Penolakan Jenazah Covid-19, Minim Edukasi


Oleh: Hamsina Halik, A. Md. (Pegiat Revowriter)

Lagi, penolakan terhadap jenazah covid-19 terjadi. Tentu saja hal ini meninggalkan tanda tanya besar, mengapa penolakan jenazah covid-19 terus saja ada. Pengurusan jenazah sudah sesuai standar untuk pasien covid-19 dan tidak akan menular sehingga tidak membahayakan. Seharusnya masyarakat tak perlu khawatir. Dan menerima dengan lapang pemakaman jenazah ini. Sebab, jenazah pun punya hak untuk dimakamkan dengan layak sesuai ketentuan agama.
Kali ini, penolakan terjadi di Kelurahan Sinyonyoi, Kecamatan Kalukku, Mamuju. Jenazah terindikasi covid-19 ditolak warga ketika hendak di kebumikan di Kompleks Pekuburan Balatedong. Akibat penolakan, lokasi pemakaman dipindahkan ke Pekuburan Islam Padang Panga di Kelurahan Karema, area Kota Mamuju.

Padahal, lokasi pekuburan tersebut sudah dihibahkan untuk pemakaman pasien covid-19. Sebagaimana dilansir dari liputan.com, “Kepala BPBD Sulawesi Barat Darno Majid mengatakan, lokasi pekuburan itu sudah dihibahkan oleh pemilik lahan kepada Pemprov Sulawesi Barat untuk menjadi lokasi pemakaman pasien Covid-19.

Baca juga  Toleransi Semu Natal dan Tahun Baru

Menyikapi hal ini, MUI meminta warga tak perlu khawatir. Sebab, pengurusan dan pemakaman jenazah pasien positif covid-19 atau berstatus PDP menggunakan protokol kesehatan ketat, sehingga tak ada yang perlu ditakutkan. Sebagaimana dilansir dari Radar Sulbar, 08/05/2020.
Salah satu yang menjadi alasan terjadinya penolakan ini adalah tidak adanya koordinasi atau sosialisasi kepada warga terkait dengan covid-19 ini. Sebagian besar warga masih awam. Tahunya hanya covid-19 ini berbahaya dan menular. Sehingga kekhawatiran yang sangat luar biasa meliputi mereka. Khawatir akan terkena dampak dari jenazah covid-19 dan orang-orang yang terlibat langsung dengan covid-19 ini.

Warga tak bisa sepenuhnya disalahkan atas tindakan mereka. Jika saja informasi akurat dan edukasi mengenai seperti apa covid-19 ini, tingkat bahayanya, penularannya hingga pencegahannya, tentu warga tidak akan panik dan khawatir. Sampai harus menolak jenazah covid-19 ataupun yang masih terindikasi covid-19. Akibat kurangnya informasi akurat dan edukasi seputar covid-19, membuat masyarakat berasumsi sendiri dan bertindak sendiri dalam upaya bagaimana pencegahannya.

Baca juga  Merayakan Panen Raya dengan Impor Beras

Selain itu, membangun pandangan positif ditengah-tengah masyarakat terkait orang-orang yang meninggal karena wabah. Agar memuliakan jenazah tersebut. Bukan sebaliknya menghinakannya hingga menolak pemakamannya. Sebab, Allah SWT telah menyebutkan bahwa orang yang meninggal karena terkena wabah, mereka adalah syuhada’ akhirat (jika mereka muslim dan meninggal dalam keadaan terikat dengan aturan Allah SWT).

Dalam Islam, ketika wabah melanda sebuah wilayah maka pemimpin dalam hal ini Khalifah akan segera mengambil tindakan untuk mengkarantina wilayah tersebut agar penyebarannya tak keluar ke wilayah lainnya. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Al-Bukhari).

Baca juga  Hormati Guru, Berkahlah Ilmu

Selain itu, mengupayakan dengan maksimal mungkin pemberian informasi akurat dan edukasi yang tepat kepada masyarakat. Sehingga masyarakat pun memiliki kesiapan dalam menghadapi pandemik. Dalam hal ini negara, media dan tokoh umat saling bersinergi dalam penyebaran informasi terkait wabah dan bagaimana pencegahannya.

Negara sebagai penyedia informasi yang akurat dan edukasi yang tepat, kemudian media menyebarkannya sesuai dengan arahan dan perintah dari khalifah. Sifat penyebarannya harus menjangkau seluruh kalangan umat dan pelosok wilayah, baik melalui media cetak, media sosial yang terhubung langsung ke pemerintah, televisi atau pun radio. Sedangkan tokoh umat, dalam hal ini para ulama juga berperan dalam memahamkan umat, mengedukasi mereka, mengokohkan akidahnya, bahwa tak hanya tawakal tapi juga dibutuhkan upaya pencegahan. Dengannya, masyarakat pun tahu paham dan tahu apa yang harus dilakukan dalam kondisi pandemik ini.
Wallahu a’lam.


OPINI