Terpilih Dua Kali?



Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban)

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarno Putri mengatakan pemimpin yang dicintai Rakyat pasti terpilih dua kali dan ia tak perlu menggunakan segala cara untuk terpilih lagi.

Megawati Soekarnoputri berharap calon kepala daerrah yang direkomendasikannya dapat terpilih dua kali. Menurutnya, hal tersebut berarti membuktikan bahwa mereka dicintai masyarakat. “Maunya semua pemimpin yang saya pilih dicintai oleh rakyatnya. Pasti, pasti,” kata Megawati Soekarnoputri saat mengumumkan calon kepada daerah PDIP di Pilkada, Selasa (11/8).

Karena itu, dia meminta kepala daerah yang telah mendapatkan rekomendasi untuk mengikuti sekolah partai dengan baik. Sekolah tersebut mengajarkan para calon kepala daerah seni seni memimpin birokrasi, mengerti aspek perencanaan kebijakan. Yang nantinya akan melahirkan kepemimpinan yang efektif.

Dia juga berpesan agar para pasangan calon kepala daerah itu bekerja sama jika terpilih nantinya. Dia mengingatkan agar jangan sampai kedua kepala daerah terpilih nantinya tidak bisa bekerja dengan solid. PDIP kembali memberikan rekomendasi kepada 75 calon kepala daerah guna mengikuti pilkada serentak pada Desember 2020 nanti. Diantara rekomendasi yang diberikan kali ini adalah menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution, untuk mengikuti Pilkada kota Medan (Republika.co.id,11/8/2020)

Di dalam sistem Demokrasi hari ini sulit dikatakan bahwa seorang pemimpin bisa terpilih 2 kali karena dicintai rakyatnya. Rasanya perlu penggalian bukti yang lebih mendalam lagi. Mengingat sistem pemilihannya baik skala pilpres, pilkada atau pilgub sangat berbeda dari Islam. Rumit, birokrasi terlalu panjang dan juga berbiaya mahal.

Baca juga  Realokasi TPG Untuk Covid, Solusikah ?

Sudah menjadi rahasia umum jika satu orang maju mencalonkan diri maka dia harus siap dana yang fantastis di luar kebutuhan dia sehari-hari. Semua demi sebuah kemenangan. Tak heran, setiap kali usai pesta rakyat rumah sakit jiwa selalu siap sedia menerima pasien yang gagal. Belum lagi yang bunuh diri, begitu beratnya beban yang mereka tanggung hingga tak lagi sayang nyawa, bahkan akal sudah tak waras.

Itu dari sisi teknis, bagaimana dari sisi manusia yang mencalonkannya? Lebih parah lagi. Lazimnya seorang pemimpin adalah perwakilan rakyat terbaik dari yang terbaik, namun demokrasi, lagi-lagi membolehkan seorang pesakitan, koruptor, residivis, bahkan penyimpangan seksual menjadi pemimpin. Sebab bukan kepribadiannya atau kapabilitasnya yang menjadi syarat, melainkan seberapa luas jaringan koneksi yang ia miliki, seberapa kuat trah dinastinya dan seberapa besar modal yang ia miliki. Entah uang sendiri, hasil utang, titipan, ataupun korupsi.

Banyak kasus yang sudah diberitakan media, menjebloskan pasangan suami istri pejabat yang korupsi untuk biaya kampanye dan lain-lain. Jabatan hanya wasilah untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Baca juga  Uji Coba Vaksin, Jangan Hanya Soal Ekonomi

Dukungan rakyat? Memang, seseorang menjadi pemimpin ketika dia mendapatkan suara terbanyak. Hingga muncul sistem perhitungan melalui proses Quick Count guna mendapatkan hasil yang akurat dan cepat, saking pentingnya perolehan angka yang menunjukkan ada tldi mana suaranya. Namun rakyat hanya sebatas memberikan suara, kenalpun ala kadarnya, pada saat wakil mereka terpilih dan mendapati kekecewaan sebab tak sesuai harapan, rakyat hanya diberi janji periode depan bisa dipilih kembali pemimpin yang lebih baik.

Mudah mengatakan, namun berapa negara harus mengeluarkan dana setiap kali pemilihan? Anggaran itu didapat dari APBN negara, dari pajak yang dibayar rakyat kepada negara, bukankah sebenarnya rakyat ditipu berkali-kali? Sudahlah jatuh tertimpa tangga pula, peribahasa itulah yang kiranya paling tepat untuk mewakili keadaan rakyat.

Dari Auf ibn Malik, berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian.”

“Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga yang kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian. Lalu, Auf berkata: “Ya Rasulullah, bolehkah kita memberontak kepada mereka?” Rasulullah SAW bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah kalian.” (HR Muslim).

Baca juga  The Power Of Pemuda

Salah satu indikasi seorang pemimpin itu dicintai oleh rakyatnya adalah yang dapat mengayomi rakyatnya, melayani, menyayangi, membela, dan tidak berbuat zalim kepada rakyat. “Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi (teraniaya), karena doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

So, akankah itu muncul dalam sistem yang ambigu seperti hari ini, dimana pemerintah yang buat aturan namun pemerintah jugalah yang melanggar? Islam tak hanya agama yang mengatur cara beribadah pemeluknya, tapi juga pedoman bagi seluruh manusia, terutama bagi pemimpin, sebab intinya dalam Islam semua orang adalah pemimpin setidaknya untuk dirinya sendiri. Maka, mutlak mereka haruslah taat dan patuh kepada Islam yang hadir untuk mengaturnya.

Diantara yang sangat diperlukan oleh pemimpin dalam Islam adalah takwa. Dengan berbekal takwa maka amanah akan dijalankan dengan baik. Dan kesejahteraan akan terwujud. Mungkin tak perlu banyak bukti, kita lihat saja bagaimana sejarah mencatat sepak terjang Khulafaur Rosyidin. Wallahu a’ lam bish showab.(***)


OPINI