Potret Keluarga dalam Sistem Kapitalisme


Oleh: Sitti Fatimah
(Mahasiswa)

Beberapa waktu lalu Bandung dihebohkan dengan beredarnya kabar tentang sorang anak yang menuntut ayah kandungnya sendiri sebasar Rp 3 miliar. Kasus ini pun berlanjut hingga ke pengadilan Negeri Kelas IA Bandung. Kejadian ini sangat disayangkan karena RE Koswara yang digugat oleh anaknya disebabkan hanya karena persoalan harta warisan. Alih-alih menikmati masa tua dengan anak-anaknya, Koswara malah menjalani masa tua yang tidak mengenakkan akibat perbuatan anak-anaknya.

Kejadian ini bermula saat Koswara ingin menjual tanah yang selama ini disewa oleh anaknya Deden sejak 2012 lalu. Tanah seluas 3.000 meter tersebut adalah milik ayah Koswara. Rencananya Koswara dan saudaranya akan menjual tanah tersebut untuk membeli rumah, membangun masjid kecil, dan dibagi-bagikan pada anak-anaknya. Namun Deden, salah satu anak Koswara keberatan dan tidak mau menjual tanah tersebut karena ia memiliki warung kelontong disana (kompastv, 1/2/2021).

Deden pun melaporkan orang tuanya dan didampingi oleh Masitoh sebagai kuasa hukum Deden. Namun sayangnya Masitoh meninggal karena sakit jantung pada senin 18 januari sehari sebelum persidangan dimulia. Masitoh adalah anak ketiga dari Koswara yang bekerja sebagai pengaraca.

Pada 11 Desember 2020 Koswara membuat surat pernyataan tertulis pada notaris dan didampingi oleh 7 saksi. Surat tersebut berisi tentang kekecewaannya kepada 4 anaknya Masitoh, Deden, Ajid, dan Muchtar karena telah menggugatnya. Selain menuntut Rp 3 miliar, deden juga menuntut ganti rugi material sebesar Rp 20 juta.

Kasus ini mengundang simpati dari berbagai kalangan termasuk anggota DPR RI Dedi Mulyadi. Dedi mengaku heran dengan tingkah laku anak Koswara yakni Deden yang mempersoalkan penjualan tahan warisan tersebut, sementara orang tuanya masih hidup.

Kapitalisme Biang Kerok Terjadinya Kerekatan Keluarga

Bukan hanya koswara yang menjadi korban keganasan kapitalisme, banyak korban lain dengan kasus yang beragam. Misalnya saja seorang anak perempuan yang memenjarakan ibunya di Demak. Selian itu, juga banyak dijumpai anak-anak yang menelantarkan orang tuanya atau membawanya ke panti jompo. Dan lebih parah lagi seorang anak tega membunuh orang tuanya untuk mendapatkan harta warisan. Kejadian ini bukannya diambil dari cerita-cerita di televisi tetapi hal ini memang dijumpai di kehidupan nyata.

Baca juga  BERANI TAMPIL BEDA TANPA LOCKDOWN

Kerusakan yang terjadi dalam keluarga sudah sangat mengkhawatirkan. Masih banyak lagi kasus-kasus lainnya dalam keluarga seperti inses, pembunuhan antar anggota keluarga, dan perceraian. Namun perlu dipertanyakanapakah penyebab dari segala kejadian ini?

Tidak dapat dipungkiri bahwa permasalahan dalam sistem ini terus saja terjadi baik itu dalam perekonomian, pendidikan, kesehatan, sosial-politik dll. Sehingga patut dicurigai sistemlah yang menjadi biang kerok. Sistem kapitalisme yang liberal membawa masyarakat pada gaya hidup yang hedonis dan merusak kepribadian. Pemikiran yang hanya mementingkan diri sendiri pun muncul dari penerapan gaya hidup yang hedonis. Selain itu sistem pendidikan dan lemahnya pondasi keimanan juga membawa pada krisis moral.

Permasalahan ekonomi menjadi salah satu fakto terbesar terjadinya kasus anak menggugat orang tuanya. Gaya hidup yang matrialistik menuntun seseorang menempatkan kebahagian sebatas materi semata. Sehingga mereka rela melakukan apapun bahkan mampu melakukan hal-hal diluar kendalinya misal membunuh orang tua sendiri. Kehidupan sakinah mawadah warahmah pun hilang akibat keegoisan individu yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga.

