Survei Capres di Pamasuka, Prabowo-Sandi-Ganjar Bersaing Ketat


Peneliti, direktur Eksekutif indeks Indonesia, Agung Prihatna. (foto : ist)

SULBAR99NEWS.COM-JAKARTA,- Lembaga Riset Independen INDex Indonesia merilis hasil survei terbaru mengenai tokoh-tokoh yang muncul sebagai presiden dan wakil presiden di Pamasuka (Papua Maluku Sulawesi Kalimantan). Cakupan Survei ini adalah empat kepulauan besar di Indonesia, selain Jawa, Sumatra, dan Nusa Tenggara.

Hal itulah terungkap saat Lembaga Riset Independen INDex Indonesia menggelar jumpa pers secara daring, Jumat, 10 September 2021.

Dalam jumpa persnya, Peneliti, direktur Eksekutif indeks Indonesia, Agung Prihatna mengungkapkan, Wilayah Pamasuka dengan populasi 30 juta pemilih dianggap daerah potensial yang dapat mengubah percaturan politik Pilpres Indonesia. Selama ini survei serupa banyak dilakukan di Jawa dan Sumatra, namun wilayah Pamasuka belum banyak diselami.

Survei Index Indonesia dilakukan selama bulan Agustus dengan 1.000 resonden berusian di atas 17 tahun yang dipilih secara random. Teknik ini diklaim memiliki akurasi 95 persen dengan margin of Error 3,3 persen.

Baca juga  KPU-Tim Gugus Tugas Covid-19 Majene Tandatangan MoU

Hasilnya, nama-nama yang muncul sebagai tokoh potensial Capres menurut masyarakat Pamasuka tak jauh-jauh dari nama-nama yang sudah sering disebut-sebut di berbagai survei sebelumnya dan sudah menjadi perbincangan publik selama ini.

Menurut hasil sigi ini, terdapat 5 nama yang paling populer di mata responden yang dianggap berpotensi sebagai calon presiden Indonesia tahun 2024, yaitu Prabowo Subianto (popularitas 98.3%), Anies Baswedan (95.4%), Puan Maharani (88.9%), Ganjar Pranowo (70.4%), dan Airlangga Hartarto (51.4%). Ketika dipancing dengan pertanyaan tertutup, responden rata-rata mengenal nama-nama tersebut. Namun yang memiliki nilai popularitas ideal hanya tiga, yaitu Prabowo Subianto, Anies Baswedan dan Puan Maharani, yang dikenal oleh lebih dari 85% masyarakat Pamasuka.

Namun popularitas belum tentu seiring dengan akseptabilitas. Soal seberapa diterima mereka oleh publik sebagai Capres, petanya jadi berbeda. Tentang ini Anies Baswedan memimpin di angka 86.5%, disusul Ganjar Pranowo (86.3%), Prabowo Subianto (85.5), Airlangga Hartarto (68.6), dan Puan Maharani di ururan buncit (49.9%).

Baca juga  Kalma : Belum Ada Figur Serius Siap Bertarung di Pilkada Majene

Meskipun popularitas Ganjar belum ideal namun nilai akseptabilitasnya cukup baik, setara dengan Prabowo dan Anies. Sebaliknya Puan Maharani, popularitas ideal namun akseptabilitasnya rendah.

Apabila dikontestasikan, tiga tokoh yang paling akseptabel tersebut, yaitu Prabowo, Anies, dan Ganjar, memiliki peluang yang sama-sama prospektifnya. Namun petanya masih dapat berubah-ubah sesuai dinamika yang ada.

Setiap nama masih memiliki peluang mengejar satu sama lain karena masih berada dalam angka yang berselisih di tipis. “Dengan angka saling mengejar, faktor cawapres nantinya akan signifikan untuk meningkatkan elektabilitas,” katanya.

Di posisi Cawapres ada nama-nama tenar, baik asli Indonesia Timur maupun nama-nama dari Jakarta. Di antaranya Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, Mendagri Tito Karnavian, dan Mantan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Amran Sulaiman muncul sebagai tokoh lokal yang paling sering disebut oleh responden.

Baca juga  Fahmi Massiara Masih Mendalami siapa yang Mendampingi pada Pilkada 2020.

Menurut Agung Prihatna, konstalasi ini harus diwaspadai, karena pasangan capres cawapres bisa saling mendukung atau sebaliknya, saling menegasikan. Misalnya Prabowo dipasangkan AHY, itu membuat perolehan suara jadi turun karena mereka memiliki captive yang sama. “Bila keliru memilih Cawapres, elektabilitas bisa jeblok,” tandas mantan Direktur Survei Metro TV ini.

Orang Indonesia Timur agaknya belum meunculkan figur lokal untuk calon presiden sehingga nama-bama capres relatif sudah baku dan sulit digoyang. Namun untuk figur Wapres terdapat satu nama lokal yang pergerakannya dinamis, yaitu Amran Sulaiman, mantan Menteri Pertanian yang berdarah Bugis.

Dengan konstalasi seperti itu Capres berada dalam persimpangan, apakah memilih pendamping yang berbasis partai atau kedaerahan. “Calon wakil presiden yang memiliki pengaruh kedaerahan memiliki sebaran kurang merata, namun biasanya memiliki pendukung yang solid dan militan,” kata Agung. (ih)


POLITIK