Perempuan Wajib Kha Bekerja??? (Bagaimana Pandangan Dalam Islam)


Oleh : Sitti Hadijah ( Dosen Ekonomi Unsulbar)

Kisah perempuan akan selalu menjadi pembahasan yang tidak akan pernah sampai pada episode terakhir untuk di perbincangkan, sehingga kita akan melihat begitu banyak fakta dan fenomena yang akan selalu menarik untuk di Analisa khususnya tentang bagaimana posisi seorang perempuan dalam dunia kerja, wajib kha?.

Pergerakan dunia kerja pada hari ini dalam sistem Kapitalisme mengarahkan seorang perempuan untuk memfokuskan diri dalam dunia kerja bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Sehingga akan banyak sekali kita dapatkan bagaimana seorang perempuan berlomba-lomba masuk dalam dunia kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga mereka, dan  tidak sedikit dari kalangan mereka bekerja untuk mempertahankan eksistensi mereka untuk tetap bisa memiliki nilai sosial di tengah-tengah masyarakat.

Tanggal 19 Desember 2020 dalam sebuah kegiatan digital event “Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak”   dalam rangka memperingati hari Ibu, dimana dalam kegiatan tersebut  ada banyak informasi yang di sampaikan antara lain  lain adalah Perempuan bekerja hari ini memang sudah eranya, sehingga slogan yang diangkat perempuana bisa, mampu dan dapat berperan sebagai motor ekonomi  keluarga, dalam kegiatan tersebut juga disampaikan bahwa perempuan bekerja dalam rangka  mewujudkan keadilan ekonomi, terutama dalam kondisi  perempuan dewasa tapi belum menikah, bercerai, penghasilan suami kurang, sehingga  seruan untuk kalangan perempuan untuk menggalakkan ekonomi keluarga sangat di sambut antusias oleh kaum perempuan ini di perkuat data statistic yakni Data 2019 menunjukkan  partisipasi perempuan yang bekerja sebanyak 48 juta lebih banyak berperan di tenaga usaha  jasa  dengan dominasi mencapai 58% lebih tinggi di banding dengan tenaga kerja usaha laki-laki. 

Baca juga  SISTEM SEKULER LAHIRKAN GENERASI KEBLINGER

Kalau di analisis semakin dalam justru ini memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa sistem demokrasi hari ini berada pada potret kegagalan yang menggunakan sistem ekonomi kapitalisme dalam mensejahterakan perempuan sehingga perempuan dipaksa untuk bekerja,  dengan berlindung di balik kalimat bahwa sudah masanya perempuan untu maju dan berkembang bahkan setara dengan posisi laki-laki.

Gerakan yang manipulatif ini tanpa di sadari berarti memaksa  perempuan untuk melakukan kewajiban laki-laki sebagai pencari nafkah untuk keluarga dan mengikis pemahaman bagi laki-laki tentang peran mereka dalam keluarga, akhirnya posisi menjadi tidak jelas dan membingungkan serta kabur dan selanjutnya mampu  merusak tanggung jawab kepada laki- laki sebagai penanggung jawab mereka dalam keluarga, akibatnya akan banyak perempuan dan anak-anak di biarkan tanpa jaminan keuangan dan para ibu ditinggalkan untuk berjuang sendiri secara finansial. 

Baca juga  Campakkan Demokrasi Atau Otoriter! Pilih Perubahan ke Arah Islam

Dalam sistem Islam sangat berbeda, dalam sejarah peradaban Islam Yakni Daulah Islam yang menerapkan  Syariah secara Kaffah, maka pengaturan dalam islam adalah di berikan hak nafkah sepanjang hidupnya seiring penciptaannya sebagai manusia tanpa meminta mereka dan memaksa mereka untuk bekerja (hak Nafkah) dan ini menjadi kewajiban laki-laki kepada perempuan. Laki-laki yang masuk dalam status Mukallaf memastikan semua  masuk dalam bursa kerja dan tidak diperbolehkan ada laki-laki memiliki sifat malas dan menjadi pengangguran. 

Mekanisme ekonomi  makro dan mikro  memastikan semua laki-laki masuk dalam serapan kerja untuk melakukan kewajiban mereka dalam pemenuhan nafkah kepada keluarga mereka, sehingga kita tidak akan mendapatkan sebuah fakta dalam system pemerintahan Islam mengeluarkan sebuah regulasi yang merampas pekerjaan seorang laki-laki bahkan PHK Massal, gelombang pengangguran secara massal seperti yang ada sekarang. 

Baca juga  Penistaan Agama Berulang di Negeri Sekular

Lalu bagaimana perempuan yang ditinggal suaminya dan tidak memiliki laki-laki (sumber nafkah) dalam melanjutkan kehidupan mereka, maka  dalam kondisi seperti ini negara akan ikut langsung menyelesaikan permasalahan tersebut dengan memberikan penjaminan nafkah langsung tanpa memaksa perempuan untuk masuk dalam dunia kerja sehingga melupakan peran utama mereka sebagai perempuan mulia yang akan menjadi pendidik utama dalam menciptakan generasi emas di masa yang akan datang. 

Gambaran dalam khilafah islam juga memberikan pemenuhan pokok massal yakni Pendidikan dan Kesehatan diberikan secara Free kepada masyarakatnya. Sehingga sangat membantu masyarakat untuk tidak memasukan lagi kedalam pengeluaran mereka. Dengan gambaran tersebut  harusnya era perempuan ini  menyadari haknya sebagai perempuan yang memiliki hak nafkah sepanjang hidupnya, sehingga terjamin kondisi keuangan mereka dan  perempuan tidak berada pada posisi yang  terpaksa harus bekerja,  karena  bekerja  bagi seorang perempuan  dalam peradaban islam adalah  Mubah. Dengan pemahaman tersebut seorang perempuan akan tetap terjaga kehormatan mereka dan fokus kepada kewajiban utama mereka yakni ummu warobatul bait. Wallahu A’lam Bissawab


OPINI