Transpolitan 4.0, Inovasi Revitalisasi Kawasan Transmigrasi


SULBAR99NEWS.COM-JAKARTA, Direktur Perencanaan Perwujudan Kawasan Transmigrasi Direktorat Jenderal (Ditjen) Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi (PPKTrans) Bambang Widyatmiko jadi Narasumber dalam Ngobrol Pintar Akademi Desa, Selasa (16/11/21).

Bambang berbicara seputar Revitalisasi Kawasan Transmigrasi Melalui Inovasi Transpolitan 4.0.

Bambang menuturkan, selama ini orang mengenal transmigrasi sebagai perpindahan penduduk dari yang padat ke kurang padat penduduknya. Semangat perspektif dulu adalah pemindahan penduduk. Pemindahan untuk menuju pusat industri di luar Jawa.

“Perubahan perspektif menjadi membangun wilayah utamanya lokasi-lokasi transmigrasi. Tahun 2006-2009 ada konsep Kota Terpadu Mandiri, cikal bakal dari pembangunan transmigrasi berbasis kawasan,” kata Bambang.

Saat ini, kata Bambang, pembangunannya berbasis kawasan dicanangkan menjadi pusat-pusat perekonomian wilayah. Ada 619 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.

Baca juga  Gus Menteri Tertarik Bakso Ikan Tuna Karya BUMDes Desa Bababulo Utara Majene

“Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi sudah menetapkan 152 Kawasan Transmigrasi perlu direvitalisasi sesuai amanat RPJMN 2020-2024,” kata Bambang.

Bambang memaparkan, pengembangan kawasan bisa mencapai 30 tahun jika dilakukan dengan cara yang biasa. Olehnya, perlu ada terobosan-terobosan untuk mempercepat proses revitalisasi. Mekanisme revitalisasi yang dikerjakan dengan melakukan inovasi-inovasi, salah satunya adalah Transpolitan 4.0.

Transpolitan 4.0 bakal menjadikan smart-transmigration city agar transmigrasi tidak ketinggalan jaman dan tidak bisa dilakukan sendiri.

Proses revitalisasi kawasan transmigrasi menganut prinsip kolaborasi pentahelix yaitu kerjasama berbagai pihak meliputi Pemerintah, Swasta, Masyarakat, Perguruan Tinggi dan Media.

“Pentahelix inilah dilakukan di Kawasan transmigrasi, dimana salah satu pilot project adalah Kawasan Mutiara, Kabupaten Muna sebagai mimpi dan visi dari revitalisasi transmigrasi dengan prinsip transpolitan 4.0,” kata Bambang.

Baca juga  Polri Periksa 10 Saksi Terkait Kerumunan FPI di Bogor. Ini Namanya

Basis Transpolitan 4.0 adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul seperti cerdas berkualitas dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkini.

Transpolitan 4.0 dimulai dari tahap pemilihan calon transmigrant yang berasal dari kalangan milenial dan pelatihan mengikuti perkembangan jaman. Model Transmigrasi ini tidak mengandalkan lahan saja dan pemindahan orang dengan skala yang besar yang membutuhkan anggaran yang besar.

“Harus membangun pusat-pusat baru agar menarik hati calon transmigran sehingga mau untuk pindah ke kawasan transmigrasi,” kata Bambang.

Selain itu, harus juga dilakukan pelatihan untuk tingkatkan kapasitas SDM. Bambang Mencontohkan salah satu tema pelatihan bagi para calon transmigran adalah tentang teknologi dan perangkat pengetahuan yang diperlukan untuk mendukung transpolitan 4.0.

Baca juga  Inna Lillahi, Putri Bung Karno Rachmawati Soekarno Putri Dikabarkan Meninggal

“Modul bagi Transmigrasn ini dikerjasamakan dengan UGM dan proses pengiriman dengan pesawat terbang,” kata Bambang.

Ada beberapa kriteria agar suatu kawasan dikembangkan dengan model transpolitan 4.0. Model ini mengedepankan prinsip efisiensi. Salah satunya adalah penempatan bukan berbasis lahan, artinya luasan lahan yang didapat mungkin kurang dari 2 hektare. Namun, dipastikan tetap bisa sejahtera dengan luasan lahan yang lebih kecil.

Efisiensi anggaran negara dengan cara memangkas durasi perencanaan kawasan transmigrasi, masih dalam koridor peraturan yang berlaku. Dimulai dari lahan, RKT dan rencana teknis dengan waktu yang panjang untuk dibangun.

“Ada efisiensi dalam perencanaan termasuk kriteria dalam transpolitan,” kata Bambang. (ih)