Toleransi Semu Natal dan Tahun Baru


Oleh: Ulfiah

Tak terasa bulan Desember 2020 akan segera berlalu memasuki tahun yang baru. Natal dan tahun baru akan menghiasi penghujung tahun, yang merupakan perayaan ummat Kristen. Namun, banyak umat muslim yang ikut sertaymengucapkan selamat natal, membantu memfasilitasi perayaan natal, bahkan ikut menghadirinya, sebagai sikap dan bukti toleransi.

Islam dan Toleransi

Islam sebagai agama yang sempurna datang dengan seperangkat aturan-Nya, mulai dari kita bangun tidur sampai bangun negara semua diatur oleh Islam, termasuk juga toleransi.

Dalam Islam toleransi bermakna membiarkan umat lain menjalankan ritual agamanya, termasuk perayaan agamanya, tanpa kita mengusiknya atau ikut terlibat didalamnya. Dalam hal ini ikut merayakan atau pun hanya sekadar mengucapkan selamat. Sebab, jika seorang muslim melakukan kedua hal tersebut, sama saja rida atas kayakinan mereka. Bahkan bisa dikatakan termasuk dari golongan mereka.

Sebagaimana dalam hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:
“Bukan termasuk golongan kami siapa Yang menyerupai kaum selain kami, jangan kalian menyerupai Yahudi juga Nasrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya. (HR. Tirmidzi Hasan)

Ironisnya kebanyakan masyarakat muslim menganggap hal tersebut sebagai sikap dan bukti toleransi. Sebagaimana pernah ditawarkan oleh kafir Quraisy pada Nabi Saw dimasa silam. Imam asy syakauni dalam tafsir fath al-Qadir menyatakan Abdul ibnu humaid, Ibnu Al- Mundzir dan mardawaih telah mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa orang Quraisy pernah berkata kepada Rasulullah Saw, “andai engkau menerima tuhan-tuhan kami niscaya kami menyembah tuhanmu, menjawab itu Allah SWT menurunkan Firman-Nya, yakni surat al- Kafirun hingga ayat terakhir:

Baca juga  Makelarman, Bikin Hidup Lu Kelar Man

“Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (TQS. Al- Kafirun [109] : 6)

Inilah bentuk toleransi kaum Quraisy terhadap ajaran Islam, namun Rasulullah Saw tegas tidak mau berkompromi untuk melakukan toleransi dalam bentuk menfasilitasi apatah lagi mengamalkan ajaran agama lain.

Hukum Terlibat dalam Perayaan Natal Dan Tahun Baru

Natal dan tahun baru sudah jelas merupakan budaya dan milik kaum Kristen. Meskipun kita kaum muslimin mengakui Nabi Isa tapi tak dibenarkan untuk kita mengakuinya sebagai tuhan, sebagaimana keyakinan mereka. Bukan sekadar tak dibenarkan tapi juga haram alias mutlak tidak bolehnya. Sedangkan mereka menganggap bahwa perayaan natal itu untuk memperingati kelahiran anak tuhan dan tuhan anak.

Dengan demikian kaum muslim dilarang bahkan diharamkan untuk ikut serta dalam perayaan Natal tersebut. Sebab, itu terkait dengan akidah mereka. Sebagaimana Imam Malik menyatakan, “Kaum muslim dilarang untuk merayakan hari raya kaum musyrik atau kafir, atau memberi sesuatu hadiah kepada mereka, menjual sesuatu kepada mereka, atau naik kendaraan mereka yang digunakan untuk hari rayanya.” (Ibnu Taimiyah, iqthidah’ ash shirath Al- Mustaqim, hlm. 201)

Baca juga  Opini : Muhasabah di Penghujung Tahun

MUI juga mengeluarkan fatwa melarang umat Islam untuk menghadiri perayaan natal bersama.

Dari sini jelas ummat Islam haram terlibat dalam peribadatan pemeluk agama lain. Umat Islam juga haram merayakan hari raya agama lain. Bagaimanapun bentuknya, karena mereka menganggap perayaan tersebut untuk memperingati kelahiran anak tuhan dan tuhan anak, dengan kata lain itu adalah perayaan kesyirikan (menyekutukan agama Allah SWT).

Bukti Toleransi Islam

Toleransi dalam Islam itu bukan menggabungkan diri dalam ibadah agama lain. Karena Islam itu dari awal dijelaskan bahwa agama yang sempurna dengan seperangkat aturan-Nya. Jadi ketika dikatakan sempurna maka jelaslah bahwa Islam itu adil, termasuk sikap toleransi terhadap agama lain.
Salah satu bukti toleransi Islam yaitu:

Pertama, ajaran berbuat baik terhadap non muslim sebagaimana halnya berbuat baik terhadap sesama muslim. Hal ini berkaitan dengan perkara diluar masalah akidah atau agama, Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah tidak melarang kalian berbuat kepada non muslim, yang tidak memerangi kalian, seperti berbuat baik kepada wanita, dan orang yang lemah diantara mereka, hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang-orang yang adil. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 9:489)

Baca juga  Pemotongan Tunjangan Menambah Derita Para Guru

Kedua, menjalin hubungan kerabat orang tua ataupun saudara meskipun non muslim sebagaimana dalam Firman-Nya:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu, tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya didunia dengan baik. (QS, luqman:15)

Ketiga, adil dalam hukum dan peradilan terhadap non muslim. Sebagaimana Umar bin Khattab ketika membebaskan dan menaklukan Yerussalem, Palestina. Beliau menjamin warganya agar tetap bebas, memeluk agama dan membawa salib mereka. Umar tidak memaksa mereka memeluk islam dan menghalangi mereka untuk beribadah, asalkan merekat tetap membayar pajak kepada pemerintah muslim.

Umar bin Khattab juga memberikan dan memberikan hak-hak hukum dan perlindungan kepada penduduk Yerusalem walaupun mereka non muslim.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik, dan berlaku adil, terhadap orang yg tiada memeragimu karena agama, dan tidak pula mengusir kamu dari negeri mu, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al-mumtahah:8)

Dengan demikian, toleransi dalam Islam itu hanya sebatas membiarkan, bukan ikut mengucapkan selamat apalagi merayakannya. Dan, terwujudnya toleransi hakiki dalam Islam hanya akan terwujud manakala Islam dijadikan sebagai aturan hidup.
Wallahu a’lam.


OPINI