Rakyat Meninggal Saat Isoman, Siapa Tanggung Jawab


Oleh: Putri Wulandari

Meninggalnya rakyat yang sedang menjalani isoman menunjukan kepada seluruh rakya khususnya penguasa di negeri ini untuk semakin sadar diri dan muhasabah bersama bahwa kematian itu tidak mengenal usia, jabatan, harta dan tempat. Apakah usia muda atau tua, pejabat atau rakyat biasa, kaya atau miskin, di rumah sakit atau di rumah kematian akan hadir jika memang sudah waktunya.

Dalam perkara kematian, manusia tidak memiliki kuasa atau opsi sedikit pun untuk mengatur dimana tempatnya, dalam kondisi apa, memajukan atau memundurkan waktunya dan lain-lain, namun manusia memiliki opsi ikhtiar sebelum kematian datang, apakah setiap manusia sudah mengisi umurnya dengan amal kebaikan, apakah masyarakat sudah menghidupkan nilai-nilai kebaikan adab dan akhlak yang agung dalam lingkungan, apakah perasaan simpati dan empati kepada tetangga yang terinveksi covid tumbuh dalam masyarakat ataukah perasaan individualis, cacian, perlakuan kasar dan adab yang buruk malah yang tumbuh, apakah pemerintah sudah mengurusi rakyatnya dengan maksimal dengan pelayanan yang mensejahterakan rakyat berdasarkan pedoman hidup yang mulia Al-Qur’an dan Sunnah.

Baca juga  Politik Dinasti Bentuk Kewajaran Dalam Alam Demokrasi

Opsi ikhtiar inilah yang seharusnya kita sadari dan gerakkan bersama, mari seluruhnya mengetuk lubuk hati kita yang paling dalam dan paling suci, bahwa kita semuanya merindukan kehidupan yang damai, keluarga yang sejuk, negara yang sejahtera, rakyat yang bahagia, dan ibadah yang tenang. karna aturan sekulerisme barat yang menjadi kiblat negeri ini sudah membuat Mata, telinga, pikiran, waktu, tenaga ini sudah capek menyaksikan setiap hari kekerasan rumah tangga, kenakalan remaja, pejabat korupsi, tindakan arogan petugas keamanan, pembunuhan, pemerkosaan, kemiskinan, miras, narkoba, penistaan agama dan lain-lain yang merusak generasi dan negeri ini.

Baca juga  Ancaman Disintegrasi Di Balik Topeng Demokrasi

Kesadaran untuk memutus tali sekularisme barat yang telah mengikat dan merusak negeri ini harus kita putus bersama, jika akar masalah penyebab segala kerusakan yaitu sekulerisme barat ini masih terus kita biarkan mengendalikan negeri ini maka kerusakan akan masih terus menjadi tontonan tiap hari dan akan menjadi warisan terburuk kepada generasi selanjutnya.

Baca juga  Mewujudkan Kembali Kemenangan Islam

Namun jika seluruh rakyat sadar untuk memberikan warisan kehidupan yang damai kepada generasi penerus, maka harusnya kita putuskan saat ini juga untuk menolak lagi dikendalikan oleh sekulerisme barat dan lebih memilih tunduk pada aturan Tuhan syariah Islam, jika bukan hari ini kapan lagi, jika bukan generasi maka generasi yang mana lagi. Hadiah terbaik untuk anak-anak dimasa depan generasi penerus bangsa adalah menerapkan syariah Islam di generasi kita.

Wallahu a’lam bissawab