Opini: Perubahan Iklim, Dunia Butuh Solusi Sahih


Oleh: Hamsina Halik (Pegiat Literasi)

Selain pandemi covid-19, dunia diterpa bencana baru yang tak kalah ngerinya. Yakni, perubahan iklim yang kian hari kian mencekam. Ini adalah isu yang sangat penting. Perubahan iklim bisa mengakibatkan rusaknya alam hingga akan membuat manusia kesulitan.

Olehnya itu, perubahan iklim sudah dianggap sebagai bom waktu terjadinya kiamat ekologis. Hingga COP26 dianggap sangat urgen untuk menarik komitmen semua pihak dan negara. Dalam rangka menurunkan emisi karbon, termasuk deforestasi.

Dalam agenda COP26 ini, para pemimpin dunia akan memaparkan upaya dari negara masing-masing untuk mengekang emisi gas rumah kaca, mengurangi emisi pada tahun 2030, dan menangani dampak perubahan iklim.

Pemanasan global karena emisi bahan bakar fosil yang disebabkan manusia membuat para ilmuwan mendesak perlunya tindakan segera untuk menghindari bencana iklim.

Para negosiator pun mendorong negara-negara untuk meningkatkan upaya mereka dalam menjaga suhu global agar tidak naik lebih dari 1,5 derajat Celsius pada abad ini. (kompas.com, 01/11/2021)

Namun, faktanya negara industri penggagas KTT ini tidak lain adalah penghasil terbesar emisi. Yang telah membiarkan kaum kaya membuang jutaan ton emisi karbon untuk memuaskan nafsu materialistik mereka.

Baca juga  Palestina Butuh Pelindung

Berbagai permasalahan perubahan iklim yang terjadi merupakan dampak dari kerakusan manusia akan materi. Demi meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, mereka pun tanpa berpikir panjang melakukan penambangan besar-besaran dan mengonsumsi energi fosil yang berlebihan.

Itulah watak manusia-manusia kapitalis dalam sistem kapitalis sekuler yang hampir di seluruh dunia sistem ini diterapkan. Melahirkan paham liberalisme yang mengagungkan kebebasan turut andil dalam terjadinya perubahan iklim. Sebab, dengan adanya pemahaman yang serba bebas ini membuat mereka menjadi manusia yang serakah. Bebas untuk memiliki apa saja yang mereka inginkan. Bebas menghabiskan dan memanfaatkan energi. Meski itu berdampak pada kerusakan lingkungan.

Selain itu, sistem kapitalisme dengan asas sekulerismenya (pemahaman yang menjauhkan peran agama dari kehidupan) menjadikan manusia sebagai pembuat aturan dalam segala aspek kehidupan. Dengan keterbatasan akalnya, tentu saja aturan yang mereka buat bukannya menyelesaikan masalah, melainkan sebaliknya berbuah masalah baru. Oleh karena itu, sumber masalah atas persoalan ini adalah terletak pada cara pandang atau pola pikir mereka.

Baca juga  Ritel Gulung Tikar, Siapa Yang Bertanggung Jawab?

Dengan demikian, ketika akal manusia diagungkan, kebebasan berperilaku dibiarkan dan materi menjadi tolok ukur kebahagiaan, akan lahir manusia tanpa arahan yang akhirnya menjadi brutal melakukan perusakan lingkungan besar-besaran. Hanya demi meraih kapitalistik yang akhirnya merusak kehidupan dunia.

Allah SWT berfirman dalam surah ar-Rum ayat 41, yang artinya:

‚ÄúTelah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat di atas memberitakan bahwa kerusakan-kerusakan yang ada di bumi tidak lain akibat ulah tangan-tangan manusia karena ketidaktaatan mereka kepada Allah SWT. Hal itu, tidak lain merupakan pengingat kepada manusia agar mereka mau kembali ke jalan yang lurus.

Oleh karena itu, sudah saatnya memakai Islam sebagai ideologi yang dapat menyelesaikan masalah ini. Sebab, ideologi kapitalisme sekuler telah terbukti gagal dalam memperbaiki kondisi lingkungan. Dan, sejatinya kapitalis global lah yang telah berperan besar dalam menimbulkan kerusakan lingkungan melalui gaya hidup bebas dan kapitalistik mereka.

Baca juga  Kehormatan Islam Kembali Direndahkan

Pun, Islam mengajarkan ketika memanfaatkan alam tak boleh merusaknya dan harus menjaganya. Juga dalam upaya perbaikan kondisi alam jika dipadukan dengan ilmu pengetahuan akan ditemukan solusi perubahan iklim ini.

Di samping itu, Islam tidak akan membiarkan dilakukannya pembangunan kapitalistik dimana deforestasi menjadi legal demi pembangunan. Tapi, Islam akan mendorong pembangunan ramah lingkungan.

Untuk masalah penelitian, Islam dengan sistem keuangannya akan mampu mengatasi masalah biaya. Negara yang mengadopsi Islam akan mengerahkan segala kemampuan, yakni uang, alat, ilmuwan untuk menemukan teknologi ramah lingkungan.

Adapun biaya, seluruhnya berasal dari baitul mal yang sumber pemasukannya berasal dari zakat, jizyah, fa’i, kharaj, ghanimah, pemanfaatan sumber daya alam dll. Dengan demikian, para ilmuwan fokus melakukan penelitiannya dan berkonsentrasi hanya untuk menyelamatkan nyawa umat manusia.

Demikianlah bagaimana Islam dengan aturannya merupakan satu-satunya solusi yang sahih yang mampu menyelamatkan dunia dari perubahan iklim. Wallahu a’lam