Puluhan Mahasiswa “Kepung” Tugu Juang Kota, Ini 16 Tuntutannya untuk Pemkab Majene


SULBAR99NEWS.COM-MAJENE, Kamis, 28 Oktober 2021 pukul 14.30 wita di Tugu Juang Kota jln.Gatot Subroto lingkungan Battayang kelurahan Banggae kecamatan Banggae kabupaten Majene, telah berlangsung aksi unjuk rasa dari Solidaritas Perjuangan Mahasiswa Majene yang tergabung GMNI, SEMUT, FPPI, GMKI, IMM.

Aksi unjuk rasa tersebut dikoordinir Ramli (35) yang bertindak sebagai Koordinator Lapangan (Korlap). Sekitar 50 orang massa ikut dalam aksi tersebut.


15 lembar bendera organisasi mahasiswa dilengkapi tiang dengan ukuran yang bervariasi dan 3 lembar spanduk yang bertuliskan Laksanakan reforma agraria, prioritaskan pembangunan jalan, Butuh badut lucu hubungi pemda dan Haruskah suara rakyat suara tuhan ikut mewarnai aksi unjuk rasa itu.

Penyampaian orasi dilakukan secara bergantian oleh massa aksi mengatakan hari ini mereka turun ke jalan mengawal masyarakat Majene. “Selama ini kami tertindas dari penguasa tidak yang bertanggung jawab. Kita disini anak yang terlahir dari petani, turun ke jalan di bawah terik matahari . Begitupun orang tua kita yang ada di desa merasakan perjuangan yang kita lakukan saat ini,” ujar salah seorang orator dalam aksi itu.

Baca juga  Maluku Tenggara Diguncang Gempa Berkekuatan 5,0 Magnitudo

Mereka juga menyuarakan jeritan rakyat, yang dikuasai hak-hak nya oleh pemerintah. “Perjuangan hari ini kita lakukan semata-mata untuk kepentingan rakyat, menuntut kejelasan dari pemerintah Majene, menuntut pemerintah Majene untuk membubarkan staf khusus yang dibentuk, yang hanya membuang buang anggaran. Kami nilai itu hanyalah pemborosan, olehnya itu kami dari himpunan mahasiswa yang tergabung, menolak staf khusus yang dibentuk oleh pemerintah daerah Majene,” tambahnya.

Baca juga  Ambulance Mamuju Tabrak Dua Warga di Barru, Seorang Meninggal

Selain itu, massa juga menyebut pemerintah Majene belum maksimal dalam penanganan korban bencana yang ada di kecamatan Malunda dan Ulumanda. “Sering kita dengar bahwa Majene adalah kota pendidikan, tapi sampai saat ini belum terwujud karena pemerintah kurang menyikapi permasalahan mengenai bidang pendidikan. Dana yang digunakan pengadaan Videotron adalah suatu pemborosan, sebaiknya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat,” tambahnya lagi.

Adapun 16 tuntutan dalam aksi tersebut yakni :

  1. Surat Edaran Dinsos (Tolak Vaksinasi Sebagai Syarat Administrasi).
  2. Videotron (Jangan Wajibkan 34 OPD Untuk Pemasangan Iklan).
  3. Bubarkan Staf Khusus Bupati.
  4. Bantuan Korban Gempa (Percepat Penyaluran Dana Stimulan Korban Gempa).
  5. Jampersal & BPJS (Selesaikan Persoalan Bpjs Dan Jampersal).
  6. SDA (Wujudkan Reforma Agraria Sejati).
  7. Bus Sekolah (Tambahkan Armada Bus Sekolah).
  8. DAMKAR (Tambahkan Armada Damkar).
  9. Reklamasi (Menagih Janji Hentikan Reklamasi).
  10. Pembangunan Jembatan Salutahongan-Lombang Timur (Bangun Kembali Jalan Penghubung 2 Desa).
  11. Bantuan Pembangunan Sekolah ( Percepat Pembangunan Sekolah Yang Rusak Akibat Gempa).
  12. Drainase ( Evaluasi Kembali Pembangunan Drainase).
  13. lsu Jalan Ulumanda (Prioritaskan Pembangunan Jalan Ulumanda).
  14. Ambulance (Tambahan Unit Ambulance).
  15. Baznas (Evaluasi Baznas).
  16. wujudkan Majene Sebagai Kota Pendidikan
Baca juga  Jasa Raharja Berikan Santunan Rp 50 Juta Kepada Ahli Waris Anggota DPRD Basri Mallilingang

Setelah pukul 17.00 wita, aksi unjuk rasa berakhir dalam keadaan aman terkendali.

Aksi unjuk rasa tersebut dirangkaikan menyambut peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Di tengah aksi, sekira pukul 16.04, massa aksi sempat melakukan pembakaran 2 ban bekas sebagai simbol perlawanan massa aksi terhadap pemerintah. (*)