Pandemi Belum Teratasi, Resesi Datang Menghantui.


Oleh : Maisaroh (Karyawan Swasta, tinggal di Kota Sampit)

Ekonom senior Indef, Didik J. Rachbini, menyatakan komunikasi internal pemerintah buruk dalam menangani pandemi covid-19. Jika tim tidak solid, Didik mengingatkan, pandemi ini mustahil dapat teratasi dengan baik.

“Jika covid-19 tidak bisa diatasi, jangan bermimpi bisa mengatasi resesi. Tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa mengatasi pandemi,” kata dia dalam keterangan tertulisnya (TEMPO.CO, 06/08/2020.)

Karut marut, keresahan yang di alami masyarakat Indonesia kian meluas, belum usainya penyebaran virus covid-19. Agaknya, resesi ekonomi menambah keprihatinan bersama. Apabila, hal ini tidak di tangani dengan serius, kemungkinan Indonesia akan mengalami resesi berkepanjangan.

Sebagaimana yang telah dilansir dari tirto.id, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II (Q2) 2020 mengalami kontraksi sebesar 5,32 persen year on year (yoy). Angka ini memburuk dari Q1 2020 yang mencapai 2,97 persen dan Q2 2019 yang mencapai 5,05 persen.

‚ÄúPerekonomian Indonesia Q2 2020 yoy dibandingkan Q2 2019 kontraksi 5,32 persen,” ucap Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8/2020).

Sementara dari laman berita REPUBLIKA.CO.ID, Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Suryo Utomo, gejolak ekonomi akibat covid-19 menjadi momen yang bersejarah karena berdampak pada pengelolaan keuangan negara hingga dilakukan perubahan APBN sebanyak dua kali dan upaya pemulihan ekonomi nasional.

Baca juga  Koruptor Merajalela, Sistem Islam Solusinya

Tak hanya itu, tekanan juga berimplikasi pada penerimaan pajak yang hingga semester I 2020 hanya mencapai Rp513,65 triliun atau 44,02 persen dari target berdasarkan Perpres 72 Tahun 2020 Rp 1.198,8 triliun. Angka tersebut terkontraksi sampai 12,01 persen (yoy) dibanding periode sama tahun lalu yaitu Rp604,3 triliun 15/07/2020.

Benarkah penyebab utama krisis ekonomi sekarang ini adalah karna wabah covid-19 ?

Jika ditelaah lebih jauh, ancaman krisis seperti ini akan terus dirasakan negara yang menerapkan sistem kapitalis-sekuleristik. Dalam sistem ekonomi kapitalis memang secara periodik dan siklik akan mengalami kejatuhan dari waktu kewaktu.

Selain faktor pandemi covid-19, ada beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya resesi.

Sebelum mencuatnya virus covid-19 sudah banyak diperkirakan bahwa dunia akan dimasuki krisis di tahun 2020 dan ketika terjadi pandemi covid-19 secara global maka situasinya semakin parah. Sehingga sudah banyak perkirakan bahwa ekonomi dunia memasuki masa krisis.

Salah satunya adalah besarnya peran sistem finansial sektor non riil, ini adalah ibarat benalu dalam perekonomian. mengapa, karena sektor ini menyerap banyak sekali jumlah uang beredar, perdagangannya juga terjadi dalam skala besar tapi tidak ada barang dan jasa riil yg dihasilkan. Sehingga, tidak ada serapan lapangan kerja yang juga besar dalam sektor itu.

Baca juga  Tunjangan Guru Dihapus, Jaminan Kesejahteraan Terabaikan

Demikianlah, sistem moniter yang berbasis mata uang kertas dan keuangan global saat ini menghadapi masalah serius. Upaya perbaikan ekonomi di suatu negara menyebabkan kerusakan ekonomi di negara lain. Sebab, standar moneter saat ini tidak lagi di serahkan kepada mekanisme otomatis. Tidak sebagaimana yang berlaku pada emas dan perak.

Ditambah lagi, menjadi penyebab adalah motif spekulasi atau perjudian. sepekulasi itulah yg menjadikan ekonomi global itu rapuh. Mengapa, karena sifat tamak yang ada pada manusia menemukan ruangnya dalam mekanisme sistem non riil ini.

Sifat tamak ingin mendapakan kekayaan dalam jumlah yang sangant besar dalam waktu juga cepat telah membuat transaksi jual beli itu terjadi pada saham, pada obligasi, bahkan mata uang juga diperjul belikan, kertas berharga dan lain-lain.

Sehingga, pada akhirnya kita lihat janji-janji yg diberikan dalam konsep ekonomi kapitalis-sekuleristik. Bahwasanya ekonomi itu akan stabil, faktanya kita lihat krisis berulang secara siklik dan periodik. Kemudian janji bahwa peningkatan kekayaan itu akan terjadi bagi semua orang, faktanya kita lihat kemiskinan makin meluas dari waktu kewaktu.

Baca juga  Selamatkan Negeri dari Wabah Covid-19 dengan Solusi Islam

Artinya ada atau tidak ada pandemi, krisis ekonomi maupun resesi akan terus berulang. Hanya saja pandemi ini dampaknya semakin mempercepat ekonomi kapitalis bangkrut

Hal ini tentunya berbeda jika kita bandingkan di sisi lain yang pernah ada dalam sejarah peradaban Islam. Sistem Islam pernah menaungi peradaban Islam selama 1.300 tahun lebih menaungi dunia. Peradaban emas ini ternyata dalam rentan 13 abad itu potret ekonomi yang terjadi sangat tergambar situasi yang makmur, sejahtera dan adil bahkan tidak pernah masuk dalam situasi krisis dalam pembangunan ekonominya selama 13 abad.

Sebab dalam Islam mengharamkan praktek ribawi dan ekonominya berada pada sektor riil.

Begitulah sistem Islam telah teruji dan terbukti. Maka jika ingin mengakhiri pandemi dan resesi ekonomi, maka sudah saatnya beralih pada sistem Islam. Maka keberahan dan kemualiaan akan dirasakan baik muslim maupun nonmuslim. Wallahu ‘alam biss showab


OPINI