Terkait Pasien Demam Berdarah, Kadinkes Majene Belum Terima Laporan dari RS


Salah seorang pasien anak yang dirawat di RSUD Majene. (foto : dok)

SULBAR99-MAJENE, Meskipun musim penghujan di Majene tidak sesering daerah tetangganya seperti Polman dan Mamuju, namun sejumlah anak di Majene diduga terindikasi penyakit Demam berdarah (DBD).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, diduga terdapat enam sampai tujuh anak yang sedang dan telah dirawat di RSUD Majene terindikasi penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aides agepty tersebut. Bahkan, salah seorang anak yang tinggal di BTN Mutiara Adzalina Lembang diduga meninggal karena penyakit DBD.

Kepala dinas kesehatan Kabupaten Majene, Dr. Rakhmat Malik yang dikonfirmasi terkait kondisi tersebut mengaku belum mendapat laporan terkait adanya beberapa anak yang terindikasi DBD di RS.

“Kami belum ada laporan dari RS, biasanya kalau sudah positif berdasarkan hasil laboratorium, pasti sudah dilaporkan ke kami,” ujar Dr. Rakhmat yang dikonfirmasi via telepon, Minggu (29/12/2019).

Mantan direktur RS Majene itu menyebutkan, kemungkinan sejumlah anak yang dirawat di RS Majene masih gejala. Sebab DBD bisa dipastikan jika sudah melalui hasil pemeriksaan laboratorium.

DBD ini gejalanya hampir sama dengan penyakit demam lainnya yang disebabkan virus. “Sebenarnya masih bisa ditangani dengan banyak minum air putih,”ujar Dr. Rakhmat.

Terkait seorang pasien yang diduga meninggal karena DBD, Dr. Rakhmat menjelaskan bahwa pasien anak yang masih berusua tujuh tahun tersebut meninggal bukan karena DBD tapi ada penyakit kelainan otak inseklopati. “Kami sudah lakukan konfirmasi, anak ini meninggal bukan karena DBD tapi kemungkinan ada kelainan di kepala. Bahkan anak itu sempat masuk di ICU (Insentif Care Unit), ” ujar Dr. Rakhmat.

Baca juga  Gunakan Sebagian Gajinya, Rahmatullah Siapkan Rumah Solidaritas Pasien RS

Dikutip dari hitekspert.id, Penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) disebabkan oleh virus DBD yang menginfeksi manusia lewat gigitan Nyamuk DBD atau nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus ini adalah nyamuk betina yang sudah terinfeksi virus dengue. Setelah Nyamuk DBD menggigit manusia, virusnya akan masuk ke dalam darah dan mengalir ke seluruh tubuh, kemudian mulai menyebabkan infeksi pada sel-sel tubuh yang sehat.

Gejala Penyakit DBD biasanya terlihat kurang lebih 15 hari setelah gigitan nyamuk. Pasien Penyakit DBD harus dipantau dan diobati dengan tepat, karena penyakit ini bisa menjadi parah hingga ke tingkat yang dapat menyebabkan kematian.

Sejak gejala awal munculnya penyakit hingga masa penyembuhan, pasien Penyakit DBD akan melalui 3 fase penyakit. Fase Penyakit DBD disebut juga sebagai siklus pelana kuda, karena perkembangan fase-fase penyakit ini terlihat seperti pelana kuda. Fase-fase pada Penyakit DBD sebenarnya menggambarkan perkembangan penyakit dan kondisi tubuh yang sedang berjuang melawan virus dengue.

Perkembangan setiap fase pada Penyakit DBD penting untuk dipahami agar pasien Penyakit DBD bisa diobati secara optimal. Berikut adalah gejala yang harus diperhatikan pada setiap fase Penyakit DBD.

Baca juga  Ruang Perawatan Anak Terbatas, RSUD Majene Kewalahan Melayani Pasien

Fase Demam

Pada fase ini virus dari Nyamuk DBD mulai menginfeksi sel-sel tubuh dengan ditandai oleh demam tinggi yang biasanya lebih dari 40 derajat Celcius selama kurang lebih 2 – 7 hari. Pada fase ini, baiknya orang yang sakit DBD banyak minum air putih untuk membantu menurunkan demam dan mencegah dehidrasi. Jika demam cepat reda, kemungkinan Penyakit DBD-nya tidak begitu parah. Namun, baiknya orang tersebut tetap dipantau karena bisa jadi berubah menjadi fase kritis.

Gejala fase demam pada Penyakit DBD:

Demam tinggi hingga 40 derajat celcius
Muka kemerahan, kulit memerah Nyeri seluruh tubuh, Sakit kepala, Mual dan muntah, Infeksi tenggorokan, Sakit di sekitar bola mata.

Fase Kritis

Tidak seperti namanya yang seharusnya menunjukkan keadaan kritis, fase kritis pada Penyakit DBD dapat mengecoh karena demam akan turun drastis hingga ke suhu tubuh normal (sekitar 37 derajat Celcius). Tanda ini tentunya seperti menunjukkan bahwa pasien Penyakit DBD sudah sembuh dan bahkan ada yang sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Padahal jika fase ini diabaikan dan pengobatan malah dihentikan, kondisi pasien Penyakit DBD bisa berubah fatal, seperti gejalanya berikut ini.

Gejala fase kritis pada Penyakit DBD:

Suhu tubuh turun hingga 37 derajat celcius
Pasien merasa sudah sembuh, Berlangsung tidak lebih dari 38 jam, Penurunan trombosit tiba-tiba, Risiko kebocoran pembulu darah, ditandai dengan muntah terus menerus, mimisan, pembesaran organ hati, dan nyeri perut.

Baca juga  Kodim 1402/Polman Kembali Gelar Serbuan Vaksinasi Covid-19

Fase Penyembuhan

Setelah berhasil melewati fase kritis, pasien Penyakit DBD biasanya akan mengalami demam. Namun, demam ini sebenarnya adalah penanda kesembuhan. Tubuh yang demam juga sebagai penanda bahwa trombosit ikut naik perlahan ke level normal. Pada saat melakukan tes kesehatan, pasien Penyakit DBD dapat dikatakan sembuh jika trombosit dan sel darah putihnya kembali normal.

Gejala fase penyembuhan pada Penyakit DBD:

Penderita kembali merasakan demam
Trombosit perlahan naik dan normal
Cairan tubuh secara perlahan kembali normal setelah 48 – 72 jam, Nafsu makan mulai meningkat, Nyeri perut dan diuretic membaik, Sel darah putih dan trombosit kembali normal.

Penyakit DBD biasanya meningkat saat terjadinya pergantian musim, seperti pergantian musim hujan ke musim kemarau atau musim pancaroba. Untuk mencegah Penyakit DBD, kita harus memastikan rumah dan lingkungan sekitar bebas sarang Nyamuk DBD. Hal yang biasanya dilakukan adalah dengan melakukan gerakan 3M (Menguras penampungan air, Menutup tempat penampungan air, dan Mengubur barang bekas.)

Untuk mengusir nyamuk pada berbagai musim, pastikan Anda juga selalu sedia obat nyamuk semprot di rumah. (Satriawan)

Editor : Idham


COVID19