Terbaik terbaik

Pembangunan “Pariwisata” Majene Sebaiknya Dihentikan


Sulbar99.com, Majene. Mengembalikan Estetika  Pariwisata Kota Tua Majene sebagai ibukota Afdelling Mandar.“Jika Pemahaman pembangunan fisik hanyalah menghancurkan yang lama dan  membangun yang baru, maka  PEMBANGUNAN (Pariwisata) MAJENE SEBAIKNYA DIHENTIKAN.., ” ini adalah petikan wawancara Wartawan Sulbar99.com Muhammad Akbar dengan Mursidin, penggiat komunitas Kota Tua Majene,  Alumni Whatcom Community College jurusan Manajemen Bisnis Pariwisata dan Pelayanan, Alumni Akademi Pariwisata Makassar, Universitas Satria Makassar dan saat ini terdaftar sebagai Mahasiswa Pasca Sarjana University of New Orleans, USA  Jurusan Manajemen Pariwisata.

Berikut Petikan wawancara lengkapnya:

Sebelum kita berbicara mengenai Pariwisata Majene, menurut Bapak apa itu Pariwisata?

Ada banyak pemahaman dan definisi mengenai  Industri Pariwisata, tapi ringkasnya Pariwisata ialah segala efek, atau impact yang terjadi karena adanya perjalanan,  jika anda melakukan perjalanan ke Jakarta misalnya apapun tujuannya, anda akan butuh the basic needs in travelling:  transport, akomodasi, dan Makanan, dan kebutuhan lanjutan seperti kenyamanan, hiburan dan lain lain, industry yang memenuhi semua ini disebut industry Pariwisata.

Tujuan Pariwisata sendiri?

Di Indonesia tujuan Pariwisata ada beberapa poin, hal ini bisa anda lihat di UU no. 10 th 2009 tentang kepariwisataan. Ditinjau dari aspek bisnis Pariwisata tujuan pariwisata adalah meningkatkan ekonomi daerah tujuan wisata setempat, khususnya keadaan ekonomi masyarakat  di sekitar objek wisata.

Lalu apa ukuran keberhasilan Pariwisata suatu daerah?

Sekarang banyak daerah mengukur keberhasilan pariwisata melalui tercapai tidaknya target PAD yang dibebankan, padahal  target PAD biasanya jauh lebih rendah daripada BEP (Break even point) biaya atau dana yang sudah dikucurkan untuk pengembangan Pariwisata daerah. Cara yang paling mudah mengukur  keberhasilan Pariwisata suatu daerah ialah dengan mengukur berapa banyak pengangguran  yang mendapatkan pekerjaan  karena Pariwisata, berapa banyak masyarakat yang meningkat keadaan ekonominya karena industry ini, khususnya masyarakat di sekitar objek wisata. Kalau hanya hitungan di atas kertas yang dilihat, atau dengan banyaknya event suatu daerah,  niscaya akan jauh dari realita keberhasilan pariwisata suatu daerah.

Baca juga  Sambut Hari Kartini. Wawancara Khusus Nona Vivi Sri Dewi, SH (Hakim Pengadilan Negeri Majene) “Memilih Profesi Hakim Semata-Mata Panggilan Hati Nurani”

Bagaimana anda melihat Pariwisata Majene??

Sebelum menjawab itu, saya ingin katakan bahwa ada pemahaman yang keliru mengenai Pariwisata di daerah ini, khususnya para pengambill kebijakan, banyak yang berfikir bahwa keberhasilan Pariwisata Majene adalah tanggung jawab penuh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, padahal Pariwisata suatu daerah akan berkembang jika semua Stakeholder Pariwisata duduk bersama merencanakan, berbagi tugas, dan sama mengikuti garis besar Perencanaan Pengembangan Pariwisata daerah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata   dalam hal ini kadang terlihat seperti beberapa  pemain bola di barisan gelandang yang hanya terus berputar di Lapangan tengah tanpa menghasilkan gol.

Siapa stakeholder Pariwisata yang anda Maksud?

Semuanya, mulai dari Bupati, DPRD, semua OPD, komunitas masyarakat khususnya di daerah sekitar objek wisata, masyarakat ekonomi semuanya harus duduk bersama.

Bukankah sudah ada Musrenbang??

Beda,, musrenbang cakupannya terlalu luas, ini seperti musrenbang khusus untuk Pariwisata, namun diikuti semua SKPD dan stakeholder lainnya, mereka harus  merencanakan merumuskan  pembangunan Pariwisata Jangka pendek, menengah dan panjang . Dan jika rumusan pembangunan Pariwisata ini sudah ada sosialisasi dan eksekusinya benar benar harus dilaksanakan.

Menurut anda pembangunan Pariwisata di Majene ini gagal??

Anda yang katakan itu,, menurut saya  sama sekali tidak gagal, Bapak Bupati telah memprioritaskan Pariwisata dalam program beliau, teman-teman  di OPD dan komunitas Pariwisata semuanya sudah bekerja keras, seperti tadi saya katakan  kita bermain di lapangan tengah, maju mundur, bahkan kadang permainan terlihat  indah namun gol tidak kunjung tercipta.

