Paradoks Keberhasilan Mengatasi Pandemi


Oleh: Indah Dahriana Yasin (Ketua Yayasan Cinta Abi Ummi, Makassar)

Sejak awal masuknya virus covid-19 di Indonesia hingga berubah kasus menjadi pandemi, masyarakat telah disuguhkan oleh berita yang simpang siur. Mulai dari sikap meremehkan virus hingga angka atau jumlah korban yang tidak transparan. Hal ini mengakibatkan hilangnya kepercayaan masyarakat. Terbukti dari banyaknya yang tidak mengindahkan protokol kesehatan hingga munculnya rumor bahwa virus ini hanya rekayasa belaka.

Penangan pandemi covid-19 ini pun terkesan tidak serius sejak semula. Lamban mengambil tindangan lockdown yang menyebabkan virus menyebar ke berbagai wilayah dengan sangat cepat hingga kebijakan-kebijakan yang kontradiktif di tengah masyarakat. Sekarang ini kita malah disuguhkan tentang sebuah berita yang menyatakan bahwa negara ini telah berhasil dengan baik mengatasi masalah pandemi. Benarkah demikian?

Epidemiolog dari Griffith University di Australia Dicky Budiman tak yakin undangan Badan Kesehatan Dunia (WHO) kepada Menkes Terawan Agus Putranto terkait keberhasilan penanganan Covid-19 di Indonesia. Menurutnya dari isi surat undangan yang didapatnya, tidak ada pernyataan keberhasilan Indonesia dalam pengendalian pandemi. Undangan tersebut hanya mengakui keberhasilan indonesia dalam menerapkan kegiatan intra-aksi (intra action review/IAR) Covid-19.

IAR merupakan kegiatan perencanaan Indonesia dalam menganggulangi Pandemi Covid-19. Tujuannya agar setiap negara bisa mawas diri terhadap capaian dan kekurangan dalam pengendalian pandeminya.”Jadi undangan konferensi pers itu bukan dalam arti mengakui keberhasilan Indonesia dalam pengendalian pandeminya, tapi apresiasi karena telah melaksanakan kegiatan review IAR yang dianggap ‘sukses’,” ujar Dicky, Jumat (6/11/2020). Dikutip dari Kompas.com.

Baca juga  HALLYU : Bucin Para Millenial

Ilusi Fakta Rezim Demokrasi
Belum lama ini juga presiden Joko Widodo (Jokowi) mengklaim penanganan Covid-19 di Indonesia cukup baik dibandingkan dengan negara-negara lain. “Mari kita menilai berdasarkan fakta dan data, dan bukan berdasarkan kira-kira. Saya bisa mengatakan penanganan Covid-19 di Indonesia tidak buruk, bahkan cukup baik,” kata Presiden Jokowi dalam video yang diunggah melalui kanal YouTube dan Instagram Sekretariat Presiden, Sabtu (3/10/2020). Selain itu dalam video yang diunggah, Jokowi juga menyoroti soal tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Indonesia yang tinggi, yaitu sebesar 74,3 persen. Kompas.com, 4/10/2020
Apa sebenarnya yang menjadi indikator sehingga dikatakan berhasil. Padahal kasus penyebaran virus covid-19 ini cukup tinggi. Bahkan dilansir dari Kompas.com (08/11/2020) berdasarkan data dari worldometers, Indonesia menduduki peringkat 15 di dunia terkait angka kematian covid-19, tertinggi di Asia Tenggara.

Seharusnya tingkat keberhasilan itu diukur dari seberapa besar pemerintah bisa menekan agar penyebaran virus tidak bertambah melebar dan masyarakat teredukasi dengan baik sehingga disiplin menerapkan protokol kesehatan. Bukannya malah sibuk dengan mengolah kata, data dan informasi sebagai bukti prestasi. Padahal kenyataan malah tidak sesuai ekspektasi.

Baca juga  Seruan Boikot Poduk Prancis, Solusihkah?

Namun inilah wajah rezim dalam demokrasi. Memberikan fakta ilusi demi menjaga jati diri. Segala cara ditempuh agar langgeng di atas kursi kekuasaan. Lebih menjaga kepentingan segelintir orang kapital dibandingkan rakyatnya. Sebagaimana diketahui bahwa pandemi ini telah merugikan banyak pelaku industri raksasa yang notabene adalah penopang dana para penguasa di saat pesta pemilihan berlangsung. Maka amanah untuk menjadi perisai bagi rakyat sangat mudah untuk dikhianati.

Keputusan untuk tidak lockdown hingga penerapan kebijakan new normal, semuanya adalah dalam rangka untuk memuluskan jalan para kapital agar usahanya bisa kembali berjalan. Maka wajar jika masyarakat disuguhkan berita ‘ilusi’ tentang pandemi ini untuk mendapatkan kesan bahwa ‘semuanya’ berjalan baik-baik saja dan pemerintah telah menjalankan kewajibannya dengan baik. Dalam sistem demokrasi, pencitraan pun kerap dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan dari rakyat.

Pemimpin Amanah
Memang sulit mendapatkan pemimpin yang amanah dalam sistem demokrasi. Pasalnya, sistem ini ditopang oleh sekularisme-kapitalisme sebagai asasnya, di mana keuntungan sebesar-besarnya menjadi tolak ukur keberhasilan. Walhasil, apapun akan dilakukan utnuk mendapatkan tujuan tersebut. Meski harus mengorbankan kepentingan rakyat banyak.

Padahal, amanah adalah hal penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh pemimpin terbaik sepanjang zaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabat dan pemimpin-pemimpin umat Islam setelahnya.

Baca juga  Serangan Terhadap al Aqsha Terus Terjadi, Tak Cukup Kecaman Semata

Di antara ciri kepemimpinan yang diridhoi Allah adalah pemimpin yang jujur, amanah dan bertanggung jawab. Itulah karakter pemimpin yang akan mengundang turunnya keberkahan dari Allah Subhanahu wata’ala, karena dari kepemimpinannya akan menjadikan rakyatnya semakin bertakwa dan dekat kepada Tuhannya.

Oleh karena itulah Allah menurunkan pernyataan dan janjinya, Allah SWT telah berfirman:
Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu bangsa, maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang bijaksana, dan dijadikan ulama-ulama mereka yang mengendalikan hukum & peradilan, Allah juga jadikan harta perbendaharaan di tangan orang-orang dermawan. Tetapi jika Allah menghendaki kehancuran suatu bangsa, maka dipilihlah pemimpin-pemimpin mereka dari orang-orang sufaha (dungu), hukum dikendalikan oleh orang-orang yang dzalim (jahil), dan harta benda dikuasai oleh segelintir orang yang bakhil” (HR. Ad Dailami).

Kepemimpinan dalam pandangan Islam bukan sekadar kontrak sosial, antara pemimpin dengan rakyatnya, namun merupakan perjanjian antara pemimpin dengan Allah SWT. Bersumpah atas nama Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT.  Karena itu tanggung jawab seorang pemimpin jauh lebih besar dari yang lainnya, karena tanggung jawab pemimpin adalah dunia akhirat. Wallahu a’lam bisshawab.


OPINI