Revolusi Akhlak, Revolusi Pemikiran, Hingga Revolusi Sistem



Oleh: Djumriah Lina Johan
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Sambutan umat yang begitu luar biasa terhadap kembalinya Habib Rizieq Syihab (HRS) ke tanah air dinilai Sekretaris Umum (Sekum) Front Pembela Islam (FPI) Munarman merupakan representasi simbol kerinduan umat akan keadilan. “Itu yang selama ini dirasakan oleh umat bahwa mereka sedang mengalami ketidakadilan dan mereka sedang mengalami kezaliman,” ujarnya.

Namun, di sisi lain, ia menganggap ada pihak-pihak yang khawatir atas kehadiran HRS di Tanah Air. Tentu saja pihak-pihak yang khawatir ini adalah pihak-pihak yang selama ini sebagai pelaku kezaliman itu sendiri. “Pihak-pihak ini khawatir kalau ada HRS di tengah-tengah umat yang saat ini merasa resah dengan ketidakadilan yang terjadi. Mereka mengkhawatirkan HRS bisa memimpin arah perjuangan umat ini untuk mendobrak kezaliman itu. Untuk menegakkan keadilan itu,” ungkapnya. (Mediaumat.news, 16/11/2020)

Kembalinya Habib Rizieq pun membawa serta sebuah ide bernama revolusi akhlak. Beliau menjelaskan bahwa revolusi akhlak merupakan cerminan dari tindakan Nabi Muhammad saw. Revolusi akhlak ini pun diharapkan menjadi senjata umat melawan ketidakadilan serta kezaliman yang dilakukan oleh rezim.

Revolusi akhlak harus didasari revolusi pemikiran yang berpengaruh terhadap cara pandang terhadap dunia atau world of view. Hal ini berangkat dari pemahaman bahwa manusia diciptakan Allah untuk beribadah, yaitu taat kepada Allah dan pasti akan kembali kepada Allah. Karena hidup di dunia hanya sementara. Rasulullah saw bersabda, “…Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti pengendara yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi)

Di dalam QS. Al-Baqarah ayat 197, Allah SWT berfirman, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Puncak dari ibadah adalah takwa. Seluruh waktu, tenaga, bahkan hidup kita tertuju untuk takwa, yaitu melaksanakan seluruh kewajiban dan meninggalkan seluruh keharaman yang ditetapkan Allah. Takwa yang akan membawa hidup menjadi berkah.

Baca juga  Miras Wujudkan Berbagai Kemaksiatan

Hal ini dalam rangka mewujudkan negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Sebagaimana firman Allah, “Andai suatu penduduk negeri itu beriman dan bertakwa maka Allah akan limpahkan keberkahan itu dari langit dan bumi.” (TQS. Al-A’raf: 96)

Sehingga revolusi akhlak harus diletakkan sebagai bagian takwa kepada Allah SWT. Karena akhlak mulia itu adalah ketaatan kepada Allah. Akhlak merupakan bagian dari hukum syara’. Jadi, berakhlakul karimah sebagai bagian takwa ini akan membawa pada masyarakat, bangsa, dan negara yang berkah.

Oleh karena itu, revolusi akhlak harus melalui revolusi pemikiran. Hidup untuk mewujudkan diri, keluarga, bangsa dan negara yang taat kepada Allah. Dan tidak ada keberkahan dari Allah kecuali keberkahan yang tidak ada batasnya.

Namun, keberkahan dari langit dan bumi tidak akan Allah limpahkan selama sistem yang diterapkan masih sistem kufur, yakni sistem Kapitalisme sekuler demokrasi. Inilah penyebab utama ketidakadilan dan kezaliman yang terus menghantui kehidupan rakyat negeri ini.

Upaya melawan ketidakadilan dan kezaliman sebagaimana contoh perjuangan Rasulullah saw, yakni dengan melakukan revolusi sistem sebagai metode perjuangan revolusioner yang sesungguhnya. Hal ini berawal dari revolusi pemikiran dan hasil dari revolusi sistem ini pula akan melahirkan revolusi akhlak. Menengok tata cara Rasul saw dalam membangun peradaban Islam di Madinah akan menggambarkan makna hakiki revolusi pemikiran, sistem, dan menghasilkan akhlakul karimah.

Kita telah memahami benar kondisi bangsa Arab yang semula dikenal sebagai masyarakat jahiliah dengan segudang konflik, martabat perempuan direndahkan, perbudakan, penindasan, ketidakadilan, dsb diubah menjadi masyarakat yang berakhlak mulia dan berperadaban tinggi.

