Opini: Perguruan Tinggi Dalam Jeratan Sekuler Liberal


Oleh : Verry Verani

PKS mengkritik peraturan anti kekerasan seksual di kampus yang dibuat Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) menjawab kritik PKS itu.
Aturan yang dimaksud adalah Permendikbud-Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi, selanjutnya disebut Permen PPKS, diteken Menteri Nadiem pada 31 Agustus 2021.
(detiknews.com 6/11/2021).

Munculnya Permendikbud No 30 Tahun 2021 menuai pro kontra dikalangan tokoh masyarakat, ulama, ormas, partai, para mahasiswa, para tokoh inteletual dsb

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyatakan tidak setuju dengan aspek ‘consent’ atau ‘konsensual (persetujuan)’ yang menjadi syarat aktivitas seksual.
Ada pula ketidak setujuan PKS soal definisi kekerasan seksual.
PKS juga menilai Permen PPKS ini tidak mempunyai cantolan hukum.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud-Ristek Nizam menanggapi kritik PKS dengan penjelasan masalahnya sebagai berikut :
“Permendikbud-Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penangulangan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi, mengatur hal-hal yang sebelumnya tidak diatur secara spesifik sehingga menyebabkan kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi selama ini tidak tertangani sebagaimana mestinya,” kata Nizam, (detiknews.com 6/11/2021,).

Bermunculnya kritik keras terkait Permendikbud ini karena adanya frasa pada pasal 5 ayat 2 yang berbunyi : “kekerasan seksual karena terjadi tanpa persetujuan korban”.

Dengan begitu permen ini telah menimbulkan makna legalisasi terhadap perbuatan asusila dan seks bebas berbasis persetujuan,” kata Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah 
Lincolin Arsyad di keterangan tertulis, Senin (8/11/2021).

Muhammadiyah sebuah organisasi besar Islam telah mengkritisi, makna legalisasi perbuatan asusila dan seks bebas berbasis persetujuan.

Pak Mentri Nadiem membenarkan atas kritik tersebut, beliau menegaskan, “Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021
memiliki fokus utama pada penanganan korban kekerasan seksual saja”.

Hal ini jelas, jika prilaku seksual tanpa persetujuan korban maka tindakan itu merupakan bentuk kekerasan seksual. Artinya ada unsur pemaksaan dan terjadi hubungan perkosaan.
Terkandung makna secara implisit, jika terjadi pada penganut kebebas seksual, tidak ada ikatan apapun, tanpa paksaan, terjadi atas sukarela dari kedua belah pihak dan dilakukan atas dasar suka-sama-suka untuk melakukan hubungan seksual dan hal tersebut termasuk perbuatan zina, Islam mengharamkan perbuatan keji itu.
Walau demikian, pak mentri tetap semangat untuk mensosialisasikanya.

Menyoroti hal ini, sepertinya mindset sekuler liberal di perguruan tinggi telah mengakar, sebagai akibat dari penerapan sistem pendidikan sekuler- kapitalisme – liberalisme.

Atas sebab ini tidak sedikit dari kalangan intelektual, aktivis mahasiswa, justru menganggap permen PPKS ini sebagai solusi kekerasan seksual kampus, dan menganggap rumusan makna kekerasan seksual “tanpa persetujuan” sudah benar sesuai HAM, meski melanggar hukum-hukum agama.

Nampak beberapa aksi dukungan implementasi RUU PPKS di antaranya dari BEM UI, jaringan muda, lingkar studi feminis yang terdiri dari puluhan lembaga intra dan ekstra kampus. Gerakan mahasiswa yang didampingi para aktivis gender-feminis terus menyuarakan dukungan implementasi Permen PPKS ini.

Bahkan mereka tidak gentar meski berhadapan dengan para ulama, Ormas, dan guru besar yang justru mengkritik bahkan menuntut pencabutan permen PPKS ini.

Kebijakan Membahayakan Dan Menyerang Islam

Ideologi sekulerisme-kapitalis- liberalisme tak henti-hentinya menyerang Islam dan kaum muslimin dari berbagai arah. Dengan memutuskan perkara dan kebijakan – kebijakan yang sangat membahayakan Eksistensi umat kedepan. Efek yang ditimbulkan dari diterapkannya ideologi tersebut minimal ada empat bahaya.
Pertama, bahaya karena tidak adanya aturan interaksi sosial islami yang mengikat pada masing-masing individu masyarakat dilingkungan perguruan tinggi.

Negara memaksa, melalui kebijakan produk hukum sekuler, bahkan memastikan para mengusung pemikirannya untuk mengokohkan sekulerisme yang kapitalistik dan liberalis dalam kehidupan dilingkungan masyarakat perguruan tinggi.
Bahkan mereka ingin menerapkan nilai-nilai barat dalam masyarakat muslimiin.
Dengan begitu, Permendikbud ini terindikasi memiliki konten yang diarahkan dalam rangka menyerang Islam.

