Rohingya, Nasibmu Kini !


Oleh : Nurlina Basir

Permasalahan Rohingya masih menjadi permasalahan dunia hingga hari ini. Sudah lama mereka menanggung kehidupan dalam bayang-bayang kesedihan. Ketidakpastian nasib yang mereka alami membuatnya harus ‘rela’ berpindah-pindah / mengungsi dari satu tempat ke tempat yang lain.

Fakta Terkini Rohingya

Setelah ratusan ribu pengungsi Rohingya tinggal di Cox`s Bazar, di negara tetangga Bangladesh, dikutip berita dari viva.co.id bahwa ada sekitar 1.600 pengungsi yang dipindahkan dengan kapal angkatan laut Bangladesh dari kamp pengungsi Cox’s Bazar ke Pulau Bhasan Char, sebuah pulau yang rentan diterjang banjir di Teluk Bengal, pada Jumat (04/12). Dua perahu lainnya membawa makanan dan perbekalan untuk para pengungsi yang pindah ke pulau itu, menurut laporan kantor berita Reuter.

Bangladesh mengatakan semua pengungsi yang dipindahkan telah memberikan persetujuan. Namun, kelompok pegiat hak asasi manusia telah menyuarakan keprihatinan bahwa banyak yang dipindahkan ke pulau itu di luar keinginan mereka. Pengungsi Rohingya di Bangladesh mengatakan kepada BBC pada Oktober bahwa mereka tidak ingin dipindahkan ke pulau itu.

Pemandangan luas dari bangunan beratap merah yang akan ditinggali pengungsi di Pulau Bhasan Char. Dimulai pada tahun 2018, total 1.440 rumah telah dibangun dengan dapur dan kamar mandi yang berdekatan untuk digunakan bersama oleh beberapa keluarga.

Hal yang senada dari news.okezone.com, kelompok pegiat HAM, Human Rights Watch, mengatakan mereka telah mewawancarai 12 keluarga yang namanya ada dalam daftar pengungsi yang dipindahkan. Para pengungsi itu mengatakan bahwa mereka tidak secara sukarela pergi. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan telah diberikan “informasi terbatas” tentang relokasi dan tidak terlibat dengan relokasi itu.

Para pengungsi Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar setelah tindakan keras militer yang dimulai tiga tahun lalu di mana para penyelidik PBB mengatakan sekitar 10.000 orang tewas dan lebih dari 730.000 terpaksa mengungsi
Seorang pejabat pemerintah yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan kepada VOA bahwa beberapa ribu pengungsi sedang diproses untuk dipindahkan ke Bhasan Char dalam beberapa hari mendatang.

Baca juga  Utang Luar Negri Bertambah Seakan Menjadi Prinsip dan Solusi

Beberapa kelompok hak asasi telah meminta Bangladesh agar menghentikan proses relokasi para pengungsi ke Bhasan Char dan mengizinkan tim ahli independen untuk mengevaluasi pulau itu apakah sesuai untuk menampung para pengungsi.
Kelompok-kelompok HAM telah lama berpendapat bahwa pulau itu, yang terbentuk secara alami oleh lumpur Himalaya di Teluk Benggala, sekitar 60 kilometer dari daratan, rentan terhadap bencana alam dan tidak cocok untuk permukiman manusia. Human Rights Watch, Amnesty International dan Fortify Rights sangat menentang relokasi para pengungsi ke pulau itu.

Nasionalisme Menghalangi Bangladesh Wujudkan Ukhuwah Islamiyah

Nasionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita. Paham ini secara realita membuat masing-masing negara memiliki batas teritorial. Paham ini membuat suatu negara membatasi dirinya dengan negara lain walaupun saling berdekatan.

Permasalahan Rohingya masih menjadi permasalahan dunia hingga hari ini. Sudah lama mereka menanggung kehidupan dalam bayang-bayang kesedihan. Ketidakpastian nasib yang mereka alami membuatnya harus ‘rela’ berpindah-pindah / mengungsi dari satu tempat ke tempat yang lain. Bangladesh dan Myanmar hanya memiliki jarak sekitar 327 mil laut diukur melalui pusat geografisnya.

Ketika warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh bahkan beberapa negara lainnya termasuk Indonesia, mereka justru mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Padahal orang-orang Rohingya yang mengungsi adalah umat Islam yang mengalami kekerasan dari tentara Myanmar. Mereka ingin mendapatkan atau mencari perlindungan di negara lain. Tapi sebab paham nasionalislah yang membuat negara lain seolah tak ingin memberikan perlindungan penuh dan hanya memberikan perlindungan sementara saja.

Islam adalah agama resmi Republik (Bangladesh) ini, sebagaimana dinyatakan dalam Konstitusi 2A Pasal (dimasukkan oleh Amendemen Konstitusi kedelapan Act, 1988). Islam adalah agama terbesar di Bangladesh, penduduk muslim lebih dari 130 juta (penduduk Muslim keempat terbesar di dunia setelah Indonesia, India dan Pakistan), dan merupakan hampir 88% dari total penduduk, berdasarkan Sensus tahun 2001. Begitulah rusaknya paham kebangsaan ini. Kita tidak bisa berbuat banyak untuk menolong saudara seagama kita, walau mereka memintanya.

