Tujuan Pendidikan dalam Islam


Oleh: Hamsina Halik, A. Md.

Masa pandemi yang entah kapan usainya telah melahirkan berbagai problematika yang semakin membuat negeri ini terpuruk di segala aspek. Termasuk dalam aspek pendidikan. Sistem pembelajaran online atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi pilihan agar anak didik terhindar dari bahaya covid-19 yang mengintai. Namun, rupanya sistem PJJ ini menuai berbagai masalah. Untuk itu, kementerian agama merespon persoalan ini dengan menerbitkan kurikulum darurat. Kurikulum ini berlaku bagi jenjang pendidikan madrasah mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).

Muhammad Ali Ramdhani, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag dalam penjelasannya mengatakan, panduan ini merupakan pedoman bagi satuan pendidikan dalam melaksanakan pembelajaran di Madrasah pada masa darurat Covid-19, beliau melanjutkan bahwa, kurikulum ini sifatnya sementara dan berlaku pada masa pandemi Covid-19, kurikulum darurat ini menekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia dan kemandirian siswa. Pemenuhan aspek kompetensi, baik dasar maupun inti, tetap mendapat perhatian dalam skala tertentu (Republika.co.id. 07/02/2021).

Berpijak pada Sekularisme

Sudah menjadi rahasia umum, bagaimana penyelenggaran pendidikan dalam sistem kapitalisme selalu menuai persoalan. Mulai dari penyelenggaran kegiatan belajar mengajar (KBM) yang tak jelas prosedurnya, kekurangan sarana dan fasilitas belajar mengajar. Dalam pembelajaran online ini misalnya, ketersediaan kuota internet dan pengadaan jaringan internet tak dicarikan solusinya hingga sampai pada wacana kurikulum darurat selama proses PJJ ini.

Baca juga  PENGHINAAN TERHADAP NABI MUHAMMAD SAW KEMBALI TERJADI, KAUM MUSLIM BUTUH KHILAFAH

Di samping itu, dalam sistem PJJ ini didapati banyaknya keluhan dari para pelajar. Diantaranya, ketidakmampuan dalam memahami setiap materi yang diberikan ditambah dengan banyaknya tugas yang diberikan membuat mereka jenuh hingga berujung stress. Selain itu, hampir sebagian besar para orangtua pun tertekan hingga depresi menghadapi sistem belajar ini. Ketidakmampuan mereka dalam mendampingi anak belajar, terlebih jika orangtua yang harus mendadak menjadi guru, disertai dengan kesibukan di luar rumah, membuat pembelajaran tak berjalan maksimal. Ini menunjukkan ketidaksiapan pelaku dunia pendidikan dengan kondisi yang ada dalam sistem pembelajaran ini. Padahal, sudah hampir setahun PJJ ini berlangsung, namun tetap saja bermasalah.

Pembelajaran jarak jauh yang telah berlangsung hampir setahun telah menimbulkan kekhawatiran adanya potensi learning loss atau berkurangnya pengetahuan dan keterampilan siswa secara akademik. Dilansir oleh laman kemendikbud, Ahad (31/1/2021), learning loss bisa terjadi karena berkurangnya intensitas interaksi guru dan siswa saat proses pembelajaran.

Pada kesempatan lain, Menteri pendidikan dan kebudayaan, Nadiem makarim dalam pernyataannya menyatakan bahwa kemendikbud dapat menghitung lerning loss tersebut pada penyelenggaraan Asesmen Nasional (AN), yang rencananya akan dilaksanakan pada September 2021 (Kemendikbud, 11/1/2021)

Fakta-fakta ini menunjukkan lemahnya pemerintah dalam sistem kapitalis ini dalam mengatasi masalah pendidikan akibat tersanderanya kebijakan dengan kepentingan ekonomi dan tidak adanya jaminan pendidikan sebagai kebutuhan publik yang wajib dijamin penyelenggaraannya oleh negara. Dengan demikian, menjadikan pandemi covid-19 sebagai penyebab suramnya dunia pendidikan saat ini yang berakibat pada learning loss, tidaklah tepat.

Baca juga  Gerak Cepat Salah Kaprah

Sebab, jauh sebelum covid-19 menyerang, dunia pendidikan sudah dalam keadaan suram. Ini bisa dibuktikan melalui Program Internasional Student Assessment (PISA) Indonesia yang berada berada diperingkat bawah pada survei tahun 2018. Ini menunjukkan adanya kegagalan sistemik dari sistem pendidikan saat ini. Selain itu, kualitas moral peserta didik semakin merosot. Semua itu akibat dari sekularisme (asas yang menjauhkan agama dari kehidupan) yang menjadi pijakan dalam menyusun kurikulum pendidikan. Sehingga, tujuan dari pendidikan pun tak jauh dari menghasilkan manusia yang materialistik dan individualistik.

Akidah Asas Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk kepribadian Islam. Disertai dengan pemberian berbagai ilmu dan pengetahuan yang erat kaitannya dengan kehidupan. Dalam Islam, pendidikan tak sekadar transfer ilmu. Namun, harus diperhatikan sejauh mana ilmu pengetahuan itu diberikan dapat mengubah sikap atau tidak.

Untuk menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan perlu solusi yang fundamental. Diawali dengan perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi paradigma pendidikan Islam.

Secara paradigmatik, mengembalikan asas pendidikan pada Islam adalah kewajiban. Dalam pendidikan Islam, akidah sebagai dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan. Paradigma pendidikan yang berasas akidah islam harus berlangsung secara berkesinambungan pada seluruh jenjang pendidikan yang ada, mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi. Outputnya nampak pada adanya keseimbangan diantara tiga hal, yaitu; pembentukan kepribadian islam (Syakhsiyyah Islamiyyah), penguasaan tsaqofah islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keterampilan).

Baca juga  Dinasti Politik Ala Demokrasi

Sedangkan solusi pada tataran strategi fungsional.  Pendidikan melibatkan tiga unsur pelaksana yaitu keluarga, sekolah/kampus dan masyarakat yang harus dikembalikan pada  nilai-nilai aturan  Islam.  Keluarga yang berperan menanamkan akidah Islam yang kokoh pada anak, lingkungan masyarakat yang kondusif  penuh amar ma’ruf nahy munkar, dan sekolah  dengan  akidah Islam sebagai asas  pendidikannya serta peran negara sebagai pelaksana aturan  Islam. Dengannya akan mewujudkan  pendidikan yang mampu melahirkan para intelektual yang bersyakhsiyyah Islamiyyah.

Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban untuk segera mengembalikan pendidikan dalam rangka meraih output generasi dalam Islam sebagai generasi terbaik yang mampu mengemban amanah akhirat. Sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [03]: 110).

Wallahu a’lam []


OPINI