Segenggam Cinta dari Srikandi Sendana, Mengenal Lebih Dekat Nuraini


Nuraini, SE.,M.M

Oleh : Marwan Hamzah

Perempuan adalah tiang negara, Jika perempuan baik, maka negara itu akan baik. Dan jika perempuan rusak, maka negara itu akan ikut rusak”

Penggalan kalimat tersebut menggambarkan betapa sosok perempuan dianggap vital bagi kokohnya sebuah negara. Bagaimana mungkin bangsa Indonesia akan mencoba menafikan peran perempuan, padahal negara ini tidak lepas dari gejolak politik dan demokrasi yang menjadikan wanita sebagai pilar negara.

Mengapa demikian? karena sosok perempuanlah yang melindungi dan mendidik calon-calon pemimpin bangsa. Pendidikan pertama bagi generasi bangsa diperoleh dari sosok seorang Ibu (perempuan-red), karenanya perempuan mengemban peran dan amanat yang begitu terhormat dan istimewa.

Kemerdekaan Bangsa Indonesia juga tidak luput dari peran dan kontribusi dari para pahlawan perempuan seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meuthia, Raden Ajeng Kartini, dan lain-lain. Sementara di Sulawesi Barat, seorang maestro perempuan di tanah Mandar yakni Hj. Andi Depu berjuang dengan memimpin pasukan Kris Muda melawan penjajah Belanda. Karenanya Hj. Andi Depu sebagai Pahlawan Nasional mendapatkan penghargaan bintang Mahaputra dari Presiden Soekarno.

Dan jika membincang konteks Pemilu 2021 nantinya di kabupaten Majene, tentu saja tokoh kepemimpinan perempuan menjadi sebuah keyakinan masyarakat bahwa keterwakilan kepemimpinan perempuan sangatlah diharapkan dalam penyeimbang pengambilan keputusan.

Baca juga  MENGAPA NAPI DIBEBASKAN DI TENGAH WABAH?

Nah, jika menyoal kepemimpinan perempuan tak adil rasanya jika ikut abai pada sosok Nuraini, SE.,M.M, yang hari ini cukup familiar dan menjadi buah bibir masyarakat Kabupaten Majene, Khususnya Wilayah Majene II.

Mengupas sekelumit sepak terjangnya tidak cukup hanya sekedar mendengar, tetapi tentu saja elok jika mencoba melangkah untuk mengenal lebih dekat sosok Nuraini, SE.,M.M

Biografi Singkat

Di Desa terpencil jauh dari perkotaan Mandar Lama Majene, wilayah pemerintahan Arajang Sendana, Dalam Sejarah Mandar Kindo Persekutuan itu, yang dibentuk dan menamainya Daeng Palulung, tangis pertama keluar dari bayi perempuan yang memecah kesunyian malam, tepat saat adzan subuh hari senin berkumandang di masjid, Di tengah haru bahagia keluarga yang menanti beraduk rasa gelisah namun berujung kegembiraan dengan lahirnya seorang bayi perempuan masarri-sarri semerbak wangi Cendana yang kelak menjadi tokoh perempuan, Dialah yang kemudian oleh Neneknya Medang dan Kakeknya Kannai Nuruq Daeng Pa’gulung memberinya nama “NURAINI”.(artinya Cahaya Mata)

Baca juga  Refleksi Akhir Tahun: Potret Buram Jeratan Kemiskinan

Tak pernah terduga sebelumnya, di detak-detik awal kisah hidupnya dimulai, ternyata Tuhan mempunyai rencana yang luar biasa. Berselang waktu kemudian hingga masa ideal menikah, rupanya rencana Tuhan itu adalah sosok Enny Sapaan Akrabnya yang juga pengusaha perempuan, kelak menjadi perempuan hebat dan pemberani, dengan kepiawaian dan keberanian yang dimilikinya sekarang banyak masyarakat menjulukinya Tokoh Politik Perempuan (Srikandi Sendana) lahir di Wilayah Tomisarung Bulawang tersebut, insyaAllah dapat mewakili aspirasi masyarakat, khususnya kaum Hawa.

Tak terhapus masa, dialah Nuraini, SE,.M.M seorang ibu yang lahir di Onang, Desa Onang Utara, Kecamatan Tubo Sendana saat almanak waktu menunjukkan angka 10 Oktober 1993, Enny yang lulusan SMK 4 Majene tersebut, dan Alumni UNSULBAR, dijuluki Srikandi Sendana menyatakan dengan tegas akan maju dalam kontestasi politik pemilihan legislatif tahun 2024 mendatang.

Perlu dipahami secara mendalam, sedikit banyaknya ibu dalam keluarga yang memikul sejuta peran penting yang tidak dapat dianggap remeh. Dengan penuh cinta yang digenggamnya, sederet pekerjaan rumah tangga/peran domestic dan peran public dalam mendampingi suami menjadikannya sebagai sosok perempuan tangguh. Dalam memenuhi kebutuhan keluarga, seorang ibu mengemban tugas sebagai manajer, guru, perawat, akuntan, desain interior, chef dan lain-lain. Dengan demikian, ibu mempunyai multi peran yang mengintegrasikan berbagai karakter dalam keluarga untuk membentuk keutuhan keluarga yang sakinah.

Baca juga  Musibah Melanda, Saatnya Kembali Pada Hukum Allah

Ibu sebagai pendidik dalam keluarga, mengajarkan hal-hal rumit dengan cara kesederhanaan, melatih, membimbing, dan memberikan teladan yang akan membentuk karakter anak-anaknya. Tentu saja konsep Siwali Parriq di tanah Mandar tak akan lengkap tanpa seorang ibu. Artinya bahwa, bukan lagi sebuah rahasia, sosok Nuraini telah mampu memapah tanggung jawabnya itu.

Nah Jika waktu memberi kesempatan, Tuhan memberi Restu, masyarakat telah memilih maka Nuraini, SE.,M.M akan menjadi harapan masyarakat dalam menyambung aspirasinya Dan jika dulu Hj. Andi Depu berjuang memerdekakan Republik Indonesia dari penjajah, maka Nuraini akan memperjuangkan hak-hak Rakyat secara menyeluruh.

Akhirnya, selamat berjuang Srikandi Sendana, senantiasalah mengejewantahkan nilai-nilai perjuangan sebagai seorang perempuan Malaqbi di tanah mandar lama atau banua yang Malaqbi, Kindo Kesepakatan.

Tulisan Marwan Hamzah