Ratusan TKA Masuk Lagi Merupakan Problem Sistemik


Oleh: Munawwarah Rahman

Berita TKA berdatangan ke Indonesia semakin mengusik banyak pihak, pasalnya di tengah gencarnya upaya pemerintah melarang rakyatnya untuk mudik menjelang hari raya idul fitri beberapa pekan yang lalu justru yang terjadi ratusan warga negara asing semakin bebas masuk ke negeri ini. Tak sedikit masyarakat yang protes dengan kejadian ini karena dinilai tak adil.

Seperti dilansir JAKARTA- Presiden Konfederasi Serikat Indonesia (KSPI) Said Iqbal mempertanyakan sikap pemerintah terhadap masuknya ratusan tenaga kerja asing (TKA) asal Cina ke Indonesia secara bebas ketika menjelang hari raya idul fitri, Kamis (13/5/2021).

“Kita setuju penyekatan itu untuk mencegah pandemi, kami setuju kebijakan itu, yang kami enggak setuju rasa keadilan itu tidak ada, TKA melenggang kangkung di tengah pandemi,” kata Iqbal disampaikan dalam konferensi pers yang digelar secara daring lewat Zoom Meeting KSPI, Ahad (16/5/2021) siang.

Selain itu, Iqbal juga mempertanyakan sikap para menteri dan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 yang selama ini keras menyatakan larangan mudik namun justru bersikap sebaliknya terhadap kedatangan para TKA Cina yang diduga sebagai buruh kasar itu. Kedatangan para TKA Cina itu bahkan seolah-olah disambut dengan “karpet merah”.

Lebih lanjut Iqbal mengatakan “Kegarangan hanya nampak di perbatasan-perbatasan kota dalam penyekatan-penyekatan kepada rakyat Indonesia, tajam kepada rakyat sendiri, buruh-buruh Indonesia, tumpul kepada bangsa asing TKA Cina,”

Baca juga  Perpres Bonus Fantastis untuk Wamen

Pilih kasih dan tebang pilih adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan bagaimana mudahnya TKA Cina masuk ke Indonesia. Hal ini tidak hanya di sebabkan dari kelalaina atau lemahnya aturan melainkan legalitas masuknya TKA merupakan konsekuensi fasilitas yang harus diberikan setelah sahnya UU Cipta Kerja.

Seperti di utarakan oleh Said Iqbal yang menduga bahwa bebasnya masuk ratusan TKA Cina ke Indonesia berkaitan dengan kemudahan yang diberikan omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 (UU Ciptaker).

Ia juga menganggap, sejak UU itu diberlakukan para Tenaga Kerja Asing tidak perlu lagi mengantongi surat izin tertulis dari Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) untuk bekerja di Indonesia. Sebagai gantinya, mereka cukup mengisi form Rencana Penggunanan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) yang diserahkan ke Kemenaker.
padahal lanjut Iqbal dalam UU Ketenaga kerjaan Nomor 13/2003, seorang TKA diwajibkan mengantongi surat izin tertulis dari Menteri Tenaga Kerja untuk dapat masuk ke Indonesia. Sekali pun RPTKA sudah di dapat, kehadiran TKA tersebut akan ditolak jika tak disertai surat izin.

Fakta ini sangat menyakitkan masyarakat, karakter kepemimpinan khas kapitalisme membuat rakyat sendiri dianaktirikan dengan kebijakan-kebijakan yang pro asing. Rakyat terus di dorong agar bisa berkarya secara mandiri melalui UMKM-UMKM karena sempitnya dan kompetitifnya lapangan pekerjaan, disaat yang sama pemerintah justru membuat lapangan pekerjaan untuk TKA Cina walau situasi saat ini tidak mendukung untuk meloloskan tenaga kerja dari luar, regulasi yang mudah di ubah menunjukkan peran negara hanya bersifat regulator bukan sebagai pengurus rakyat.

Baca juga  BLT Bagi Pekerja Swasta, Tepatkah?

Pemimpin dalam sistem kapitalis lahir dari Rahim para korporat yang pada akhirnya mereka akan tunduk pada kepentingan para pemilik modal, mereka merencanakan bahkan mengesahkan UU yang mempermudah bisnis korporat walau harus mengorbankan kebutuhan dan keselamatan rakyatnya sendiri dan terbukti adanya UU cipta kerja yang katanya untuk kepentingan rakyat, faktanya adalah untuk memudahkan para pemilik modal, maka jelas ini adalah permasalahan sistemik yang hanya bisa dituntaskan dengan pencabutan UU dan menata ulang sistem ekonomi di dalam negeri.

Satu-satunya sistem ekonomi yang adil dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat adalah sistem ekonomi Islam. Dalam ekonomi Islam, kemandirian ekonomi adalah bagaimana rakyat bisa bekerja memenuhi kebutuhan keluarganya bukan bagaiman rakyat menciptakan lapangan kerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ini sama seperti negara berlepas tangan dari tanggung jawabnya sebagai pelayan untuk rakyat.

Negara lah pihak yang seharusnya menyediakan lapangan kerja atau memberi modal usaha bagi rakyat dan negara tidak akan membiarkan rakyatnya kesulitan dalam mencari pekerjaan ataupun memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, hal ini akan berimplikasi pada masalah ketenaga kerjaan.

Dalam Islam bekerja adalah kewajiban bagi setiap laki-laki yang telah balig, kewajiban ini berkaitan dengan tanggung jawab syariat yang di bebankan padanya untuk menanggung orang yang ada dalam walinya, maka negara diperintahkan sebagai penanggung jawab untuk memastikan kewajiban ini dapat terlaksana dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup, menyediakan keterampilan yang di butuhkan berupa bantuan modal sehingga para laki-laki pencari nafkah bisa melaksanakan kewajibannya, sementara yang tidak memiliki kemampuan karena sakit, cacat, janda yang tidak memiliki kerabat yang menanggung nafkahnya maka negara yang akan menanggungnya.

Baca juga  Sumber Daya Alam Terus Dikuasai Asing

Pembukaan lapangan pekerjaan bisa dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan mengelola SDA secara mandiri, mengelola SDA tentu membutuhkan banyak tenaga kerja ahli maupun teknis jika memang memerlukan tenaga asing karena keahliannya mereka hanya akan disewa karena kemampuannya tersebut untuk aqad ijarah dan mengajarkannya kepada kaum muslimin.

Selanjutnya jika umat muslim telah menguasai kemampuan tersebut, negara bisa dengan mudah menghentikan kontrak kerja. Lahan negara yang luas dimanfaatkan untuk padat karya, dalam Islam tanah yang terlantar selam lebih dari tiga tahun akan diambil alih negara dan diserahkan kepada pihak yang membutuhkan dan sanggup mengelolanya.

Demikianlah yang terjadi didalam catatan sejarah ketika sistem Islam diterapkan dalam naungan Daulah Khilafah, sistem yang terbukti selama 13 abad menjadi rahmat bagi seluruh alam baik muslim maupun non muslim semuanya bisa merasakan keagungannya bahkan kejayaan Islam dunia pun mengakuinya.
Wallohua’lambisshowwab


OPINI