Tren Bulliying, Buah Penerapan Sistem Pendidikan Sekuler


Oleh : Rubiah Lenrang
Profesi : Praktisi Kesehatan

Dua bulan terakhir, yakni Januari dan Pebruari 2020 berita yang menghebohkan selain virus corona adalah tren bulliying yang mewabah di kalangan pelajar. Kasusnya beragam mulai dari kekerasan verbal atau lisan seperti ejekan dan hinaan; tentu saja hal ini bukan tidak boleh diremehkan karena dapat berakibat buruk dan fatal pada korbannya. Bahkan sampai pada kekerasan fisik mulai dari ringan seperti mendorong, menampar, memukul hingga kekerasan yang berat seperti kehilangan organ tubuh. Serta yang paling menyedihkan adalah berita terakhir tentang ditemukannya jenazah pelajar yang dicurigai sebagai akibat bulliying.

Komisioner Komisi KPAI, Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra mengatakan sepanjang 2011 hingga 2019, KPAI mencatat 37.381 pengaduan mengenai anak. Terkait dengan kasus perundungan, baik di media sosial maupun di dunia pendidikan, laporannya mencapai 2.473 laporan. (nasional.republika.co.id, 10/2/2020).

Sementara itu, Retno Listyarti, Komisioner Komisi KPAI menegaskan kasus perundungan atau bulliying yang terus menerus terjadi ini karena adanya beberapa kesalahan. Selain sistem pendidikan berupa pengaduan di beberapa sekolah yang belum ada. Perhatian dan kepekaan orang tua kepada anak-anaknya juga tidak ada serta guru yang sibuk dengan administrasi sekolah.(tagar.id, 13/2/2020).

Bullying sering digambarkan sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau sekelompok orang yang memiliki kekuasaan, terhadap orang lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Tren bulliying di kalangan pelajar ini merupakan masalah yang serius dan harus diberikan perhatian lebih.

Baca juga  Di Era Rezim Ini, Koruptor Makin Berjaya

Namun, tidak cukup dengan menyelesaikan pada tingkat individu yaitu mendamaikan korban dan pelaku bulliying saja. Tetapi harus melihat akar masalah munculnya perilaku bulliying ini. Apalagi pelaku maupun korbannya adalah anak-anak kita, generasi penerus; salah satu penentu baik buruknya kehidupan umat.

Munculnya kasusnya ini tidak lepas dari sistem pendidikan yang berjalan di negeri ini. Mulai dari kurikulumnya, cara pandangnya terhadap manusia, dan penanaman nilai-nilai pembelajaran semuanya adalah sistem pendidikan sekuler, yakni memisahkan antara agama dari kehidupan. Pada satu sisi anak-anak diberikan pelajaran agama, namun keseluruhan sisi yang lain ternyata ajaran Islam tidak dijadikan sebagai landasan untuk menilai segala sesuatu. Sehingga ketika mereka melakukan tindakan seolah-seolah tidak lagi memiliki pegangan agama. Mereka tidak takut lagi dengan konsekuensi perbuatannya, apakah dosa atau bukan.

Akibatnya lahirlah anak-anak yang indivualistik, selalu mau menang sendiri, pemarah, dan tidak peduli dengan orang lain. Padahal Islam telah mengajarkan tentang persaudaraan yang penuh dengan kasih sayang. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 10 yang artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Penanaman nilai-nilai Islam harus diterapkan dalam semua aspek pendidikan sekolah, sehingga mereka tidak akan gampang merendahkan orang lain; seperti dengan cara mengeluarkan kata-kata hinaan, cemooh, apalagi tindakan kekerasan yang sangat berbahaya. Tidaklah seseorang yang membuli atau mengatakan kalimat buruk itu lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan korbannya, karena justru Allah menegaskan bahwa itu adalah hal yang buruk jikalau kita menghina, mencaci apalagi melakukan tindakan kezaliman kepada saudara kita. Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Hujurat: 11).

Baca juga  Mewujudkan Negara Mandiri Pangan

Demikianlah, mengintegrasikan akidah dan nilai-nilai Islam dalam kurikulum pendidikan adalah suatu keharusan yang mutlak dilakukan. Dukungan dan keteladanan para guru sebagai panutan, memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan kepribadian para pelajar. Memperhatikan kebutuhan anak didik, memecahkan masalah mereka, dan memotivasi mereka untuk selalu berjalan dalam koridor syariah.

Keluarga sebagai pendidik dan sekolah pertama anak harus menciptakan suasana yang yang nyaman untuk membentuk pribadi yang kuat. Mendidik mereka sejak sebelum lahir, saat balita hingga dewasa, orang tuanya telah membiasakan putra-putrinya yang masih kecil untuk mempelajari Al Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengontrol tayangan media yang berbau kekerasan dan menyibukkan anak-anak mereka dalam kegiatan ketaatan kepada Allah. Namun saat ini, kebanyakan orang tua menyerahkan pedidikan anak-anaknya sepenuhnya kepada sekolah. Mereka lupa bahwa suatu saat nanti amanah ini akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.

Baca juga  Makin Liberal Dan Pro Asing, Ekonomi Makin Hancur

Demikian pula, penjagaan negara lewat media memiliki andil yang besar dalam menurunkan bahkan mencegah bulliying. Negara seharusnya melarang semua konten media yang merusak, baik dalam buku, majalah, surat kabar, media elektronik, dan virtual. Sebagai perisai umat, negara berkewajiban menutup semua pintu-pintu kemaksiatan.

Tentu kita tidak bisa berharap jika sekulerisme masih menjadi pijakan dalam melahirkan kebijakan. Karena jangankan membentuk kepribadan Islam apalagi menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara, negara justru menakut-nakuti remaja dan orang tua mereka dengan ide radikalisme, bahkan merangkul mereka untuk melawan radikalisme di sekolah dan di tengah masyarakat. Tapi tidak membangun kepedulian untuk mencegah tawuran, pergaulan bebas, dan kekerasan serta bullying.

Mari kita berikhtiar untuk menghindarakan anak dan generasi dari bullying baik sebagai pelaku maupun korban dengan menjadi muslim yang baik dan melakukan dakwah di tengah-tengah masyarakat. Kita sebagai sesama muslim dan sesama manusia haruslah menjaga dan menebar kasih sayang pada semua, bukan justru berbuat zalim sesama manusia. Seperti hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Muslim adalah orang yang menyelamatkan semua orang muslim dari lisan dan tangannya. Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah”. (HR. Bukhari no. 10). Wallahu a’lam bi ash-shawâb.


OPINI