Dibalik pemahaman itu semua mereka ingin menguatkan isu besar ‘moderasi’ yang sedang dibangunnya. Dengan mengangkat kebijakan publik untuk mengokohkan dan memperjelas karakter Islam moderat, yakni mendukung demokrasi, pengakuan terhadap HAM, mengokohkan kesetaraan gender dan kebebasan berprilaku serta menetapkan pembenaran terhadap semua agama dimuka bumi. Serta menyatakan bahwa kebenaran bukan monopoli salah satu agama, juga penekanan untuk menghormati sumber hukum yang tidak berasal dari salah satu satu agama saja.
Puncaknya mereka diarahkan untuk menolak penerapan syari’at Islam.

Kedua, bahaya legalisasi aktifitas pergaulan bebas antara lawan jenis. Kondisi diera keterbukaan ini, perguruan tinggi memanfaatkan diberlakukan kebebasan berekspresi, kebebasan berprilaku, kebebasan beragama.
Serta kebebasan hak kepemilikan terutama dalam hal eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berlimpah.
Hal ini telah dimonopoli pengelolaannya oleh kalangan Oligharki dan para kapitalis, mereka memiliki peran penting, mempresur, selain sebagai donatur pembiayaan politiknya.

Baca juga  BERANI TAMPIL BEDA TANPA LOCKDOWN

Disisi lain, kaitannya dengan lahirnya permen PPKS alih alih mengatur, membenahi, pergaulan kawula muda malah menjerumuskan,
dengan rancangan kurikulum dan budaya dan memang disiapkan sedemikian rupa, secara sistematis,
mendorong pada legalisasi perilaku seks bebas.

Sebagaimana kita amati Era Globalisasi ini, masing-masing individu atau sebagian kelompok kalangan muda atau sebagian remaja gemar mengeksplor ekspresi dan prilaku yang selalu terhubung dimuka umum secara online maupun ofline.

Sisi lain kita dapat menyaksikan akhir-akhir ini, semangat para Intelektual kampus civitas academica yang ingin hijrah memantapkan religinya kearah ketaatan terhadap aturan -aturan Allah selalu dicurigai, distigmatisasi bahkan dipersekusi, karena dianggap radikal, disebabkan berpenampilan
‘good looking’, nampak kejernihan pemikirannya memukau luar – dalam karena iman kepada Tuhannya Allah swt.

Ketiga, berbahaya
Sekularisme, meniscayakan aturan agama, syari’at islam dijauhkan dari aturan kehidupan termasuk di lingkungan kampus yang sebagian besar penganut Islam. Karena itu, meski terdapat aturan yang dibuat untuk mencegah kekerasan seksual di kampus – kampus.
Juga aturan ini dibuat semata-mata karena idelogi yang berpandangan liberal, basis pemisahan agama dan kehidupan, mengutamakan prospek untung- rugi secara materi, bukan karena kekerasan seksual diharamkan dalam agama.

Demikian juga kaitannya dengan putusan Permen PPKS ini tidak dibangun diatas landasan idiil berdasarkan sumber hukum Wahyu Allah swt yaitu Al-qur’an sebagai petunjuk keselamatan dunia akhirat.
Namun putusan ini telah tetapkan dengan cara pandang sekulerisme – liberalisme.
Hal ini dapat dilihat pada draf lembaran ‘pertimbangan’ yang memutuskan kebijakan.
Di sana, sama sekali tidak dicantumkan landasan sumber hukum Qur’an sebagai asas lahirnya Permen tersebut. Justru yang dijadikan sebagai landasan hukum UU No. 7 Tahun 1984 tentang pengesahan konvensi CEDAW, dan UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi ruh utama lahirnya permen PPKS ini.

Sehingga, apa yang dianggap bahaya oleh umat Islam bagi yang menolak pasal 5 ayat 2 tentang adanya frasa “tanpa persetujuan korban”, yang berimplikasi pada legalisasi zina, justru dianggap berlebihan.

Kenapa ? karena pada dasarnya berbagai aktivitas seksual, jika itu lahir dari keinginan manusia merupakan bagian dari hak asasi manusia (HAM) yang harus dilindungi meskipun bertentangan dengan syariat Islam.

Motifnya sangat jelas untuk semakin mengokohkan budaya sekuler-liberal di kalangan intelektual kampus agar menjadi sosok pemuja dan pengagung kebebasan – syahwat.

