Terbaik terbaik

Dibaca : 407 kali.

Sekolah Putus, Akankah Harapan Pupus?


Oleh : Ma’rifah Nurul Hikmah (Pelajar)

Tepat 1 minggu yang lalu, Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak mencatat terdapat 300 pelajar SMP Negeri memilih untuk berhenti alias putus sekolah. Penyebabnya adalah proses belajar mengajar secara daring yang terlalu lama.

Kepala Dindik Lebak, Wawan Ruswandi, menyatakan pada 25 Mei 2021 bahwa 6 ribu pelajar lainnya juga berstatus tidak jelas. Sebab mereka dilaporkan tidak aktif saat proses belajar daring maupun luring.

Jika kejadian ini terus dibiarkan, mampu mempengaruhi banyak pelajar lainnya. Sehingga mereka putus sekolah dan berakibat pada ketidakberhasilan pendidikan di Indonesia.

Padahal anak muda adalah harapan bangsa. Lalu bagaimana nasib bangsa kedepannya jika anak muda saat ini putus sekolah? Akankah harapan bahwa anak muda mampu mengubah dunia menjadi lebih baik akan pupus begitu saja?

Sebenarnya, permasalahan yang terjadi bukan terletak pada lembaga sekolah. Melainkan proses menuntut ilmu yang harus dilalui oleh anak di seluruh penjuru dunia, haruslah diperhatikan dan menjadi tanggung jawab negara. Mengapa demikian? Karena pendidikan merupakan pondasi yang penting dalam kehidupan dan harus dibangun dengan sebaik mungkin.

Baca juga  Bunuh Diri Remaja (Lagi), Bukti Generasi Semakin Rapuh

Bukan juga terletak pada proses belajar mengajar yang dilakukan secara daring sebab pandemi Covid-19 yang tak kunjung angkat kaki dari negeri ini. Namun ada semacam kegagalan yang nyata pada proses penbelajaran yang dilakukan secara online (daring). Siswa mengalami kejenuhan baik secara fisik maupun mental. Kebutuhan kuota yang simultan menjadi masalah berikutnya. Bahkan, belajar daring pada faktanya telah menularkan virus baru yang.lebih berbahaya pada peserta didik, yakni keranjingan gawai. Sekian lama pandemi tak kunjung pergi menyebabkan mereka lambat laun beralih orientasi dari kewajiban belajar yang seharusnya dilakukan, menjadi anak anak yang asik dengan handphone, tanpa peduli lagi tugas belajar.

Baca juga  Mempertanyakan Seruan Benci Produk Luar Negeri

Terlebih, sistem pendidikan yang ada telah gagal mengakomodir kebutuhan siswa selama proses belajar daring. Kasus ratusan anak putus sekolah menjadi indikasi kegagalan sistem pendidikan pada masa pandemi.

Padahal, sudah sepatutnya negara berperan dan bertanggung jawab untuk mewujudkan pendidikan yang ideal sebagai sebuah tanggung jawab dalam meriayah rakyat.

Carut marut pendidikan masa pandemi sejatinya tak bisa dipisahkan dari kebijakan lain yang diemban penguasa negeri. Dengan kata lain, gagalnya pendidikan masa pandemi, mencerminkan kegagalan negara dalam mengatasi pandemi, sehingga berlarut larut tanpa ada solusi. Kebijakan yang tumpang tindih antara mengatasi pandemi dengan mendahulukan kepentingan ekonomi, malah berimbas kepada makin bertambahnya penularan wabah dari hari ke hari. Solusi daring yang ditempuh pun adalah buah dari ketidakstabilan kondisi tersebut.

Baca juga  Dinasti Politik Ala Demokrasi

Terlebih, pendidikan merupakan sebuah sistem yang akan “ajeg” jika didukung oleh sistem lain. Kondisi ekonomi, sosial serta politik akan mempengaruhi jalannya sistem pendidikan sebuah negeri. Oleh karena itu, permasalahan pendidikan pada masa pandemi harus diberikan solusi tuntas yang integral bagi semua lini kehidupan.

Tak ada jalan lain selain menerapkan islam secara kaffah. Penerapan syariat islam akan menjadi kunci negeri ini terbebas dari wabah, yang dengannya suasana pendidikan kembali bergairah. Generasi muda terdidik dengan baik dan diarahkan mengetahui tujuan hidupnya.

وما خلقت الجن و الإنس إلا ليعبدون

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Penerapan islam akan mengembalikan harapan bahwa anak muda adalah penerus bangsa tidak akan pernah pupus.

Wallahu A’lam….