Opini : Muhasabah di Penghujung Tahun


Oleh : Rahmawati, S.Pd

Tak terasa kita telah berada di penghujung tahun 2020 dan tinggal hitungan jam kita akan memasuki tahun 2021.

Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya momen ini kita jadikan sarana untuk memuhasabatun nafsi atau mengevaluasi diri. Mengoreksi segala perbuatan yang telah dilakukan selama ini.

Allah, SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr (59) : 18) yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Menurut tafsir Ibnu Katsir, firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, ” yakni Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bertaqwa kepada-Nya yang mencakup mengerjakan seluruh apa yang diperintahkan dan menjauhi seluruh apa yang dilarang-Nya.

Kemudian firman Allah, “Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). ” Yakni hisablah diri kalian sebelum dihisab (diakhirat kelak) dan lihatlah apa yang telah kalian simpan untuk diri kalian berupa amal shaleh untuk hari akhir pada saat bertemu dengan Rabb kalian.

Baca juga  Kemelut Finansial, Tangguhkah Sistem Ekonomi Kita?

“Dan bertakwalah kepada Allah,” hal ini merupakan penegasan kedua. Dan firman Allah, “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”, yakni ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala perbuatan dan keadaan kalian. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya baik perkara yang kecil atau besar.

Oleh karena itu, setiap muslim harus meningkatkan kualitas amalnya dengan melakukan muhasabah atau evaluasi diri sebagai karakter utama seorang muslim.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW pernah menasehati seseorang, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Waktu kayamu sebelum datang kefakiranmu, Waktu luangmu sebelum datang sempitmu, dan Waktu hidupmu sebelum datang waktu kematianmu. (HR. Al-Hakim)

Baca juga  Bahaya Sekulerisme Bagi Generasi

Umar bin Khattab, seorang sahabat yang dikenal sebagai Amirul Mukminin pernah mengingatkan umat Islam dengan perkataannya yang sangat populer, “Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu (Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab).”

Islam senantiasa menuntun umatnya untuk memuhasabah diri. Apapun profesinya dan kedudukannya, selama dia adalah hamba Allah harus senantiasa menginstropeksi diri. Sudahkah taat kepada perintah dan larangan Allah, sudah berapa banyak amalan dan dosa yang telah diperbuatnya.

Melihat kondisi saat ini, ditengah penerapan sistem kapitalisme dengan ide dasarnya sekulerisme yakni pemisahan agama dari kehidupan, menjadikan umat mengalami keterpurukan baik dari segi ekonomi, kesehatan, pendidikan, kriminalisasi ulama, dan sebagainya apalagi ditengan pandemi Covid-19 yang tak seorang pun mampu memprediksi kapan akan berakhir.

Mungkinkah ini akibat kelalaian manusia akan hukum-hukum Allah SWT sehingga perlu kiranya untuk memuhasabah diri? Jika ia adalah pengambil kebijakan, sudahkah betul-betul melaksanakan amanah yang telah dibebankan ke pundaknya, mengurusi rakyatnya dengan baik?

Baca juga  Laporan Langsung Orang Mandar di Amerika Serikat (3)

Jika ia adalah seorang pemimpin rumah tangga, ia akan dimintai pertanggung jawaban terkait kepemimpinannya dalam rumah tangga, membimbing dan membina keluarganya hingga ke jannah-Nya. Jika ia seorang ibu, ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang bagaimana tugasnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, sudahkah dilaksanakan dengan semaksimal mungkin?

Walhasil, sudah selayaknya di penghujung tahun ini tidaklah digunakan untuk berhura-hura, melakukan seremonial yang bertentangan dengan pribadi seorang muslim. Sebaliknya momen ini digunakan untuk memuhasabah diri, sudah seberapa besar ketundukan dan kepatuhan kita kepada Allah.

Sudah seberapa besar pahala dan dosa yang telah kita lakukan dan berusaha untuk mengazamkan diri untuk senantiasa taat kepada Petintah-Nya sehingga menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa. Sudah seberapa besar usaha yang dilakukan untuk menerapkan kembali hukum-hukum-Nya? Sungguh, hanya dengan berhukum kembali kepada hukum-Nya kemuliaan, keadilan dan keberkahan hidup akan diraih.

Wallahu A’lam


OPINI