Terbaik terbaik

Dibaca : 27 kali.

Tes Covid : Menanti Tanggung Jawab Penuh Negara


Oleh: Salma

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Sulawesi Barat)

Bagai oase di padang pasir. Pemerintah akan memberlakukan deteksi covid dengan alat GeNose di tengah-tengah kecemasan masyarakat Indonesia yang kian membuncah. Berdasarkan data yang dirilis oleh KOMPAS.com, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menginginkan alat pendeteksi Covid-19, Gajah Mada Electric Nose Covid-19 atau GeNose C19 digunakan secara massal.

Ia bahkan berencana untuk menggunakan alat buatan dalam negeri itu di berbagai fasilitas umum, mulai dari ruang lingkup administrasi masyarakat setingkat RT hingga fasilitas transportasi umum.

Dilansir dari Merdeka.com, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengatakan bahwa implementasi alat pendeteksi Covid-19, GeNose, akan dimulai di stasiun-stasiun kereta pada 5 Februari 2021. Hal ini tentu membawa angin segar bagi masyarakat Indonesia yang kian cemas dengan peningkatan kasus covid yang terus terjadi. Terlebih pada masyarakat yang melakukan
perjalanan menggunakan transportasi umum.

Di tengah kondisi ekonomi yang kian mencekik, masyarakat tentu sangat berharap tes GeNose
bisa diberikan secara gratis untuk semua kalangan secara merata. Sayangnya, dalam sistem sekuler pemerintah hanya berperan menjanjikan harga tes yang lebih murah. Hal ini terbukti dari Menko Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, yang berharap biaya tes GeNose per
orang tidak lebih dari Rp20.000. Selain tes yang tidak diberikan secara gratis, produksi GeNose secara massal ternyata masih terkendala kapasitas.

Baca juga  Revolusi Akhlak, Revolusi Pemikiran, Hingga Revolusi Sistem

Dilansir dari Merdeka.com Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Kementerian
Kesehatan telah menyetujui GeNose, alat pendeteksi Covid-19 buatan Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun untuk produksi secara massal masih terkendala kapasitas. Budi mengatakan,
telah menyampaikan kepada PT Bio Farma untuk mencarikan jalan keluar. “Saya juga bilang
teman-teman di Bio Farma masalahnya adalah pada saat sudah diapprove mau produksi karena
ini proyek perguruan tinggi tidak ada kapasitas produksinya,” kata Budi.

Lagi-lagi kekurangan supply dihadapi dengan alasan kendala produksi. Produksi yang terbatas ini tentu lebih berpihak pada masyarakat yang beruang. Tak dapat dipungkiri adanya kepentingan ekonomi yang tidak bisa dilepaskan saat negara bertransaksi dengan rakyat.

Baca juga  Potensi untuk Menjadi Khaira Ummah

Berdasarkan data yang dirilis oleh detiknews Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menilai apa yang diungkapkan Ribka Tjiptaning selaku anggota Komisi IX DPR RI merupakan kritik terhadap komersialisasi
kesehatan. Hasto menilai pelayanan kesehatan penting untuk masyarakat tanpa pandang bulu.
“Mbak Ribka Tjiptaning menegaskan agar negara tidak boleh berbisnis dengan rakyat. Jangan
sampai pelayanan kepada rakyat, seperti yang tampak dari pelayanan PCR, di dalam praktik
dibeda-bedakan.

Bagi yang bersedia membayar tinggi, hasil PCR cepat, sedangkan bagi rakyat kecil sering kali harus menunggu 3-10 hari, hasil PCR baru keluar. Komersialisasi pelayanan inilah yang dikritik oleh Ribka Tjiptaning. Sebab, pelayanan kesehatan untuk semua, dan harus kedepankan rasa kemanusiaan dan keadilan,” ujarnya.

Baca juga  PENGHINAAN TERHADAP NABI MUHAMMAD SAW KEMBALI TERJADI, KAUM MUSLIM BUTUH KHILAFAH

Sudah menjadi rahasia umum bukan perspektif riayah yang menjadi tujuan pemerintah. Hal ini
sangat berbeda dengan pemerintahan di bawah naungan Islam. Will Durant dalam The Story of
Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai
rumah sakit yang layak, sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya, Bimaristan yang
dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam
merawat orang-orang sakit, tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan
berkata, bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

Keberhasilan peradaban Islam ini disebabkan paradigma yang benar tentang kesehatan. Nabi
shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung
jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi, penguasa adalah pemimpin dan bertanggung
jawab atas rakyatnya.” (Bukhari dan Muslim)
Inilah bukti sistem Islam yang memanusiakan manusia yang telah tercatat dalam sejarah panjang khilafah islamiyah.

Wallahu a’lam bi ash showwab