Pandangan Nyeleneh ‘Haid Boleh Puasa’, Dimana Peran Negara Menjaga Syariat?


Oleh : Annida Indah Khofiyah (Pelajar di SMKN 2 Majene)

Bismillahirrohmanirrohiim…
Baru-baru ini, viral di kalangan media social bahwa perempuan haid boleh berpuasa. Hal tersebut telah banyak diperbincangkan di jagat maya dan banyak menuai kontra dari para ulama. Hal ini bermula dari salah satu akun mubadalah.id dimana salah satu unggahannya yang mengatakan bahwa perempuan yang sedang haid boleh melakukan puasa.

Berdasarkan detik.com akun media social dengan username mubadalah.id itu menyertakan alasan mengapa perempuan yang sedang haid sampai boleh melakukan puasa. Alasannya menyebutkan bahwa tidak ada satupun ayat yang menyebutkan larangan perempuan haid untuk berpuasa, kemudian ada pula disebutkan bahwa hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA dan riwayat lain yang mengatakan bahwa Rasulullah saw hanya melarang wanita haid untuk melakukan sholat, dan tidak mengatakan melarang untuk berpuasa. Dalam postingan tersebut telah dicantumkan pula sumber dari tulisan Kyai Imam Nakha’I melalui unggahan facebooknya.

Baca juga  The Power Of Pemuda

Berdasarkan hal ini, Pengurus Besar Nahdatul Ulama mengatakan dengan tegas bahwa perempuan yang sedang haid tidak boleh berpuasa. Tidak disebutkan dalam Al-Quran namun ada dua hadits yang menyebutkan bahwa wanita haid tidak boleh melakukan puasa. Islam memiliki 4 pedoman yakni Al-Quran, As-sunnah/alhadits, Ijma dan Qias, itu merupakan 4 rujukan yang dapat di ambil oleh umat muslim sebagai pedomannya.

Al-Quran merupakan qalam Allah dan As-sunnah merupakan qalam Allah melalui perantara Rasulullah. As-sunnah hadir sebagai pelengkap atau penjelas dari Al-Quran yang memiliki arti ambigu, begitu pula ijma dan qias sebagai pelengkap dari as-sunnah jika tidak ditemukan penjelasan yang rinci. Berikut 2 hadits shahih yang melarang perempuan haid untuk berpuasa, menurut hadits imam muslim diceritakan bahwa Aisyah RA berkata: “kami pernah kedatangan hal itu (haid) maka kami diperintahkan mengqada (mengganti) puasa dan tidak diperintahkan mengqada shalat.” [HR.Muslim]. kemudian hadits ke 2 menurut hadits Imam Bukhari Nabi Muhammad saw bersabda : “bukankah wanita itu jika sedang haid, tidak shalat dan berpuasa?”mereka menjawab “ya.”[HR.Bukhari].

Baca juga  Sistem Zonasi PPDB, Efektifkah?

Para ulama pun sepakat dan ijma ulama sudah ada sejak zaman sahabat nabi yang dimana wanita haid tidak boleh untuk berpuasa, dan tidak ada tawar menawar dalam aturan tersebut.

Munculnya pandangan ‘nyeleneh’ mengatasnamakan fikih progresif adalah buah abainya negara melindungi syariah. Bahkan dalam sistem demokrasi saat ini negara mendorong liberalisasi syariah dan menumbuh suburkan pandangan menyimpang yang bisa menyesatkan umat.

Lalu bagaimana tanggapan hal ini dalam Islam?
Ya, Islam dengan tegas melarang hal tersebut, tidak ada tawar menawar dengan aturan itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ini semua dikarenakan tidak adanya junnah yang dapat menjamin kemaslahatan umat, sehingga banyak bermunculan aturan nyeleneh seperti perempuan haid boleh berpuasa yang seharusnya tidak ada karena hal tersebut sudah disampaikan sejak dulu melalui perantara Rasulullah saw.

Baca juga  Mewujudkan Sistem Pendidikan Yang Berkualitas

Junnah yang dimaksud yakni tidak adanya negara ataupun sistem yang dapat menjamin syariah terlindungi. Saat ini satu-satunya yang dapat melindungi syariah hanyalah Khilafah. Khilafah menjamin tidak ada pandangan menyesatkan bias berkembang dan disebarkan karena salah satu fungsi negara adalah muhafazah ala ad-diin.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama menegakkan kembali sistem Islam, Khilafah yang dapat menjamin segala problematika umat. Marilah satukan barisan bersama-sama berjuang menegakkan kembali syariat Islam dalam bingkai Khilafah minhaj-al nubuwwah dengan berdakwah memahamkan kepada masyarakat bahwa syariat Islam adalah satu-satunya solusi atas segala problematika yang ada hari ini.
Wallahua’lam bisshowwab.


OPINI