Rasulullah membangun masyarakat Islam selalu berpegang pada wahyu yang datang dari Allah SWT. Hal ini juga diteruskan oleh para Khalifah setelah beliau wafat. Setelah hijrah ke Madinah, beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dengan pengikat kukuh, yaitu akidah Islam. Meleburlah suku Aus dan Khazraj, serta kaum Muslim yang berasal dari Mekah. Tidak ada sekat bangsa di antara mereka. Mereka hanya bersatu dalam ikatan ukhuwah Islamiyah. Bukan ikatan kesukuan dll.

Baca juga  Rohingya Tanpa Junnah Derita Tak Berujung

Sebagai seorang kepala negara, beliau menunjukkan pribadi pemimpin yang mengayomi. Beliau tak pernah lelah mengurusi segala kebutuhan umatnya. Beliau tidak pernah dilayani, namun berusaha melayani dengan segenap jiwanya. Keteladanan beliau didapat karena keteguhan dan kekonsistenan beliau menjalankan hukum Allah di seluruh Jazirah Arab.

Beliau bukanlah pemimpin pencitraan. Namun, citra baiknya terbangun karena keterikatan dan ketaatan beliau pada wahyu yang Allah turunkan. Madinah yang dikenal sebagai kota kecil sebelum datangnya Islam, saat tersentuh Islam, Madinah merevolusi diri menjadi Daulah Islam yang mulai diperhitungkan peradaban Persia dan Romawi kala itu.

Nabi saw berhasil mengubah masyarakat Arab yang berkubang dalam lumpur kejahiliahan menjadi masyarakat yang berbudi luhur dan berperadaban tinggi. Nabi menerapkan hukum Islam dalam sendi kehidupan masyarakat Arab. Mereka berhukum dengan hukum Allah,  berakhlak baik, menjalankan muamalah secara jujur dan amanah, serta memiliki sistem pemerintahan yang kukuh dan sukses menciptakan keadilan.

Dari didikan Rasulullah saw pun lahir para pemimpin yang memiliki akhlak yang agung. Keteladanan kepimpinan khalifah sepeninggal beliau tak perlu diragukan lagi. Pendidikan Rasulullah yang berpijak pada dasar akidah dan contoh nyata menjadikan peradaban Islam sebagai peradaban yang revolusioner. Kita lihat bagaimana akhlak para khalifah sebagai pemimpin. Akhlak yang dibangun dari akidah Islam dan pelaksanaan syariat Islam dalam pemerintahan. Semua diawali dengan revolusi pemikiran hingga terbangunlah akidah yang kukuh dan kepribadian serta akhlak yang luar biasa.

Baca juga  Ratusan TKA Masuk Lagi Merupakan Problem Sistemik

Sebagai contoh, kala Khalifah Abu Bakar merasa ajalnya hampir datang menjemput, beliau memanggil putri tercintanya, Aisyah ra., untuk menyampaikan sebuah wasiat. “Wahai Aisyah putriku, aku telah diserahi urusan kaum muslimin, aku telah memakan makanan yang sederhana dan aku juga telah memakai pakaian yang sederhana dan kasar.

Yang tersisa dari harta kaum muslimin padaku adalah seekor unta, seorang pelayan (pembantu) rumah tangga, dan sehelai permadani yang sudah usang. Kalau aku wafat, kirimkan semuanya kepada Umar bin Khaththab. Karena, aku tidak ingin menghadap Allah sedangkan di tanganku masih ada harta kaum muslimin walaupun sedikit.”

Saat kematian menghampirinya, beliau masih memikirkan harta umat yang ada di tangannya meski seekor unta. Beliau juga menyerahkan seluruh fasilitas milik umat kepada khalifah yang akan meneruskan kepemimpinannya. Beliau tidak ingin mengambil hak yang bukan menjadi miliknya. Sehingga ketika menghadap Allah, beliau memastikan bahwa seluruh amanat yang dipikulkan kepadanya tertunaikan dengan sempurna.

Begitu pula pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra. sebagai kepala negara. Khalifah Umar senantiasa menjaga dan memastikan keluarganya agar tidak menikmati harta rakyat untuk kepentingan pribadi. Khalifah Umar dan keluarganya adalah yang terakhir menikmati kenikmatan hidup setelah memastikan seluruh rakyatnya tidak kelaparan. Saat itu, salah satu anaknya pernah dilihatnya makan daging. Dipanggilnya anaknya tersebut. “Lihat rakyat di sana, masih banyak yang makan roti keras, dan kamu seenaknya makan daging.”

Dengan demikian, sejatinya revolusi yang dibutuhkan umat dimulai dari revolusi pemikiran hingga revolusi sistem kemudian darinya akan lahir peradaban agung yang berakhlakul karimah. Sehingga keadilan ditegakkan secara sempurna dan kezaliman dibumihanguskan dari muka bumi ini. Wallahu a’lam.