Opini: Pandemi Belum Usai, Gelombang Ketiga Sudah Menanti


Oleh : Katmiasih
(Pemerhati Sosial)

Kasus virus corona atau covid-19 kembali menerpa dunia. Pasalnya Negara China telah ditemukan hampir 200 kasus covid-19 lokal dalam seminggu terakhir.Tak hanya China, sejumlah Negara Eropa juga mengalami kasus covid-19 yang semakin melonjak dalam seminggu terakhir. Ini telah membuat Negara itu mengunci tiga kota.

Usai mengunci Kota Eijin di Provinsi Mongolia Dalam dan Lanzhou di Provinsi Gansu, China mengunci kota Heihe di Provinsi Heilongjiang. Sebanyak 1,6 juta penduduk dan meminta warga tinggal di rumah dan dilarang bepergian kecuali mendesak di wilayah yang berbatasan dengan Rusia itu.Dikutip dari CNBC. Minggu, 31 Oktober 2021. China kemarin melaporkan 23 kasus domestik baru. Ini sekitar kurang dari setengah dari jumlah

Tambahan ini membuat total kumulatif kasus di China menjadi 96.938 kasus dengan 4.636 kematian. Kasus terbaru muncul pertama kali 17 Oktober dari kelompok wisata dan menyebar ke 11 provinsi.
Sama halnya, Lonjakan Kasus Covid-19 juga melanda sejumlah negara di Eropa, dimana kasus naik 18% pada pekan lalu.Secara rinci, Kasus Covid-19 telah melonjak tajam di Ceko dan Hongaria. Adapun rata-rata tujuh hari kasus membengkak lebih dari 100% dibandingkan pekan sebelumnya.

Rusia melaporkan rekor tertinggi tujuh hari rata-rata lebih dari 35.800 kasus baru pada hari Selasa, atau 10% lebih tinggi dari minggu sebelumnya. Ukraina juga mengalami kenaikan 43% dalam rata-rata kasus per minggu bila dibandingkan dengan minggu sebelumnya.
Menurut data dari John Hopkins University, Negara Eropa lainnya seperti Kroasia, Denmark, Norwegia dan Polandia masing-masing juga mencatat peningkatan kasus rata-rata mingguan. Bahkan lebih dari 70%.
Sementara itu pimpinan teknis WHO untuk Covid-19, Maria Van Kerkhove juga menyebut bahwa WHO telah menemukan Delta Plus di 42 negara. Ia memperingatkan bahwa varian ini bisa saja bermutasi cepat di musim dingin. https://www.cnbcindonesia.com/news/20211019113428-4-284955/awas-gelombang-3-covid-ri-inggris-hingga-rusia-sudah-meledak

Baca juga  Anak Berdaya dan Bahagia Demi Peradaban Mulia

Di Indonesia Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan tren peningkatan kasus covid-19 di sejumlah negara. Peningkatan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Setidak-tidaknya ada tiga penyebab utama.

“Pertama, relaksasi yang terlalu cepat dan tidak melalui tahapan-tahapan,” kata Jokowi saat memberikan pengarahan kepada para kepala daerah se-Indonesia secara virtual di Istana Merdeka, Jakarta, dikutip Selasa, 26

Kedua, protokol kesehatan (prokes) yang mulai kendur, misalnya kebijakan lepas masker di sejumlah negara. Ketiga, lemahnya pengawasan prokes ketika pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah. Jokowi menginstruksikan prokes di sekolah dijalankan secara ketat.l

Selain itu, Jokowi meminta kepala daerah dan seluruh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut mengingatkan pihak sekolah, agar pengawasan prokes dioptimalkan. Sehingga, kegiatan PTM bisa dilaksanakan tanpa khawatir penularan covid-19.

