Tradisi Nyalakan Palla-pallang Hampir Punah


PALLA-PALLANG. Tradisi menyalakan Palla-pallang malam menjelang lebaran sudah mulai jarang ditemukan di Majene. (Foto : Idham)

SULBAR99.COM-MAJENE-Bagi Masyarakat Majene, semua pasti mengenal Palla-pallang. Sejenis Lilin tradisional yang terbuat dari buah Punaga yang dikeringkan. Tradisi menyalakan Palla-pallang merupakan tradisi yang sudah turun temurun dilaksanakan masyarakat khususnya malam menjelang lebaran hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Abah Dihan, salah seorang masyarakat yang telah berumur di atas 70 tahun mengatakan, tradisi menyalakan Palla-pallang sudah ada sejak jaman dahulu kala. “Kalau sudah shalat magrib menjelang Lebaran besoknya, anak-anak sangat senang membakar Palla-pallang. Palla-pallang ini setelah dinyalakan, diletakkan di bawah kolong rumah atau dipasang berjejer di atas tangga dengan bantuan pelepah pisang,” Ujar Abah Dihan yang ditemui dirumahnya, Sabtu (10/8/2019).

Baca juga  Gadis di Atas Kuda Menari Diantara Ribuan Warga Majene

Lebih jauh Lelaki tua tersebut mengatakan, Palla-pallang ini terbuat dari buah punaga yang telah dikeringkan. “Buah Punaga yang besarnya seperti buah kemiri diambil isinya. Setelah itu dikeringkan. Setelah kering kemudian ditumbuk hingga halus,” Ujarnya. Dirinya menambahkan, setelah dihaluskan, kemudian dipasang atau ditempelkan pada lidi sepanjang 25 cm yang terbuat dari bambu.

Baca juga  Keris Usia 700 Tahun Hiasan Emas Dipamer di Assamalewuang

Tidak susah menemukan lilin tradisional ini. Sejumlah pedagang keliling memanfaatkan momen lebaran dengan menjual Palla-pallang tersebut di sepanjang jalan. Bahkan di pasar sentral Majene pun banyak ditemukan Lilin tradisional ini. “Meskipun banyak dijual, tapi masyarakat sangat jarang membeli.

Baca juga  Sejumlah Tempat Wisata di Majene Belum Kantongi Izin Pariwisata

Berdasarkan pantauan Sulbar99 pada lebaran lalu, pada umumnya, wilayah yang masih melaksanakan tradisi nyalakan palla-pallang ini berada jauh dari pusat perkotaan seperti di lingkungan Teppo, Camba Utara dan sekitarnya.

Olehnya itu, Abah Dihan berharap gar para pecinta budaya tradisional untuk berbuat  sesuatu agar tradisi nyalakan palla-pallang menjelang lebaran tidak punah yang mengkibatkan anak cucu kita tidak mengerti kalau ternyata di Mandar ada sejenis lilin tradisional. (IH)


KEBUDAYAAN