Terbaik terbaik

Dibaca : 37 kali.

TEKANAN GLOBAL PAKSA IMPOR ALKES DAN OBAT


Oleh : Tendri

Corona virus adalah wabah penyakit yang kini menggemparkan seluruh dunia termasuk Indonesia, hal ini bisa di lihat dari jumlah kasus yang positif terkena Corona semakin meledak tercatat pada 27 April 2020 kasus positif Corona mencapai 9.096, sembuh 1.151 dan meninggal 765 orang. Namun di tengah pandemi Covid-19 ini yang semakin parah ada saja oknum yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hal ini jelas menjadi perhatian yang serius di tanah air. Pasalnya di tengah wabah ini Menteri BUMN, Erick Thohir menyatakan bahwa 90% alat kesehatan Indonesia berasal dari impor. Hal itu menjadi peluang bagi mafia-mafia alat kesehatan yang memanfaatkan momen tersebut (deticfinance, 16/4/2020).

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, mengungkapkan penyebab Indonesia sangat ketergantungan impor bahan baku obat dan alat kesehatan (alkes) memang sengaja diciptakan dengan tidak membangun industrinya di dalam negeri. “Menyangkut dengan alat kesehatan, saya setuju sekali. Saya dulu waktu pengusaha 90% alkes kita ini impor. ini sengaja memang. Dari dulu saya juga salah satu pengusaha tahun 2006, itu main barang ini. Aku tahu betul ini barang permainannya bagaimana. Sengaja ini industrinya nggak dibangun”. Kata dia dalam rapat kerja (raker) virtual dengan komisi VI DPR RI, Kamis (23/4/2020).

Baca juga  Mempertanyakan Seruan Benci Produk Luar Negeri

Namun Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan pihaknya untuk mulai mendorong pengembangan industri tersebut di dalam negeri. Sebab pandemi Covid-19 membuat para pihak menyadari pentingnya hal itu. “Kemarin atas arahan Presiden untuk segera memikirkan, mencari investor yang akan melakukan investasi di bidang alat kesehatan. Kita minta dari Korea Selatan, Amerika Serikat, Jerman dan beberapa negara lain. Ini sekarang kita kerjakan”. Tambahnya.

Ditengah masa Pandemi Covid-19 seperti sekarang Indonesia ternyata masih belum mandiri untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dalam negeri. Padahal, kesehatan adalah kebutuhan dasar masyarakat. Apalagi dalam kondisi wabah, tentu saja banyak RS yang membutuhkan alat-alat kesehatan untuk membantu perawatan dan kesembuhan pasien Covid-19, salah satunya ventilator Menteri BUMN, Erick Thohir mengaku ventilator di Indonesia masih belum cukup untuk menangani pasien Covid-19.

Bahkan yang terbaru, Presiden AS, Donald Trump melalui cuitan diakun Twitternya mengaku bahwa Presiden Indonesia baru saja meminta bantuan ventilator kepada dirinya. “Baru saja berbicara dengan seorang teman, Presiden RI Joko Widodo. Ia meminta ventilator yang tentu akan kami berikan, kerja sama hebat antara kami”. Tulisnya, jumat (24/4/2020).

Disisi yang lain, Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat) mengungkapkan bahwa PT. Pindad, bekerja sama dengan UI dan UGM bisa memproduksi 200 ventilator per bulan, dan PT DI bekerja sama dengan ITB juga Yayasan @salmanitb bisa memproduksi 500 ventilator per minggu. Lantas mengapa penguasa ngotot impor ventilator? Mengapa negara Indonesia tidak bisa mandiri dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada rakyat?

Baca juga  Tipu-tipu Rezim Demokrasi untuk Klaim Keberhasilan Penanganan Pandemi

Inilah watak asli dari sistem kapitalisme yang diterapkan dinegara ini, Indonesia tidak mampu melawan mafia sebab kapitalisme sekuler telah tertanam kuat hal ini dapat di lihat dari hutang negara Indonesia terhadap negara – negara maju, yang memungkinkan Indonesia tidak bisa terlalu mengutik mafia di balik impor alat kesehatan dan obat secara besar – besaran. Memang beginilah realita demokrasi sekuler hari ini di perbudak nafsu jabatan dan kekayaan, untuk itu oknum – oknum yang melakukan mafia ini jelas tidak peduli meraup untung dari mana tanpa peduli baik – buruk, halal haram bahkan mereka rela mengorbankan nyawa rakyat di tengah pandemi Corona ini.
Indonesia tergantung impor karena memang telah dihilangkan kemampuannya sebagai bangsa mandiri. Perjanjian bilateral atau multilateral dengan negara lain, yang tergabung dalam blok perdagangan bebas, mengharuskan Indonesia terikat dengan perjanjian untuk saling jual beli di antara mereka. Sekalipun barang atau jasa tertentu itu tersedia dan mungkin diproduksi di dalam negeri. Indonesia akan mampu menyediakan semua kebutuhan rakyatnya secara mandiri jika berhasil melepaskan diri dari semua ketergantungan itu. Tetapi jika masih berada di orbit pengekor, sulit baginya memenuhi kewajiban itu.
Sangat berbeda dengan sistem Islam dimana hanya sistem ini yang akan menjadikan negara benar-benar mandiri dan mampu memenuhi semua kebutuhan rakyat. Islam adalah ideologi yang datang dengan bentuk sempurna dan mencakup seluruh aspek kehidupan. Ideologi ini tidak meninggalkan satu perkara pun kecuali menyodorkan solusinya. Maka cara untuk mengakui segala problematika permasalahan ini adalah segera kembali kepada Allah SWT. Memberlakukan syariah-Nya secara kaffah dalam semua aspek kehidupan (baik hukum, sosial, ekonomi, dsb). Hal ini agar Allah juga mendatangkan segala berkah-Nya.
Sebagai seorang muslim kita pasti mengharapkan keberkahan sebagai cerminan Iman dan ketundukkan kepada Allah SWT. Masyarakat dan negara akan beroleh berkah bila berlandaskan ketakwaan dan bersendikan penerapan syariat secara kaffah. Oleh sebab itu, berbagai masalah yang terjadi ini menuntut kita untuk melakukan perubahan mendasar. Melenyapkan sistem kapitalisme dan menggantinya dengan sistem terbaik, yakni sistem Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah yang akan menjamin berlakunya kembali syariat secara kaffah. Wallahu a’lam bi ash showwab.