Opini: Poros Pangale-Tommo Memakan Korban


Oleh : Sri Lestari

Akhir-akhir ini, di kabupaten Mamuju Tengah sering terjadi hujan baik itu intensitas ringan maupun sedang seperti diberitakan pada tanggal 14 November 2021 dilansir dari situs bmkg.go.id, prakiraan cuaca Mamuju Tengah Pukul 11.00 WITA, hujan ringan, pukul 14.00 hujan sedang, pukul 17.00 hujan sedang, pukul 20.00 hujan Ringan, pukul 23.00 hujan ringan.

Prakiraan BMKG kadang tidak sesuai dengan waktu yang di prediksi. Banjir kecil hingga longsor adalah hal biasa bagi masyarakat Mateng, ini fenomena alam. Tapi bukan berarti ketika ada kerusakan alam tidak ada penyebabnya, juga penangan yang cepat tanggap serta pencegahan kedepannya.

Baru-baru ini, sebuah mobil pick up terguling masuk jurang Jalan poros Kuo, Tommo, Kec. Pangale. Pemicunya adalah jalan tersebut longsor. Di kutip dari situs kabarsulbar.com (10/11/21), Bapak Ruslan yang tidak lain pengemudi yang mobilnya terkena dampak longsor jalan mengatakan “ketika berpapasan dengan kendaraan lain kondisi aspal atau jalan ini memang sudah kosong di bagian bawahnya aspal, makanya pas mobil lewat langsung jatuh”.

Kejadian longsor, kerusakan jalan dan banjir terus saja menjadi hal biasa di musim hujan. Kejadian yang sama harusnya menjadi pelajaran dan perhatian bersama khususnya pemerintah setempat. Bagaimana tidak harus menjadi perhatian, fasilitas jalan yang aman dan nyaman adalah kebutuhan pokok semua kalangan. Jalan trans merupakan jalan penghubung, kerusakan jalan adalah kerugian besar. Di musim hujan ini dan keadaan geografis tanah yang rawan longsor harus sering-sering di cek uji kelayakannya.

Baca juga  PAJAK DEMI KESEHATAN RAKYAT??

Bersyukur tidak memakan korban, tapi kejadian ini harus menjadi pelajaran dan mengecek kemungkinan apa saja yang akan terjadi di titik-titik rawan longsor maupun amblasnya jalan. Lebih luas wilayah Sulawesi barat, Jalan amblas di jalan poros Malunda pada tanggal 15 Oktober. Mobil di jatuhi batu yang asalnya dari tebing gunung sebelah jalan, seperti di jln poros Onang, Malunda, Majene (8/10/2021). Kasus serupa mobil tertimpa longsor di Mamuju tepatnya jembatan putih (4 Oktober 2021). Selain itu, di musim hujan ini ada kemungkinan tiang listrik roboh seperti kejadian di kota Majene (3/10/21), angin puting beliung di kec. Papalang, Mamuju (15/9/21).

Kecelakaan yang bersamaan, kecelakaan yang penyebabnya sama (longsor), perlu analisis yang serius. Karena kesalahan yang terulang adalah bukti abainya pemerintah atas kepemimpinannya. Dan hari ini, jika suatu kecelakaan tidak memakan korban belum serius di sikapi perihal penyebabnya. Jangan sampai memakan korban baru sadar kondisi jalan yang baik itu penting.
Benar amanah kepemimpinan adalah sesuatu yang berat, tapi pahalanya juga berat. Rasulullah Saw bersabda: “Hai Abu Hurairah! Singkirkanlah duri dari jalan yang akan dilalui orang yang lebih mulia darimu, lebih kecil darimu, lebih baik darimu, dan bahkan orang yang yang lebih buruk darimu. Jika engkau berbuat demikian, niscaya Allah membanggakan engkau kepada para malaikat-Nya. Dan barangsiapa dibanggakan Allah kepada para malaikat-Nya, niscaya ia muncul pada Hari Kiamat dalam keadaan aman dari segala yang buruk”.

Baca juga  COVID-19 BELUM BERAKHIR, PELONGGARAN PSBB AKAN DILAKUKAN?

Sungguh sederhana pesan yang disampaikan, menyingkirkan duri dari jalan. Tapi maknanya buka semata benda bernama duri, tapi segala sesuatu yang mungkin menyusahkan orang lain, baik fisik maupun nonfisik. Jalan berlubang itu nampak, longsor atau daerah rawan longsor pun dapat di ketahui tanda-tandanya.

Mari kita menengok sejarah, seorang pemimpin yang berdedikasi, suka muhasabah, dan rendah hati. Karena kita membahas tentang longsor, jalan, dan kepemimpinannya maka kita bisa menengok sejarah Khalifah Abu Bakar.

Cukup satu kali seseorang menanyainya, “Mengapa sebagai pemimpin membiarkan jalan di pegunungan lrak dalam keadaan buruk dan berlubang?” Hatinya sudah tidak tenang, ia khawatir jika kondisi jalan akan menyebabkan korban jiwa. Sebagai pemimpin dia pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Kullukum ro’in, wakullukum mas ulun, setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban. Umar memutuskan memperbaiki jalan tersebut yaitu jalan di pegunungan Irak yang sebenarnya jauh dari pusat pemerintahan khalifah yang terletak di Madinah.

Baca juga  Pandangan Nyeleneh ‘Haid Boleh Puasa’, Dimana Peran Negara Menjaga Syariat?

Belajar dari sikap pemimpin Umar bin Khattab, sikap takutnya pada Tuhannya, begitu dalam. Dari ketakutan itu, tumbuh cinta yang luar biasa pada rakyat yang ia pimpin. Takut nya membuat ia lebih waspada dan tanggap bencana.

Bagaimana hari ini, seberapa besar kekhawatiran para pemimpin moderen. Katakanlah kepala daerah, saat melihat jalan atau jembatan rusak yang dilewati oleh masyarakat, atau seberapa peduli kepala daerah saat mengeluhkan jalan yang mereka lewati berlubang. Bahklan tidak jarang keluhan itu di lancarkan dalam bentuk protes.

Maka inilah pentingnya kita kembali pada sistem Islam dalam bingkai khilafah karena hanya dalam sistem Islam akan ditemui banyak pemimpin yang memiliki rasa takut kepada Allah sehingga ia akan menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya dan umat atau rakyat akan merasakan ketenangan karena dipimpin oleh Khalifah yang menunaikan amanah karena Allah SWT. Wallahu a’lam.


OPINI