Tipu-tipu Rezim Demokrasi untuk Klaim Keberhasilan Penanganan Pandemi


Oleh : Hamzinah (Pemerhati Opini Medsos)

Saat kinerja Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto dalam menangani Pandemi dipertanyakan publik di Indonesia, Badan Kesehatan Dunia (WHO) malah memuji dan menganggap sukses. WHO mengundang Menkes dalam konferensi virtual soal penanganan virus Covid-19. Terawan menjadi representasi pemerintah Indonesia soal penanganan virus covid-19 yang dinyatakan sukses dalam melaksanakan Intra Action Review (IAR) nasional covid-19. IAR merupakan kegiatan perencanaan Indonesia dalam menanggulangi pandemi Covid-19.

Sekjen Kemenkes, Oscar Primadi mengatakan “WHO secara khusus mengundang bapak Menteri Kesehatan, Bersama Dirjen WHO Tedros untuk sharing dan memberikan informasi bagaimana Indonesia mampu mengendalikan pandemi ini dengan baik. Kata Oscar (kemenkes.go.id).

Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, M. Budi Hidayat mengungkapkan alasan WHO memandang Indonesia berhasil menangani pandemi ini, “Iya dinilai bagus WHO, Alhamdullillah. Ini karena Indonesia dianggap mampu membuat angka positif landai dan juga angka sembuh meningkat”. (CNNIndonesia.com)

Pihak WHO kemudian mengklarifikasi bahwa ucapan sukses itu spesifik merujuk pada program IAR saja. Itu artinya mereka telah menyelesaikan IAR dan dapat menerapkan pelajaran yang dipelajari. Tak hanya merespon pandemi terkini tetapi untuk memperkuat sistem-sistem mereka untuk bersiap lebih baik dalam darurat dimasa depan. (Liputan6.com)

Jadi sebenarnya itu bukan pujian terhadap keberhasilan penanganan covid-19 akan tetapi keberhasilan kepada IAR. Epidemiolog dari Griffith University di Australia, Dicky Budiman menjelaskan kegiatan IAR adalah mekanisme monitoring evaluasi terkait salah satu pilar dalam pengaturan Kesehatan Internasional hasil revisi pada 2005. Tujuannya agar setiap negara bisa mawas diri terhadap capaian dan kekurangan dalam pengendalian pandeminya. Dalam IAR covid-19 Indonesia misalnya akan terlihat mana yang sudah diimplementasikan, mana yang butuh pengembangan, dan mana yang sama sekali yang belum diimplementasikan Indonesia. (Kompas.com).

Baca juga  Revolusi Akhlak, Revolusi Pemikiran, Hingga Revolusi Sistem

Sistem Sekuler Kapitalis Gagal Menangani Pandemi
Tak bisa dipungkiri bahwa dalam mengatasi pandemi covid-19 sejak awal negeri ini berkiblat pada negara adidaya Amerika atas nama Gerakan Penanggulangan Pandemi Global, padahal nyatanya negara adidaya dengan sistem kapitalisme yang dianutnya telah gagal merespon dalam melakukan intervensi pemutusan rantai penularan secara efektif. Kegagalan itu tidak dapat dipisahkan dari sistem kapitalisme itu sendiri. Khususnya sistem ekonomi kapitalisme, sistem politik demokrasi, dan sistem Kesehatan yang terbentuk darinya, karena ia tidak kompetibel dengan upaya penanggulangan pandemi yang efektif. Seperti intervensi lockdown sistem ekonomi kapitalisme benar-benar rapuh sehingga gagal menjalankan dengan baik.

Sebagian negara memang tidak menerapkan kebijakan lockdown ini dengan alasan ekonomi termasuk Indonesia. Kondisi ekonominya pun lebih baik namun ratusan juta jiwa dipertaruhkan kesehatan dan nyawanya. Puncak kegagalan respon sistem kehidupan sekulerisme kapitalisme ditandai dengan pengharusan penerapan kebijakan new normal oleh PBB ini berakibat fatal karena membawa dunia pada kondisi psikologis dan tindakan aksi menormalkan sesuatu yang nyata-nyata tidak normal. Di Indonesia kondisi yang dikhawatirkan ini sungguh nyata, pengidap positif covid-19 meningkat cepat diikuti tekanan hebat pada sistem pelayanan Kesehatan yang sejak awal juga sudah rapuh. Inilah bukti kegagalan sistem kapitalis sekuler yang diterapkan rezim yang berkuasa.

