Penguasa Yang Tak Layak Dikritik


Oleh: Mariani Ani

Kritik kepada penguasa adalah bagian dari perintah agama.

Tapi tidak semua penguasa layak dikritik.

Penguasa seperti Abu Jahal tidak akan memahami bahasa kritik.

Abu Jahal cuma tahu bahasa pedang dan perang. Bunuh, bunuh, dan bunuh.

Sumayyah dibunuh oleh Abu Jahal dengan tombak tepat di kemaluan wanita mulia itu.

Baca juga  Polemik Larangan Mudik, Bukan Tebang Pilih?

Rasulullah saw diawal sampai akhir dakwah Mekkah berada dibawah ancaman pembunuhan dari Abu Jahal.

Itulah gambaran penguasa yang memang tak layak dikritik.

Jauh-jauh sebelumnya, ayat al qur’an menuntun nabi saw untuk bersikap menjauhi kaum musyrikin, bukan mengkritiknya.

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik.” (QS. Al Hijr 94)

Baca juga  Ramadhan Momentum Tobat Kolektif

Kritik dilakukan saat penguasa masih menerapkan Islam dan menjalankan dakwah risalah keseluruh alam.

Rasulullah saw melarang para sahabat mengangkat pedang terhadap penguasa sepanjang penguasa masih menegakkan sholat.

“Maa aqaamu fiikumus sholah”

Baca juga  Campakkan Demokrasi dan Otoriter atau Perubahan ke Arah Islam, Pilih Mana?

(selama masih menegakkan sholat ditengah kalian).

Lebih jauh para ulama menjelaskan maksud hadist ini yakni selama masih mendakwahkan risalah islam.

Penguasa tipe yang ini yang masih layak dengan kritik.

Lalu terkategori apa penguasa kita hari ini?

Jawabannya ada di setiap kepala yang masih bisa berfikir waras.