Siapa yang Takut Film JKdN?


Oleh : Saltina, S.Pd.
(Penggerak Opini Islam)

“Blokir tanda tak mampu, harusnya kalau punya bukti bantahan argumentatif tak ada relevansi khilafah dan nusantara, ya tinggal buat filmnya, pakai literasi berbobot, tapi ya kenyataannya tak bisa, susah. Bingungnya, kemarin-kemarin katanya khilafah cocoknya di pelajaran sejarah, loh kita “bantu “ buatkan film sejarah Khilafah kok dibanned pula? Lantas, maunya apa?”
(Ust. Irfan Abu Naveed)

Demikian bunyi meme yang beredar luas dijagat maya, sesaat setelah pemblokiran premiere film Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN). Sindiran telak Ust Irfan Abu Naveed yang ramai dibagikan ulang para netizen di laman sosial media facebook tersebut, tidak lain adalah respon atas tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh rezim terkait pemblokiran film JKdN.

Sebagaimana diketahui, pemblokiran penanyangan film JKdN yang dilakukan oleh rezim menuai polemik di kalangan masyarakat. Sebelumnya, film tersebut diblokir ditengah-tengah siaran live streaming. Youtube diketahui memblokir tayangan tersebut dengan menyebutkan bahwa konten tidak tersedia karena adanya keluhan hukum dari pemerintah.

“Video tidak tersedia. Konten ini tidak tersedia di domain negara ini karena ada keluhan hukum dari pemerintah,” demikian isi notifikasi pemblokiran film JKdN seperti dilansir dari (suara.com, Jumat, 21/8/2020)

Sebelumnya, Film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) diluncurkan pada Minggu, 2 Agustus 2020 lalu. Film besutan sejarawan muda Nicko Pandawa dan Komunitas Literasi Islam (KLI) tersebut, kemudian diputar perdana pada 1 Muharam 1442 Hijriah atau Kamis, 20 Agustus 2020, pukul 09:00 WIB. Namun, film yang bercerita tentang hubungan Nusantara yang memiliki kaitan erat dengan pemerintahan Khilafah Utsmaniyah Turki tersebut, sempat diblokir beberapa kali di tengah penayangannya, hingga beberapa kali tidak bisa diakses.

Tetap Viral, Meski Dirintangi Berbagai Aral

Baca juga  OLIGARKI DIBALIK PENANGANAN CORONA

Meski berusaha dirintangi dan dihalang-halangi, justru film JKdN, semakin menuai antusiasme luar biasa dari warganet. Panitia menyebutkan, sejak pre-launching 2 Agustus 2020 lalu, tercatat 250 ribu lebih pendaftar tiket virtual. Dipastikan jumlahnya terus meningkat mendekati jam tayang.

Hingga Jumat 21 Agustus 2020, terlihat oleh terkini.id tayangan video tersebut sudah dilihat hingga 278.372 kali. (terkini.id Jumat, 21/8/2020)

Bahkan, di hari yang sama dengan penayangan perdananya, terdapat empat tagar trending topik yang disinyalir terkait dengan film JKdN tersebut, bertengger di jagat Twitter. Tagar tersebut adalah #JejakKhilafahdiNusantara, #DakwahSyariahKhilafah, #SejarahIslamIndonesia, dan #NobarFilmKhilafah.

Tak hanya itu, kesuksesan film JKdN yang mendulang ratusan ribu viewer di Youtube dan trending topic di Twitter juga diikuti dengan tercetaknya sejarah baru di dunia perfilman Indonesia, bahkan dunia. Septian A. W., salah satu sejarawan muda yang memprakarsai hadirnya film tersebut, mengatakan salah satu latar belakang diproduksinya film JKdN adalah untuk menjawab tantangan zaman. Di mana saat ini Khilafah telah menjadi pembicaraan hangat masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Sehingga Septian beserta tim merasa terpanggil untuk bisa menghadirkan kisah sejarah Khilafah di Nusantara ke tengah masyarakat Indonesia.

“Belum pernah ada produksi film serupa. Ini film pertama yang mengisahkan hubungan Khilafah dengan Nusantara. Kita ingin menampilkan kisah tersebut dalam format yang lebih menarik, yakni berupa audio-visual, film dokumenter,” ujarnya.

Sementara itu, Nicko Pandawa, produser sekaligus penulis naskah film JKdN menjelaskan, film tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, sebab berlandaskan penelitian dan riset yang panjang, didukung sumber primer maupun sekunder (data pustaka), ditambah data lapangan yang tersebar dari ujung Sumatra, Aceh, Pulau Jawa, hingga ujung Timur Ternate dan sebagainya. Sehingga film JKdN tidak perlu ditakuti atau dihalang-halangi penayangannya.