Islam Memberikan Solusi Mengatasi Pandemi
Solusi Islam dalam mengatasi wabah tidak bisa dilepaskan dari komprehensivitas ajaran Islam. Dalam Islam kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dia pimpin” (HR. Al-Bukhari).

Baca juga  Grasi Pelaku Pedofili Mengancam Generasi

Dalam Islam pemimpin harus benar-benar berupaya sekuat tenaga mencurahkan segala potensi yang ada, tampilnya seorang pemimpin dalam ikhtiar penyelesaian wabah merupakan bagian dari amanah Allah SWT yang akan dipertanggung jawabkan diakhirat. Islam mengajarkan bahwa nyawa manusia harus dinomorsatukan sebab diantara tujuan Syariah adalah menjaga jiwa. Rasulullah SAW bersabda “Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa haq”. (HR. An-Nasa’I dan At-Tarmidzi).

Dalam pandangan Islam nyawa manusia harus diutamakan melebihi ekonomi, pariwisata dan lainnya. Negara dan pemimpin harus memainkan peran paling penting dalam menangani wabah dalam rangka menjaga jiwa manusia. Berikut beberapa langkah yang dilakukan sistem Khilafah, yaitu Pertama, Menentukan tes dan tracing dengan cepat. Pemimpin harus dengan cepat melakukan tes dan tracing. Kelambanan dalam tes dan tracing berarti membiarkan masyarakat lebih banyak terkena wabah dan semakin banyak masyarakat yang meninggal. Begitu tes menunjukkan positif harus segera dilakukan tracing dalam dua pekan harus dipastikan dia kemana saja dan bertemu dengan siapa saja. Orang-orang yang berinteraksi harus segera dilakukan tes begitu seterusnya. Orang-orang yang terbukti positif harus segera diisolasi dan diobati.

Kedua, pusat wabah harus segera ditentukan dengan cepat dan menjaga secara ketat agar wabah tidak meluas. Saat wabah menyebar daerah yang terkena wabah harus segera diisolasi agar wabah tidak menyebar ketempat lain. Tidak ada yang boleh keluar masuk dari daerah tersebut agar proses penularan berantai dapat dihentikan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu”. (HR. Al-Bukhari).

Baca juga  Opini: E-Commerce Ancam UMKM, Benarkah?

Ketiga, Menjamin semua kebutuhan dasar masyarakat di daerah yang diisolasi. Saat negara melakukan isolasi atau karantina kebutuhan rakyat harus ditanggung oleh negara. Negara tidak boleh berlepas tangan. Jika negara tak mau mencukupi kebutuhan, rakyat pasti akan melanggar ketentuan isolasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Keempat, Marawat, mengobati dan melayani orang-orang yang sakit di daerah wabah. Masyarakat yang sakit harus segera diobati dengan pengobatan berkualitas karena berkaitan dengan nyawa manusia. Dalam kasus virus corona yang belum ada obatnya, daya tahan tubuh pasien harus diperkuat sehingga pasien dapat melewati masa-masa genting. Dengan hal ini prosentase kematian dapat diminimalkan

Kelima, Menjaga wilayah lain yang tidak terkena wabah untuk tetap produktif. Negara harus memiliki peta yang jelas mana daerah yang zona merah, kuning dan hijau. Pada daerah yang diisolasi seluruh aktivitas harus diminimalkan sampai batas serendah-rendahnya. Sedangkan daerah yang tidak terkena wabah, dijaga dan ditingkatkan produktivitasnya sehingga dapat menopang daerah lain yang terkena wabah.

Keenam, Memperkuat dan meningkatkan sistem Kesehatan yakni fasilitas, obat-obatan, SDM, dan lainnya. Serta mendorong para Ilmuwan untuk menemukan obat/vaksin dengan cepat. Demikianlah solusi islam terhadap penanganan wabah seperti virus corona ini. Jika ajaran Islam benar-benar diamalkan dalam lingkup negara Khilafah, Insya Allah dalam waktu singkat wabah akan segera berakhir. Wallahu a’lam bish-shawwab.