Baca juga  Problema Guru Honorer

Lembaga dunia seperti PBB, UNHCR, HRW hanya menjadi lembaga penghasil konvensi, yang tidak bisa menjadi gantungan harapan solusi. Sebab mereka juga adalah para sekelompok negara yang memiliki landasan yang sama. Sama-sama menerapkan konsep demokrasi ala barat yang dari sana jugalah munculnya nasionalisme kemudian menyebar dan diadopsi oleh negara-negara muslim. Negara-negara muslim tidak akan mendapatkan penyelesaian masalah secara tuntas dengan mengandalkan hasil rundingan mereka, sebab sejatinya pangkal permasalahan umat adalah dari ideologi yang di adopsinya. Ketika ada negeri muslim yang terdzolimi maka muslim di negeri yang lain tidak bisa berbuat banyak. Bahkan terkadang kita mendapati pemimpinnya sekedar menyampaikan ‘kutukan’ yang tak berarti. Sungguh menyedihkan padahal kita seagama yang sejatinya ketika kita memberikan pertolongan itu juga bagian dari keimanan kita kepada Sang Pencipta.
Islam Mewujudkan Ukhuwah Sejati.

Semua orang islam adalah bersaudara, begitulah sabda Rosul dalam haditsnya. Islam mengibaratkan umatnya seperti satu tubuh yang saling terikat dan membutuhkan satu sama lain. Jika ada yang sakit salah satu anggota badan, maka yang lainpun merasakan hal yang sama. Bukti historis sangat nyata menggambarkan ukhuwah itu. Betapa Islam mengikat umatnya dalam satu ukhuwah yang tak mampu ditandingi oleh paham manapun.

Menapaki sejarah ukhuwah yang terbangun yang dilakukan oleh Rasulullah antara dua Bani di kota Madinah, yaitu Bani Aus dan Khazraj. Sebelum dakwah islam sampai kesana, dua Bani ini bermusuhan dan sering terjadi peperangan. Tapi islam mampu menyatukan mereka. Tidak ada lagi permusuhan diatara mereka, sebaliknya mereka saling menguatkan untuk memberikan perlindungan kepada Rasulullah. Indahnya!
Diceritakan pula dalam ar-Rahiq al-Makhtum karya Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfury, bahwasanya ada seorang wanita Arab (Muslimah) yang datang ke pasarnya orang Yahudi Bani Qainuqa. Lantas diganggu oleh orang Yahudi dengan mengikat ujung pakaiannya, sehingga ketika ia berdiri maka auratnya tersingkap. Muslimah ini spontan berteriak dan didengar oleh seorang laki-laki muslim yang ada di sekitar pasar tersebut dan membunuh si pengganggu Yahudi tadi. Namun kemudian sekelompok Yahudi lain membalasnya dengan membunuh laki laki muslim tersebut.

Baca juga  Utang Negara

Berita inipun sampai kepada Rasulullah ﷺ Dan beliau mengambil tindakan mengepung bani ini dalam waktu 15 hari dan Allah Subhanahu Wata’ala memasukkan rasa gentar dan takut ke dalam hati orang Yahudi tersebut. Hukuman yang di berikan adalah dengan mengusir semua Bani Qainuqa’ untuk segera pergi dari Madinah.

Peristiwa lain terjadi pada masa khalifah al-Mu’tashim Billah, khalifah kedelapan dinasti Abbasiyah. Kota Amurriyah yang dikuasai oleh Romawi saat itu berhasil ditaklukkan oleh al-Mu’tashimbillah. Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan. Dan di antara faktor yang mendorong penaklukan kota ini adalah karena adanya seorang wanita dari sebuah kota pesisir yang ditawan di sana. Ia berseru, “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!” Setelah informasi itu terdengar oleh khalifah, ia pun segera menunggang kudanya dan membawa bala tentara untuk menyelamatkan wanita tersebut sekaligus menaklukkan kota tersebut. Setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut al-Mu’tashim mengatakan, “Kupenuhi seruanmu, wahai wanita!”
Dari beberapa peristiwa diatas, jelaslah bahwa umat islam perlu Junnah (pelindung) tak lain bahwa islam hadir dalam kehidupan kita secara utuh, bukan sekedar ibadah ritual semata.

Ukhuwah yang terjalin tanpa batas teritorial negara, Perlindungan yang nyata diberikan oleh kepemimpinan Islam kepada siapa saja yang berhak mendapatkannya. Tanpa memandang negeri asalnya. Permasalahan Rohingya sangatlah mungkin bisa diselesaikan dengan cara-cara seperti ini. Karena islam bertindak nyata memberi solusi pada perlindungan nyawa, harta dan kehormatan manusia. Bukankah ini yang kita rindukan hadir dalam kehidupan kita?? Semoga Allah subhana wa ta’ala senantiasa memberikan perlindungan bagi kita dari tangan-tangan kaum kafir, fasiq dan munafiq.

Wallahu a’alam bishshiwab


OPINI