Dibaca : 17 kali.

Penetapan Hari Ibu, Apakah Memberikan Solusi?


Oleh: Ummu Aulia

Setiap tahunnya, pada tanggal 22 Desember peringatan Hari Ibu diadakan. Sudah menjadi kebiasaan momentum ini dijadikan sebagai waktu yang tepat untuk mengungkapkan rasa cinta, kasih dan sayang seorang anak pada ibunya.

Peringatan hari ibu ini dilatarbelakangi kongres yang mempertemukan seluruh perempuan Indonesia untuk membicarakan perjuangan dalam melawan kolonialisme.

Cikal bakal hari ibu bermula pada Kongres Perempuan Indonesia I yang diadakan tepat dua bulan setelah Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Adapun tujuan diadakannya Kongres ini adalah semata-mata untuk mempersatukan seluruh organisasi perempuan saat itu didalam suatu Badan Federasi. Tanpa memandang latar belakang agama, politik, dan status sosial dalam masyarakat.
Hal utama yang menjadi pembahasan dalam Kongres Perempuan saat itu adalah tentang perkawinan, pendidikan, dan perlindungan terhadap perempuan dan anak anak.

Dalam pertemuan ini diambil sebuah keputusan untuk mendirikan sebuah organisasi perempuan yang diharapkan bisa merubah nasib perempuan terutama dalam hal pendidikan, perlindungan , dan aktifitas politik. Organisasi ini pada saat itu diberi nama Perikatan Perempuan Indonesia (PPI).

Pada tahun 1938 pada tanggal yang sama yakni 22 Desember Kongres Perempuan III kembali diadakan dan saat itulah Gagasan peringatan Hari Ibu muncul. Tujuan peringatannya adalah memperjuangkan kemerdekaan dan memperbaiki keadaan perempuan Indonesia. Peringatan hari ibu tak hanya ada di Indonesia tetapi juga diberbagai negara lain yang ada di dunia seperti Polandia,Qatar,India, Malawi, Thailand.

Baca juga  Habits Perilaku Korupsi dengan KPK akankah Habis?

Apakah Memberikan Solusi?

Sampai saat ini kita masih bisa melihat berbagai fakta mengenai berbagai persoalan yang terus membelit kehidupan perempuan. Kemiskinan, ketidakadilan, diskriminasi, dan kekerasan seolah tak bisa lepas dari kehidupan mereka dan ini terjadi merata di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Di Indonesia, jutaan anak-anak perempuan diatas 15 tahun masih buta aksara karena sulitnya mengakses pendidikan. Jutaan perempuan pun rentan dengan penyakit yang identik dengan kemiskinan seperti gizi buruk, TBC, disentri, malaria dan kematian ibu saat melahirkan masih sangat tinggi.

Kemiskinan juga yang mendorong kaum perempuan khususnya kaum ibu untuk terjun ke dalam dunia kerja yang tak ramah dan tidak memihak perempuan. Di mana sebagian besar hanya menjadi roda pemutar mesin-mesin pabrik kapitalis. Bahkan hak-hak mereka sebagai perempuan terenggut dalam dunia kerja seperti hak cuti haid, cuti melahirkan dll. Ini hanya sebagian kecil fakta mengenai kondisi kaum perempuan saat ini.

Baca juga  Komersialisasi Tes Corona

Di negara lain juga terdapat begitu banyak fakta persoalan yang dialami oleh perempuan seperti yang dialami perempuan muslim di Uighur, Palestina, Rohingya dan yang lainnya. Ini menjadi bukti bahwa adanya penetapan Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember sejak tahun 1938 di Indonesia yang kemudian diperingati setiap tahunnya tidak lantas menjadi solusi yang bisa menyelesaikan persoalan perempuan secara tuntas. Begitupun halnya berbagai organisasi yang terbentuk untuk memperbaiki nasib para kaum perempuan tidak bisa memberikan solusi yang nyata. Sebab, nasib kaum perempuan masih tetap berada dalam kondisi memprihatinkan.

Islam Memuliakan Perempuan

Allah Swt telah menciptakan manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam kerangka penghambaan.

Islam memberikan posisi yang sangat mulia bagi perempuan yakni sebagai ummu warabbatul bait (Ibu dan pengurus rumah tangga). Peran ini adalah peran yang sangat strategis bagi sebuah bangsa dan umat.

Untuk itu, Allah swt telah menetapkan sebuah aturan yang menjaga perempuan dan kehormatan mereka, sehingga posisi itu bisa berjalan sebagaimana mestinya. Dalam islam negara menjamin setiap hak perempuan baik dalam hal pendidikan, perlindungan, maupun kesejahteraan.

Baca juga  Aceh: Membuka Mata Dunia Persaudaraan Muslim Itu Kuat

Sebagai contoh, pengepungan yang dilakukan oleh pasukan Rasulullah terhadap entitas Yahudi Bani Qainuqa karena telah melecehkan seorang muslimah di pasar mereka dan peristiwa penaklukan wilayah Amuria oleh tentara Mu’tashim Billah yang dipicu oleh pelecehan terhadap muslimah diwilayah perbatasan.

Contoh lainnya adalah kisah Umar bin Khattab yang saat itu menjabat sebagai kepala negara senantiasa melakukan patroli untuk memastikan semua warga negaranya terpenuhi kebutuhannya. Beliau bahkan tak ragu untuk memanggul karung gandum demi memenuhi kebutuhan seorang Ibu dan Anaknya. Tidak hanya itu, Ummar bin Khattab juga pernah menetapkan kebijakan menggilir pasukan jihad perempat bulan demi mendengar keluhan seorang istri yang merindukan suaminya ketika berjihad.

Begitu banyak bukti yang menunjukan bahwa Islam yang dipresentasikan dalam sebuah negara Islam begitu memuliakan perempuan, menyejahterakan kehidupan mereka bahkan umat secara keseluruhan.

Jauh berbeda dengan sistem hari ini begitu banyak upaya yang dilalukan untuk memberikan solusi bagi persoalan perempuan saat ini baik berupa pembentukan organisasi ataupun penetapan hari-hari tertentu, akan tetapi tidak satupun yang bisa menyelesaikan persoalan perempuan sampai detik ini.

Wallahu a’lam.