SANG PREDATOR


Oleh : Rubiah Lenrang

Sitongangna iyami’ na mappaaccuri pakkappungna kota (Sodom) di’e, sitongangna pakkappungna diangi ta’lalo pagau’ bawang”

“Sesungguhnya kami akan membinasakan penduduk negeri (Sodom) ini, karena penduduknya sungguh orang-orang zhalim“. (TQS. Al-Ankabut ayat 31)

Mengerikan!!! Berita pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Indonesia, Reynhard yang kuliah di Inggris menggemparkan dunia. Tidak tanggung-tanggung korbannya diduga hingga seratusan orang dan digambarkan sebagai pemerkosa dalam jumlah terbesar dalam hukum Inggris. Beberapa hari yang lalu pun negeri kita digemparkan berita Ketua Ikatan Gay Tulungagung dilaporkan telah mencabuli 11 anak dengan mengiming-iming uang sebagai bayaran pemuas nafsu bejatnya.

Miris!!! Dahulu, orang tua begitu protektif pada anak gadis. Paling sering diantar kalau kemana-mana. Ditanya tempat, tujuan, dengan siapa, berapa lama, dan sebarek pertanyaan yang mesti dijawab dengan mendetail dan memuaskan barulah diizinkan keluar. Disertai pesan terakhir sebelum melangkah : gak boleh pulang malam. Ibaratnya perempuan itu, bagai porselen yang cantik nan antik yang mesti dijaga super ketat biar gak pecah. Sekarang, bukan hanya perempuan. Laki-laki pun tak luput dari incaran para predator LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Tanpa memandang laki maupun perempuan , kehormatan mereka bisa dirampas sembarangan. Na’udzubillahi mindzalik.

Sungguh kekhawatiran telah menimpa hati para orang tua. Membebaskan sang anak, ketakutan akan kebringasan para pengikut jejak kaum Sodom begitu menyeramkan. Mereka juga tak mungkin mengekang anak-anak dalam rumah karena banyaknya aktivitas kehidupan yang harus dilakukan. Bahkan saat ini, rumah pun masih diragukan sebagai tempat yang benar-benar aman untuk perkembangan buah hati. Mengingat beberapa kasus pelecehan yang terjadi dilakukan oleh orang terdekat sang anak. Seakan tak ada lagi tempat untuk berdiam dengan tenang.
Namun, apakah kita cukup berdiam diri? Menerima keadaan yang ada, dengan alasan bahwa demikianlah fakta perubahan kehidupan menuju modern yang tak bisa dihindari dan harus kita terima dengan lapang dada? Ataukah adakah yang bisa kita lakukan, agar masyarakat terhindar dari perbuatan dosa tersebut dan laknat Allah kepada perbuatan Kaum Luth tidak sampai menimpa bumi ini?

Baca juga  Menyoal RUU Miras

LGBT Haram
Para ulama telah bersepakat akan keharaman sodomi (liwath) berdasarkan Al-Qur’an Surat Al-A’raaf ayat 80 :
“Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian.”

Keharamannya semakin dikuatkan dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra., bahwa Nabi SAW bersabda : “Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah melaknat siapa saja yang brbuat seperti kaum Nabi Luth, beliau sampaikan tiga kali”.

Jikalau Allah telah melaknat dan memurkai perbuatan ini, maka seharusnya sebagai hamba-Nya kita harus menerima dengan taat, bukannya mencari-cari dalih untuk melegalkan perbuatan haram tersebut.

Islam Memberantas LGBT
Makhluk Allah yang paling mulia diantara makhluk lainnya adalah manusia. Bahkan lebih mulia daripada malaikat. Hal ini karena manusia memiliki kemampuan berpikir atau akal yang dapat membedakan baik dan buruknya suatu perbuatan berdasarkan ayat-ayat Allah, sehingga dapat menghantarkannya pada maruah kemulian. Sebaliknya manusia justru lebih rendah dari binatang, jika menggunakan akalnya tetapi tidak disandarkan pada ayat-ayat Allah, misalnya LGBT yang bahkan binatang tak berakal tidak pernah melakukan perbuatan homoseksual.

Baca juga  Varian Delta Terkuat COVID-19, Bagaimana Antisipasinya?

Dalam QS. Al A’raf ayat 179, Allah menjelaskan : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Setiap jiwa harus menjaga diri dari perbuatan dosa LGBT. Menyalurkan naluri kasih sayang atau naluri seksual sesuai tuntunan syariah, yakni menikah dengan lawan jenis antara laki-laki dan perempuan, bukan sesama jenis laki-laki seks laki atau sebaliknya. Menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan kepada perbuatan maksiat dengan menyibukkan diri dalam kegiatan yang dapat meningkatkan ketakwaan seperti menimba ilmu islam, sibuk beribadah dan aktif dalam dakwah.

Apalagi dalam hal kesehatan pelaku LGBT sangat rentan tertular dan menularkan virus HIV. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebut proporsi infeksi HIV baru di Indonesia menempatkan kelompok LSL (Laki Seks Laki) atau homoseksual pada posisi puncak. Tingginya temuan penularan HIV/AIDS di kalangan homoseksual ini berjalan seiring dengan bertambahnya populasi mereka di masyarakat.

Selanjutnya yang terpenting adalah peran negara mencegah dan menjaga rakyatnya dari perbuatan nista ini. Yaitu negara wajib menerapkan Syariah Islam sebagai sebuah solusi yang diperintahkan Sang Pencipta Manusia. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Baca juga  Utang Untuk Selamatkan Rakyat?

“ Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya” [HR Tirmidzi].

Demikianlah Allah memerintahkan negara untuk membunuh pelaku bila terbukti melakukan sodom, bukan sekedar penjara sebagaimana hukum yang berlaku saat ini. Tentu saja ini akan sangat berpengaruh pada terhentinya perkebangan kaum terlaknat ini dan menjaga kelestarian manusia kedepannya. Namun perlu diingat bahwa hanya negara yang berhak atas penerapan syariah ini. Sementara individu dan jamaah tak berhak menjatuhkan hukum pada mereka.

Kewajiban masyarakat akan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar mutlak dilakukan, mengingatkan penguasa dan rakyat untuk taat hanya karena Allah. Menyampaikan keharaman dan bahaya LGBT bagi kehidupan serta berhenti mendukung acara lomba yang melibatkan pengikut Kaum Sodom ini walaupun hanya sekedar lucu-lucuan.

Wahai para LGBT dan pendukungnya, marilah kita bertaubat! Sebelum azab Allah yang mengerikan bukan hanya menimpa diri kita tetapi juga orang-orang yang bermukim di sekitar kita, sebagaimana diberitakan dalam Al-Qur’an, Al-Hijr ayat 73-75.

“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.”

Belum cukupkah rentetan bencana alam sebagai peringatan agar kita bersegera meninggalkan maksiat? Semoga Allah melindungi diri, keluarga, dan negeri kita dari perbuatan nista LGBT.


OPINI