Presiden mencatat tren kasus positif covid-19 di dunia mengalami kenaikan sekitar 2 persen sepekan terakhir. Kasus covid-19 Eropa meningkat 23 persen dan Amerika Selatan naik 13 persen dalam sepekan. https://www.medcom.id/nasional/politik/0k8454Ok-jokowi-ingatkan-3-pemicu-ledakan-kasus-covid-19

Dengan melihat fakta-fakta yang ada, kita dapat rasakan ternyata pandemi masih belum juga terlihat kapan akan berakhir. Di saat moment-moment tertentu seperti libur panjang maupun pergantian musim, virus corona mengalami lonjakan jumlah positif. WHO ( World Health Organization) sebagai wadah kesehatan dunia pun memperkirakan wabah itu masih jauh dari kata selesai. WHO yang selalu menjadi panutan oleh negara-negara didunia dalam hal kesehatan seakan tidak mampu memberikan solusi yang efektif dalam penanggulangan pandemi.

Baca juga  Komersialisasi Tes Corona

Kalau kita mau mencermati kinerja WHO kita akan merasakan bagaimana wadah kesehatan internasional ini lebih mementingkan kepentingan bangsa-bangsa besar. Keputusan mereka banyak dipengaruhi oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Setiap tindakan yang diputuskan tidak boleh merugikan dan bahkan harus membawa keuntungan bagi perekonomian negara-negara yang mendukung pendanaan mereka.

Pandemi ini sudah berlangsung hampir dua tahun. Berkali kali terjadi ledakan kasus diberbagai negara baik yang maju maupun negara berkembang. Dan yang dikhawatirkan saat ini ledakan gelombang ketiga dengan virus yang bermutasi dari waktu ke waktu. Dan kembali kita mempertanyakan bagaimana cara penanganan wabah ini. Apakah kesalahan yang sama akan terulang kembali? Apakah mereka akan lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi diatas nyawa manusia.
Saat ini dunia begitu yakin dengan adanya vaksin yang bisa melindungi tubuh dari serangan virus corona. Namun pada kenyataannya penambahan jumlah kasus positif tetap saja terus melonjak. Jelas dari sini kita bisa menarik kesimpulan bagaimana upaya yang mereka tawarkan tidak bisa membendung lonjakan kasus corona. Dan terlihat bagaimana lemahnya manusia yang tak sanggup melawan makhluk kecil kasat mata ciptaan Allah. Sehingga sudah bertahun tahun kita belum juga dapat menaklukan virus tersebut.

Berbeda dengan Islam dalam menangani suatu wabah. Kita semua sudah terpahamkan bagaimana hadist tentang penangganan suatu wabah.
Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Baca juga  Keseteraan Upah Wanita Mantra Sihir Feminis

Negara sebagai pengemban syariat Islam akan melaksanakan penanggulangan wabah berdasarkan tuntunan Al qur’an maupun As-Sunnah. Dibutuhkan ketegasan pemimpin dan ketaatan individu agar penanganan pandemi bisa sukses. Pemimpin Islam tidak akan mengorbankan nyawa manusia demi kegiatan dan keuntungan ekonomi semata. Nyawa dalam Islam sangat dihargai.

Bila karantina wilayah pandemi sudah dilakukan dengan ketat, maka para pemimpin Islam akan berusaha untuk mencegah penularan dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat dan kegiatan 3T (Testing, Treasing dan Treatment) secara masif. Keberadaan vaksin juga bisa membantu dalam penanggulangan wabah. Karena penemu vaksin itu pada awalnya adalah seorang muslim. Karena kelicikan kaum kafir maka keberadaan vaksin dikuasai mereka. Negara juga akan memastikan bahan vaksin itu halal sehingga tidak ada keraguan didalamnya.

Pelaksanaan 3T,vaksin maupun fasilitas kesehatan dalam negara Islam akan diberikan secara gratis. Kholifah sebagai pemimpin umat Islam tidak akan membiarkan masalah kesehatan diperjualbelikan oleh sekelompok orang. Kholifah juga akan memacu terus para ilmuwan agar melakukan riset dengan pembiayaan penuh dilakukan negara guna menemukan cara terbaik dalam menanggulangi suatu wabah. Yang pastinya harus berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Karena segala tindakan dalam negara Islam harus berlandaskan hukum syara yaitu Al qur’an dan hadist.
Wallahualam beshowab