The Power Of Pemuda


Oleh : Wulandari

Jika kita mengamati kodisi pemuda akhir-akhir ini, kita akan sering menyaksikan pemuda hari ini semua serba sibuk, sibuk dengan tugas-tugas sekolah, teman, game, jalan-jalan, kondangan, rebahan, tontonan, bisnis online, sibuk dengan status galaunya dan lain-lain.

Jadi ketika ditanya masalah seputar keseharian, mereka fasih berbicara, lancar berbicara masalah pasangan temannya, nikahan temannya, berita artis-artis idola dan masih banyak lagi lainnya, namun ketika ditanyakan masalah seputar perkembangan, data, kondisi, ekonomi rakyat dan negara, perubahan kurikulim pendidikan, maraknya kasus aborsi, naiknya biaya perkuliahan, naiknya harga kebutuhan pokok, munculnya pajak baru, serbuan barang-barang impor masuk ke negara, sebab susahnya lapangan kerja, meningkatnya remaja-remaja yang stress, banyaknya pejabat yang korupsi, kondisi papua yang ingin berpisah dari NKRI mereka mayoritas tidak tau mau jawab apa.

Baca juga  Pendidikan Seks Usia Dini, Bagaimana Islam Memandang?

Dari kondisi di atas, terbaca bahwa pemuda hari ini telah di didik untuk berpikir parsial (setengah-setengah) alias tidak utuh, hanya di didik berpikir fokus sekolah, kerja tugas , main-main sama teman, bisnis, sholat, puasa saja dan lain-lain. Tidak usah pemuda itu mengurusi kondisi ekonomi negara, pejabat banyak yang korupsi, aborsi meningkat, pelecehan seksual dan pembunuhan marak, biaya sekolah dan kuliah tambah mahal, itu urusan orang tua, urusan negara.

Sehingga pemuda hari ini melek masalah-masalah kehidupan pribadi, kondangan dan sekitarnya saja tapi buta masalah kondisi ekonomi, sosial, politik, dan negara. Inilah tujuan dari para penjajah, yaitu membuat pemuda negeri ini buta mengenai kondisi rakyat dan bangsa, padahal yang akan mengalami manis pahitnya hidup di masa yang akan datang adalah generasi pemuda sendiri, jika pemuda masih saja tidak mau bangkit dan melek kondisi negara, politik dan ekonomi, maka siap-siap pemuda sendiri yang akan merasakannya.
Undang-undang omnibuslaw, peraturan minuman keras, barang impor, pergaulan bebas, liberalisme, feminisme, sekularisme, demokrasi, ekonomi riba, kasus aborsi, pejabat korup, peraturan sumber daya alam di kuasai asing, dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang zalim kepada rakyat dan berpotensi menghancurkan negara, ini semua merupakan bencana besar dan bahaya bagi negara, rakyat dan pemuda itu sendiri di hari ini dan masa yang akan datang.

Baca juga  Opini: Pandemi Belum Usai, Gelombang Ketiga Sudah Menanti

Oleh karena itu dalam pandangan Islam, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat. Semua jenis ilmu silahkan di fahami dan kuasai : fisika, biologi, matematika, sosial, menjahit, mesin, khususnya ilmu agama : pandangan Islam dalam ibadah, pandangan islam dalam berekonomi, bermasyarakat, berpendidikan, berpolitik, bernegara, pahami, kuasai, amalkan dan dakwahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh sebab itu Islam menuntut umat khususnya pemuda untuk membangkitkan dan mengutuhkan cara berpikirnya jika ingin hidup mulia, dan utuhnya cara berpikir bisa di dapatkan dalam pedoman yang utuh yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, karena di dalam Islam sudah sempurna di bahas mulai dari masalah individu, masyarakat dan bernegara dibahas utuh dalam Islam.

Baca juga  Seruan Kosong

Semoga kita semua bisa menjadi pemuda yang memiliki cara berpikir yang utuh (dunia akhirat), kuat dan berani dalam membela agama, rakyat dan negara. Aamiin
Allahu a’lam bissawab