Akibatnya, umat kehilangan generasi muda, para aktor intelektual yang
memiliki kejernihan pemikiran, intelektual bermartabat serta memiliki akhlakul karimah tercabut dari akarnya.
Sehingga, umat kesulitan untuk mencari aktor intelektual yang ‘terbaik’, dapat dipercaya, memiliki kualitas pribadi yang diharapkan umat generasi mendatang, yang akan membimbing umat keluar dari krisis multidimensi yang terjadi saat ini.

Keempat, bahaya diamputasinya peran negara, untuk melindungi rakyatnya. Suatu hal yang sangat urgen dan mendesak untuk segera mengadopsi sistem yang berbasis ‘aqidah Islam dan hukum-hukum syara’ sebagai aturan kehidupan secara kaffah yang bersumber dari Al-qur’an dan Al-hadits. Ideologi ini yang akan memungkinkan negara sebagai penjaga dan pelindung umat.
Namun sayang, negeri ini berpaling dari ajaran Islam lalu mengadopsi hukum berbasis sekulerisme yang menjadi landasan sistemnya. Mengambil sistem kapitalisme-liberalisme menjadi aturan kehidupannya maka interaksi dalam kehidupan umum mengikuti sistem yang dianut negaranya. Dan terputus peran negara melindungi, menjaga tanah air dan rakyatnya, kemudian peran strategis ini diserahkan pada mekanisme pasar bebas.

Inilah tatanan kehidupan yang diinginkan para pemuja syahwat. Rusaknya generasi sekaligus menghilangkan potensi negeri kaum muslimin untuk kembali pada penerapan Islam kafah. Karena seperti yang kita ketahui barat sebagai pengusung ideologi sekuler liberal ini, begitu ketakutan melihat para intelektual dan kawula muda memanfaatkan peluang hijrah menyongsong abad kebangkitan Islam yang pernah menjadi negara adidaya dalam pentas sejarah dunia.

Islam Kafah Mengangkat Kemuliaan Generasi

Islam sebagai sebuah ideologi yang memiliki pemikiran berdasarkan Wahyu yang termaktub dalam alqur’an. Kebenaran Islam adalah muthlak dan mengakar berdasarkan dalil qoth’i. Karena itu berbagai aspek kehidupan merujuk pada sumber-sumber Islam yaitu alqur’an dan Al-Hadits Rosulullah saw.

Islam adalah Ad-diin cara hidup, cara pandang atas kehidupan yang diarahkan Sang Pencipta manusia.
Bahwa Islam memandang manusia dan keterkaitan dengan kehidupannya di alam dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya yang menyelisihi perintah dan larangan Allah swt.

Baca juga  KBM Tatap Muka, Perlu Dikaji Kembali

Diatas dasar keimanan inilah masyarakat muslim menentukan jalan hidupnya.

Berbeda dengan yang telah diuraikan sebelumnya, gambaran
konsepsi demokrasi – sekularisme yang menjadikan dasar penyelesaian problematika kehidupan umat manusia dari akalnya yang serba terbatas.

Padahal, telah terbukti seumur peradaban manusia, solusi permasalahan kehidupan yang didasarkan pada hukum akal, berdasar aturan buatan manusia hanya berujung pada kegagalan yang menyisakan persoalan baru, bukan penyelesaian masalah.
Islam datang untuk memberikan solusi berbagai problem kehidupan manusia.

Demikian juga sebagai contoh, tujuan sistem Pendidikan Islam tidak ada kaitannya dengan urusan seksual. Karena aktifitas belajar dan mengajar itu bukan aktifitas gharizah na’u (naluri seksual).
 Menurut Abuddin Nata, pendidikan Islam adalah “upaya membimbing, mengarahkan, dan membina peserta didik yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu kepribadian yang utama sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.”

Sedangkan konsep pendidikan Islam memiliki pandangan bahwa seluruh aspek perkembangan sebagai sarana mewujudkan aspek ideal, yaitu penghambaan dan ketaatan kepada Allah serta aplikasi akhlak dan syariat Islam dalam segala aktifitas kehidupan.

Perumpamaan gambaran Islam dalam Al-Qur’an yaitu : (kalimatan Thoyyibah /perkataan baik)

(QS.Ibrahim : 24-25)

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
“Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit”. (QS. Ibrahim: 24).
 
تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

“(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat” (QS. Ibrahim: 25).

Dalam sebuah hadits Abu Hurairoh r.a :
عن أبي هريرة رضي الله عنه سئل رسول الله صلى الله و سلم من أكرم الناس؟ قال أتقاهم الله…
Dari Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ditanya tentang siapa orang yang paling mulia. Beliau menjawab, “Orang yang paling bertakwa kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال
اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن
Rasulullah bersabda “Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan kamu melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)

Menjadi Manusia yang Berakhlak Mulia
عن جابر بن عبد الله قال, قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الله بعثني بتمام مكارم الأخلاق و
كمال محاسن الأفعال
Dari Jabir bin Abdullah berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah mengutusku dengan tugas membina kesempurnaan akhlak dan kebaikan perbuatan.”