Baca juga  Visi Indonesia Dalam Cengkeraman Imperialisme

Pemblokiran Film JKdN: Bukti Ketakutan Rezim

Adanya upaya penghalangan film JKdN oleh rezim, tak lain adalah bentuk kekalahan intelektual dan bukti Ketakutan akut rezim akan berkembangnya ide dan paham Khilafah di tengah masyarakat Indonesia. Ketakutan itu, makin tampak jelas dengan adanya upaya pemblokiran tayangan selama acara premiere film JKdN berlangsung. Tak tanggung-tanggung, film yang disaksikan oleh ratusan ribu penonton virtual tersebut dibanned sebanyak tiga kali berturut-turut selama acara live streaming. Bahkan sebelumnya, beberapa kali upaya yang sama dilakukan pada trailer film JKdN di YouTube.

Ketakutan rezim akan bangkitnya Islam dengan semakin menyebar luasnya ide khilafah di tengah masyarakat adalah wajar. Mengingat khilafah adalah ancaman nyata bagi eksistensi hegemoni kekuasaan rezim sekuler kapitalisme yang selama ini mereka jaga dan pertahankan.

Ide khilafah yang kian tak terbendung di tengah masyarakat, sebelumnya, juga berusaha dibonsai oleh rezim dengan berbagai upaya jahat, seperti monsterisasi, kriminalisasi, alienasi, bahkan persekusi para pengusungnya. Tak hanya itu, bahkan buku-buku dan LKS Madrasah Aliyah yang memuat khilafah sebagai ajaran Islam yang mulia pun, tak luput dari sasaran rezim untuk dimoderasi dan diberangus.

Namun alih-alih dijauhi dan ditakuti masyarakat, ide khilafah justru semakin bersinar. Ditandai dengan viral dan gencarnya perbincangan khilafah di tengah masyarakat. Mereka kian paham, bahwa khilafah adalah ajaran Islam yang mulia. Oleh karena itu sangat tidak pantas ajaran Islam yang mulia itu dikriminalisasi oleh siapa pun yang mengaku beriman kepada Allah Swt.

Tak sekadar narasi sejarah, Khilafah adalah sistem pemerintahan dalam Islam, sekaligus sebagai metode pelaksanaan syariat secara kaffah dan penyebarluasan dakwah. Berkat dakwah yang dilakukan khilafahlah, Islam tersebar luas, hingga menguasai 2/3 dunia, menjangkau Eropa dan menjejak Nusantara.

Baca juga  Kemelut Finansial, Tangguhkah Sistem Ekonomi Kita?

Lebih dari 13 abad, Islam telah memimpin peradaban dunia melalui penerapan syariah kaffah dalam bingkai Khilafah. Bahkan keagungannya telah diakui oleh para pengamat yang jujur. Will Durant dalam bukunya, Story of Civilization mengatakan, ‘’Para khalifah telah memberi keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.’’

Jika khilafah telah nyata memberikan jaminan keamanan dan kesejahteraan yang luar biasa di masa lalu, lantas siapa sebenarnya pihak-pihak yang takut akan ide khilafah? Menarik untuk menjawab pertanyaan dari judul tulisan di atas; siapa yang takut film JKdN?

Ust. Dr. Riyan, M.Ag. dalam rubrik Ngaji Siyasi yang ditayangkan channel NSTV (https://youtu.be/QdqWvjn5e88) pada Senin, 31 Agustus 2020 lalu, menjawab pertanyaan diatas dengan rinci. Yang pertama tentunya pihak rezim yang merasa terancam kekuasaannya. Kedua, kelompok pragmatis yang diuntungkan oleh kebijakan rezim. Ketiga, kaum intelektual sekuler. Dan yang keempat adalah negara adidaya yang memang represif terhadap Islam dan kaum muslimin.

Alhasil, pemblokiran film JKdN dan berbagai penghalangan terhadap sejarah dan ajaran khilafah, tak lain adalah bukti Ketakutan akut dan hipokrisi demokrasi yang dipertontonkan oleh rezim. Namun, upaya sistematis rezim untuk mengubur dan mengaburkan sejarah dan ajaran khilafah di nusantara sejatinya adalah kesia-siaan belaka. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT,

يُرِيدُونَ أَن يُطۡفِئُواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya meski orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS al-Taubah: 32)

Wallahu a’lam bishshawwab.