Tarik Ulur PSBB Membuat Dilema


Oleh : Tyas Ummu Amira

Gubernur Provinsi DKI Jakarta mulai memberlakukan lagi PSBB, sebab angka pasien positif covid19 semakin meningkat setelah diterapkanya new normal. Dengan ini maka pemerintah harus siap sedia menyalurkan bansos dengan jumlah besar untuk masyarakat diwilayah PSBB.

Dilansir dari detik.com Jakarta Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperketat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bisa berimplikasi luas. Termasuk kemungkinan bertambahnya kelompok masyarakat yang terdampak sehingga membutuhkan bantuan sosial (bansos).

Menteri Sosial Juliari P. Batubara menyatakan muncul kebutuhan penanganan terhadap masyarakat yang terdampak dalam bentuk bantuan sosial, tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

“Bila keputusannya adalah menambah bansos sejalan dengan pengetatan PSBB, maka itu bukan keputusan yang mudah. Dibutuhkan kajian mendalam dan koordinasi yang tinggi,” kata Juliari dalam keterangan tertulis, Minggu (13/9/2020).

Dengan melihat fakta diatas menunjukan bahwa pemerintah tak serius menanggani pandemi corona ini. Nampak jelas tarik ulur PSBB semakin membuat masyrakat resah, disamping itu kepercayaan publik mulai menurun, tersebab lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi dibandingkan nyawa rakyat.

Setelah diberlakukan New normal cluster penularan pasien positif bermunculan, serta persebaranya semakin luas. dikutip dari Kompas.com Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah mengatakan, penambahan kasus baru Covid-19 di Kota Tangerang disebabkan klaster perkantoran di Jakarta.

Baca juga  PPKM : Penanganan Pandemi Sebabkan Konflik Masyarakat?

Arief menjelaskan, sebanyak 15 kasus baru dari 49 kasus di Kota Tangerang berasal dari warga Kota Tangerang yang bekerja di Jakarta.
“Kasus perkantoran dilaporkan dari DKI Jakarta, jadi 15 dari DKI,” kata dia dalam keterangan suara diterima Kompas.com, Senin (3/8/2020).

Cluster baru muncul di perkantoran, rumah tanggah, fasilitas publik serta yang rawan yakni di rumah sakit. Lantaran tempat dimana virus berpindah secara cepat jika lalai melakukan protokol kesehatan. Penyebaran virus ini akan berjalan secra masif jika masih terjadi pealanggaran protokol kesehatan. Meskipun sudah dilakukan sidak atau razia masker dijalan – jalan, rupanya masyarakat masih belum jerah justru mengabaikanya, meskipun dikenai denda atau sanksi sosial. Kenapa hal ini terjadi, tidak lain karena mindset masyarakat sejatinya tidak peduli akan bahaya covid19, mereka lebih mementingkan bagaimana tetap bertahan hidup ditengah badai pandemi. Di sisi lain ditemui di lapangan, para tenaga asing juga bebas keluar masuk ke dalam negeri. Sehingga bagaimana bisa memutus rantai penyebaran virus ini jika kran para WNA masih diberi akses, dengan dalih untuk menambah devisa negara.

Baca juga  JILBAB PAKAIAN WAJIB BAGI SETIAP MUSLIMAH

Semua itu dilatarbelakangi oleh faham demokrasi kapitalis, lagi – lagi kepentingan ekonomi harus di prioritaskan agar terhindar dari depresi ekonomi. Memang benar jika wabah covid19 ini telah mengkontraksi pertumbuhan ekonomi, mengakibatkan negeri ini menuju jurang resesi. Jadi mulai sedari awal indonesia tak berani melakukan lockdown total, dikarenakan negeri ini masih bergantung kepada negara lain yang notabene para pemilik modal atau para kapitalis.

Sehingga wajar jika pemerintah melakukan hal demikian, sebab ada kepentingan ekonomi yang harus di pertahankan. Beginilah wajah asli para pengemban ide kapitalisme, semua kebijakan yang di terapakan standarisasinya adalah untung rugi.

Untuk menyelesaikan masalah ini diperlukan sebuah sistem yang memberikan solusi paripurna. Sebagaimana dulu pernah terjadi pada zaman khalifah Umar bin Khatab, strategi yang digunakan yakni dengan memerintahkan gubernur syam untuk mengisolasi rakyanya, seperti halnya sekarang lockdown secara total dan sosial distancing. Bagi masyarakat yang terdapat pada wilayah wabah harus diisolasi, sedangkan penduduk di wilayah lain tidak boleh masuk pada kota yang terkena wabah. Kemudian mengobati semua rakyatnya yang sakit arau terinfeksi wabah serts tak lupa ikhtiyar langit dengan sabar, tawakal dan berdoa.

Baca juga  Varian Baru Virus Covid, Masihkah Tak Percaya?

Pada saat itu ilmuwan dan dokter juga tak mau ketinggalan untuk memberikan sumbangsih begitu besar terhadap wabah yang terjadi, dengan ilmu yang dimiliki serta melakukan riset hingga akhirnya menemukan vaksin yang tepat untuk menangkal virus.

Demikianlah peran negara sangat penting untuk memberikan solusi akan halnya wabah pandemi covid sekarang ini. Negara harus hadir dalam mebiayayaan dan menfasiliatsi riset untuk vaksin tanpa campur tangan asing.

Sehingga wabah atau virus tidak menyebar luas kewilyah lain yang tak terkena wabah serta penanganya realatif lebih cepat dan efektif. Dengan ini pertumbuhan ekonomi serta aktivitas publik tetap berjalan secara normal. Ini semua butuh intitusi yang berwenang yakni negara, dimana hadir dalam menyelesaikan semua problematika umat dengan menerapkan hukum Islam.

Waallahu’alam bishowab.