Terbaik terbaik

Dibaca : 67 kali.

Tsunami Covid-19 di India, Indonesia Berisiko?


Oleh : Rubiah Lenrang (Praktisi Kesehatan)

India kini mengalami krisis akibat tsunami Covid-19. Gelombang baru serangan virus corona penyebab Covid-19 menghantam India, bahkan telah mengubah wilayah India menjadi seperti neraka. Kasus Covid-19 di India melonjak lebih cepat daripada di tempat lain di dunia. Rumah sakit kewalahan menangani pasien Covid-19. Tercatat angka kematian di India akibat virus Covid-19 telah mencapai 200.000 jiwa. Seperti dilansir Aljazirah, kasus harian virus corona baru India tetap di atas 300 ribu selama enam hari berturut-turut pada Rabu (28/4).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan gelombang infeksi Covid-19 di India merupakan “badai” dari imbas pertemuan massal, adanya varian lebih menular, dan tingkat vaksinasi rendah.

Kondisi India yang mirip Indonesia dari segi kepadatan penduduk, perilaku masyarakat, serta kebudayaan tersebut membuat Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra khawatir. Hermawan menilai Indonesia juga berpotensi mengalami hal serupa, dan kemungkinan bisa jadi bakal lebih parah. Mengingat, teknik pengendalian pandemi Covid-19 pemerintah India lebih baik dibanding Indonesia. Negara tersebut juga sempat menerapkan karantina wilayah atau lockdown beberapa kali, dan tercatat sebagai salah satu produsen vaksin dengan skala besar. Sedangkan Indonesia, kebalikan dari itu. (cnnindonesia.com).

Baca juga  RUU PKS Bukan Solusi Kekerasan Seksual

Sudah lazim diketahui bahwa sistem kapitalis telah menempatkan ekonomi di atas segalanya. Tidak peduli apakah situasi sedang terjangkit wabah atau tidak. Karena itulah penguasa negeri ini terus menggenjot perekonomian negeri. Membiarkan rakyat beraktivitas seperti biasa hanya dengan himbauan agar menjaga protokol kesehatan. Ditambah dengan kebijakan-kebijakan percepatan penanggulangan wabah yang membingungkan masyarakat. Misalnya saja, mudik dilarang tapi berkunjung ke tempat wisata dibuka seluas-luasnya. Maka dengan kondisi seperti ini, tidak menutup kemungkinan gelombang baru pandemi Covid-19 bisa saja menghampiri negeri ini.

Mari kita belajar bagaimana penanganan pandemi dalam Islam. Penanggulangan wabah dalam waktu yang relatif singkat ini ditopang oleh 2 tujuan pokok. Pertama, menjamin terpeliharanya kehidupan normal di luar area terjangkit wabah. Kedua, memutus rantai penularan secara efektif yakni secepatnya, sehingga setiap orang tercegah dari bahaya infeksi dan keadaan yang menghantarkan pada kematian.

Dua tujuan pokok tersebut tercermin dalam 5 prinsip penangan wabah dalam pandangan Islam :

  1. Penguncian area wabah atau lock down syari’i
    Khalifah berupaya maksimal menutup wilayah sumber penyakit, sehingga penyakit tidak meluas. Sementara itu, daerah yang tidak terinfeksi dapat menjalankan aktivitas sosial ekonomi mereka secara normal tanpa takut tertular. Rasulullah saw. bersabda, “Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid). Sedangkan bagi masyarakat di daerah wabah, Khalifah akan menjamin seluruh kebutuhan pokok mereka. Hal ini karena masyarakat di daerah wabah tidak mampu menjalankan roda ekonomi sehingga pemenuhan kebutuhannya harus diberikan oleh negara.
  2. Pengisolasian yang sakit. Pemimpin dalam sistem Islam Khilafah akan memisahkan orang sehat dari orang sakit. Tes massal dapat dilakukan secara gratis bagi warganya untuk mengetahui siapa yang terinfeksi dan siapa yang sehat. Bagi mereka yang terinfeksi, negara melacak siapa saja yang telah berdekatan dengannya, kemudian mengurus pengobatan mereka hingga sembuh. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah memerintahkan untuk memisahkan antara orang yang sehat dari yang sakit sebagaimana sabda beliau, “Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit.”
  3. Pengobatan bagi yang terinfeksi hingga sembuh walaupun tanpa gejala. Upaya kuratif yang dilakukan sebagaimana disarankan oleh Rasulullah Muhammad saw. adalah berobat. Hal ini dijelaskan dalam hadits, “Allah tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya,’ (HR Ahmad). Di samping itu, kesehatan adalah kebutuhan pokok yang dijamin negara, setiap orang diberikan kemudahan untuk mengakses dan mendapatkan pelayanan kesehatan bebas biaya.
  4. Social distancing, yakni orang yang sehat di area wabah hendaknya menghindari kerumunan. Hal ini sebagaimana masukan sahabat Amru bin Ash yang dibenarkan Khalifah Umar bin Khattab sebab kuman ibarat api. Kuman yang penularannya antar manusia akan menjadikan kerumunan manusia sebagai sarana penularan begitu juga sebaliknya.
  5. Penguatan imunitas atau daya tahan tubuh. Mereka yang sehat tetapi berada di area wabah lebih berisiko terinfeksi. Karenanya Khalifah mendukung penuh dengan menyediakan dana yang cukup untuk melakukan riset terhadap vaksin dan pendistribusiannya di tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana yang diketahui bahwa Kekhilafahan Turki Usmani adalah promotor vaksinasi.
Baca juga  MENERKA PERAN IBU DI MASA PANDEMI
Baca juga  Sahkan UU Tapera Saat Pandemi, Untuk Siapa?

Pelaksanaan ke lima prinsip ini akan menutup rapat semua ruang dan celah untuk terjadinya imported cases atau transmisi lokal. Namun hal ini bisa terwujud jika didukung sepenuhnya oleh penerapan syariat Islam kaffah termasuk dalam hal kesehatannya. Dan tentu saja tak ada yang bisa mengatasi wabah tanpa pertolongan Allah SWT. (*)