Baca juga  Sambut Hari Kartini. Wawancara Khusus Nona Vivi Sri Dewi, SH (Hakim Pengadilan Negeri Majene) “Memilih Profesi Hakim Semata-Mata Panggilan Hati Nurani”

Lalu apa saran anda untuk pengembangan Pariwisata Majene?

Majene ini termasuk daerah Kawasan Pembangunan Pariwisata Nasional, artinya secara nasional Majene diakui  mempunyai potensi  pariwisata yang sangat besar. Selain alamnya yang memang Indah, garis Pantai yang panjang. Kebudayaan Majene juga sangat menarik,, namun yang menarik menurut saya untuk dikembangkan ialah mengembalikan Estetika Majene sebagai ibukota Afdelling Mandar, Kota Tua Majene.

Bisa anda terangkan mengenai ide Kota Tua Majene??

Ide ini bukan hal yang baru, dari dulu banyak teman teman yang menyuarakannya, khususnya komunitas budaya  dan kesenian.  Majene ini mempunyai sejarah yang panjang, dan kebanyakan  lokasi lokasi objek sejarah ini berada tidak jauh  dari kota, bahkan banyak yang  berada di tengah kota. Selain situs situs sejarah dari kerajaan, di zaman Kolonialisme, administrasi pemerintahan Belanda banyak membangun  dan mewariskan banyak bangunan bersejarah. Namun sayangnya banyak yang terbengkalai bahkan dihancurkan.

Maksud anda?

Begini, Jika Pemahaman pembangunan fisik hanyalah menghancurkan yang lama dan  membangun yang baru, maka  pembangunan (pariwisata) Majene sebaiknya dihentikan dulu,, sebelum semuanya habis tidak tersisa. Ada banyak bangunan maupun situs yang seharusnya bisa dijaga, dilestarikan dan dijadikan objek wisata kota tua yang  dapat mendatangkan wisatawan dan menunjang ekonomi setempat. Dan biaya untuk tidak menghancurkan ini jauh lebih murah daripada harus membangun yang baru.

Bisa anda jelaskan tempat tempat yang anda maksud?

Dalam laporan tahun 1926 dokter Kaiser, dokter pertama yang bertugas di Majene sebagai ibukota Afdelling Mandar, sang dokter menggambarkan betapa Indahnya Majene, sungai sungai yang mengalir di tengah kota dan bangunan bangunan yang dibangun oleh pemerintahan Belanda maupun masyarakat Setempat menghiasi kota Majene .  Diantara bangunan yang menarik adalah Residenan  atau setara dengan kantor Bupati saat ini, kantor pertama ini sekarang telah dirubuhkan dan berubah menjadi Gedung Assamalewuang. Bangunan bangunan dan situs  bersejarah juga terdapat di tempat yang sekarang telah berubah menjadi Mesjid Ilaikal Masir,, di Depan SMP 1 juga ada pemakaman tua Belanda  dan orang orang Manado dan Ambon yang dulunya bertugas di Majene, namun tidak terawat sama sekali, rumah rumah warga bahkan menjadikannya batu pengalas tiang rumah mereka, begitupun Rumah Sakit pertama di Majene yang sekarang menjadi museum, bangunannya terlihat tidak terawat  dan  Banyak tempat lain di kota Majene yang berpotensi untuk dirawat dan dipromosikan sebagai bagian dari Majene sebagai kota Tua.

Baca juga  Sambut Hari Kartini. Wawancara Khusus Nona Vivi Sri Dewi, SH (Hakim Pengadilan Negeri Majene) “Memilih Profesi Hakim Semata-Mata Panggilan Hati Nurani”

bagaimana bisa kota tua menjadi objek wisata, bukankah wisatawan lebih menyukai dan mencari hal hal baru??

Begini, manusia itu suka bernostalgia pada hal hal yang indah di zamannya,  trend masyarakat Eropa dan Belanda khususnya, mereka sangat tertarik mengetahui dan menemukan asal muasal mereka, siapa kakek nenek mereka, dan mereka rela keluar uang untuk mengunjungi tempat tempat yang pernah ditinggali oleh kakek nenek mereka, apalagi sampai menemukan kuburan dan jejak sejarah mereka, uang tidak akan menjadi masalah bagi mereka.

Kira kira Berapa Biaya yang dibutuhkan untuk mengembalikan Estetika atau keindahan kota Tua Majene??

Pertama kita harus kembali ke tujuan awal, memajukan ekonomi setempat, jika Majene harus bersaing dengan kota kota lain dengan modernisasi, waterfront city,  dan lain lain biayanya akan sangat besar dan daya saing kita tetap akan dipertanyakan. Namun jika kita Menjadikan Majene ini kota  “MUSEUM”  dengan tema kota Tua Afdelling Mandar, maka biayanya tidak sebesar jika kita harus menghancurkan lalu membangun, atau sampai mereklamasi yang menguras APBD dan APBN kita.

Dengan menjadikan Majene sebagai kota Tua Afdelling Mandar, tidak satu daerahpun yang menjadi saingan kita, karena ibukota Afdelling Mandar hanya satu di dunia ini: Kota Tua Majene.

Harapan bapak dan juga sebagai penutup wawancara ini?

Saya berharap kita khususnya semua stakeholder pariwisata bisa duduk bersama bekerja dalam satu irama dan satu guideline yang jelas, agar gol bisa tercipta. (***)