhiyallahu anhu, menugaskan beberapa jajarannya untuk menghitung jumlah mereka orang-orang yang ditugaskan pun menghitung orang-orang yang datang ternyata berjumlah 70.000 orang, jumlah orang-orang yang sakit sebanyak 4.000 orang bahkan telah banyak terjadi kematian ditengah-tengah mereka, Umar akhirnya mengambil kebijakan untuk menyalakan tungku-tungku besar sebagai dapur umum. Tungku-tungku itu terus beropersai dan dikerjakan oleh tangan-tangan ahli sejak sebelum subuh meeka menumbuk dan membuat bubur.

Baca juga  BERANI TAMPIL BEDA TANPA LOCKDOWN

Khalifah Umar ra, lalu memberi makanan kepada orang-orang badui dari dar ad-Daqiq, yang merupakan sebuah Lembaga perekonomian berada pada masa pemerintahan Umar, Lembaga ini bertugas membagi tepung, mentega, kurma, dan anggur yang berada di Gudang kepada orang-orang yang dating ke Madinah, dar ad-daqiq kin diperbesar agar bisa membagi makanan kepada puluhan ribu orang yang datang ke Madina selama Sembilan bulan, sebelum hujan tiba dan memberi kehidupan. MMC

Khalifah Umar juga mengirimkan bantuan dari berbagai daerah seperti makanan dan pakaian kepada semua orang selama beberapa bulan, bahkan di masa khalifah Umar tidak menghukum pencuri yang mencuri karena terpaksa demi sekedar menyambung hidup.

Khalifah Umar juga menghentikan pungutan zakat pada masa krisis/bencana. Kebijakan seperti inilah yang akan diambil oleh pemimpin dalam sistem Islam, kebijakan yang focus pada penyelamatan nyawa rakyat dan kesempurnaan aturan Islam ini tentu hanya bersumber dari Al-Quran dan As-sunnah dalam mengatur politik dan ekonomi negara. Semua ini hanya akan terjadi jika sistem Islam dalam bingkai khilafah Kembali diterapkan dalam kehidupan ini.

Wallahu a’lam bi ashawab.


OPINI