Selain itu, sekularisme yang menjadi asas dari kapitalisme menjadikan manusia yang individualis. Hak asasi yakni kebebasan individu dilindungi oleh undang-undang menjadikan gugat-menggugat sah dalam kehidupan ini. Akibatnya setiap warga masyarakat berhak menggugat siapa saja termasuk orang tua.

Kajadian-kejadian ini sangatlah menyayat hati dan membuat kita mengelus dada. Orang tua yang selayaknya di manja-manja dan dirawat dengan sepenuh hati dimasa tuanya malah dituntut di pengadilan. Sungguh tega. Tidakkah mereka ingat bahwa yang membesarkan mereka adalah orang tuanya bukan yang lain. Tidakkah mereka ingat betapa besar pengorbanan orang tua dalam merawat dan mendidiknya. Tiap hari orang tua bekerja tanpa lelah, pergi pagi pulang malam hanya untuk memberi kehidupan yang layak bagi anak-anaknya. Bahkan orang tua rela tidak makan asalkan anak-anaknya meras kenyang. Jangankan untuk membalas semua jasa-jasa orang tua, setetes keringanya pun tidak dapat dibanding dengan harga di dunia ini. Jasa orang tua sangatlah besar sehingga tak pantas kita sebagai anak melukai hatinya.

Baca juga  NEGARAKU TERPAPAR CORONA

Negara yang menerapkan sistem kapitalisme kini kehilangan ekstistensinya sebagai pengatur dan pengontrol masyarakat. Peran negara pun terkikis oleh kepentingan sebagian kelompok tertentu. Setiap kebijakan yang diterapkan berlandaskan pada asas untung rugi. Akibaatnya timbullah generasi yang selalu menghitung untung rugi saat melakukan sesuatu, termasuk bersikap kepada orang tuanya.

Cara Islam Menghargai Orang Tua

Islam sangatlah memuliakan orang tua. Seorang anak dituntut untuk berbakti dan menghormati orang tua. Jangankan untuk melakukan kekesaran fisik, melukai hatinya pun dilarang keras dalam Islam. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT.:
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang diantaranya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil’.” (QR. Al-Israa’ 23-24).

Baca juga  Hormati Guru, Berkahlah Ilmu

Selain itu, Islam menempatkan orang tua pada tingkatan yang tinggi. Allah SWT menjadikan rido orang tua sebagai rido-Nya. Sehingga berbakti kepada orang tua merupakan hal yang wajib kecuali perintah yang mengajak kita pada kemaksiatan, Rasullulah Saw. bersabda:
“Rida Allah tergantung rida kedua orang tuanya dan murka Allah tergantung murka keduanya.” (HR. Thabrani).

Islam memiliki sistem tersendiri yang terbukti mampu menjadi pelindung bagi umatnya. Hal ini terbukti sejak Rasulullah Saw. memimpin kota Madinah dan menjadikanya sebagai negara Islam. Masyarakat hidup damai dalam sistem Islam hingga runtuhnya kekhilafahan ustmani di Turki.

Islam memiliki aturan yang mengatur kehidupan masyarakat mulai dari membangun keluarga hingga membangun negara. Setiap aturannya sesuai dengan hukum syara sehingga tidak akan ada kepentingan-kepentigan golongan tertentu.

Negara, masyarakat, dan keluarga akan bekerja sama dalam mewujudkan lingkungan yang damai. Negara akan menjamin pendidikan bagi setiap warganya sehingga setiap warganya akan menikmati pendidikan tanpa khawatir akan biaya. Selain itu negara juga menjamin perekonimian dan kesehatan masyarakat tanpa pungutan baiaya.

Sementara itu masyarakat juga ikut mengawasi setiap individu dan menasehatinya. Masyarakat menjadi control keimanan bagi setiap anak sehingga tercipta lingkungan yang kondusif. Dan yang terakhir adalah keluarga, keluarga menjadi wadah pertama yang mendidik dan membentuk kepribadian Islami pada anak-anaknya. Diusia dini anak-anak diajarkan untuk menghormati dan berbakti kepada orang tua. Sehingga secara otomatis anak-anak akan sadar betapa pentingnya mengahrgai orang tua.

Ketiga elemen tersebut akan bekerja sama untuk membentuk kepribadian yang baik untuk setiap anak. Anak-anak akan taat pada aturan Islam sehingga mereka tidak akan menyakiti orang tua. Selain itu, meraka tidak akan melewatkan kesempatan untuk merawat dan mengasihi oang tua mereka. Wallahu a’lam bishawab.


OPINI