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من كان يؤمن باالله و اليوم الأخر فلا يؤذ جاره, من كان يؤمن بالله و اليوم الأخر فليكرم جاره, من كان يؤمن بالله و اليوم الأخر فليقل خيرا أو ليسمت
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan sistem pergaulan dalam Islam telah diatur
baik untuk penanggulangannya (kuratif) maupun pencegahannya (preventif), dengan tiga mekanisme, yaitu:

Pertama, menerapkan sistem pergaulan Islam,didalamnya mengatur interaksi laki-laki dan perempuan, baik dalam ranah sosial maupun privat. Dasarnya adalah akidah Islam.

QS. An-Nisa’ Ayat 136

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”. ( QS. An-Nisa : 136)

Dalam surat At Tahrim ayat 6; Allah swt. berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Baca juga  Fidusia Penting Diketahui Bagi yang Ingin Ambil Kredit.

Dalam QS. Al-Isro : 32
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“. (QS.Al-Isro: 32)

Surat An-Nur ayat 33

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman“. (QS. An-Nuur : 33)

Sedangkan di dalam hadis zina disebut tanda-tanda kiamat.

Al-Hadis:

ِإِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا
Artinya: “Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat yaitu diangkatnya ilmu dan kebodohan nampak jelas, dan banyak yang minum khamar dan banyak orang berzina secara terang-terangan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-Hadis:
لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن

Artinya: “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiga dari mereka adalah syetan“. (HR. At-Tirmidzi).

Sistem Islam akan menutup celah bagi aktivitas yang mengumbar aurat atau sensualitas di tempat umum. Sebab, kejahatan seksual bisa dipicu rangsangan dari luar yang kemudian memengaruhi naluri seksual (gharizah an-nau’). Islam membatasi interaksi laki-laki dan perempuan, kecuali di sektor yang memang membutuhkan interaksi tersebut, seperti, pendidikan : perguruan tinggi atau sekolah, ekonomi : perdagangan, pasar, kesehatan ; rumah sakit, klinik, dll.

Kedua, Islam memiliki sistem kontrol sosial berupa amar makruf nahi mungkar. Kaum muslimin dikatakan Allah sebagai umat terbaik.

QS. Ali ‘Imran Ayat 110 Allah berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ  تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ
وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِوَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Al- Imron : 110)

Islam memberikan solusi secara kaffah bagi kasus kejahatan seksual, mengangkat derajat kemuliaannya sebagai umat terbaik.
Saling nasihat – menasihati dalam kebaikan dan ketakwaan, juga menyelisihi terhadap segala bentuk kemaksiatan. Tentu semuanya dilakukan dengan cara yang ma’ruf.

Ketiga, Islam memiliki sistem sanksi tegas terhadap pelaku kejahatan seksual.

Surat An-Nur ayat 2

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap satu dari keduanya dengan seratus kali deraan. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya didalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (dalam melaksanakan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman “.( QS. An-Nuur : 2)

Contohnya, sanksi bagi pelaku tindak perkosaan berupa had zinâ, yaitu dirajam (dilempari batu) hingga mati, jika pelakunya muhshan (sudah menikah); dan dijilid (dicambuk) 100 kali dan diasingkan selama setahun, jika pelakunya ghairu muhshan (belum menikah). Hukuman tegas ini akan memberikan efek jera (zawajir) kepada si pelaku, sekaligus menjadi penghapus dosa (jawabir) yang telah dilakukannya ketika sampai waktunya di yaumul hisab nanti.

Seluruh mekanisme Islam yang apik ini akan terlaksana dengan paripurna, melaksanakan syariat Islam secara kafah oleh suatu institusi Daulah Khilafah Islamiyah, bukan institusi lain.

K H O T I M A H

Sebagai renungan akhir para pembaca yang terhormat.

Karena ketakutan yang sangat terhadap kekuatan pemikiran Islam. Sebagaimana janji Allah swt.
QS Ash-shaf : 9

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya”
(QS Ash-shaf : 9)

Allah telah menetapkan kemenangan.berada pada umat Muhammad Rosulullah saw.dan ad-dienullah walaupun orang musyrik phoby terhadap agama yang benar ini. Dinullah ini yang telah mampu membuktilan mengubah dunia dari kondisi gelap gulita ke kondisi yang terang – benderang.

Wallahu a’lam bish-shawwab.