Opini: Lonjakan Global Covid-19, Dunia Butuh Solusi Solutif!


Oleh: Anggun Sunarti, S.H. (Aktivis Dakwah)

Tahun sebentar lagi akan berganti tapi keberadaan Covid-19 masih bertengger di negeri kita dan berbagai negeri di dunia.  Banyak negara mengalami ledakan baru dan tentunya Indonesia perlu waspada akan hal ini dengan ancaman gelombang ketiga Covid-19.

Negara China telah ditemukan hampir 200 kasus covid-19 lokal dalam seminggu terakhir. Total kumulatif kasus di China menjadi 96.938 kasus dengan 4.636 kematian. Kasus terbaru muncul pertama kali 17 Oktober dari kelompok wisata dan menyebar ke 11 provinsi. Tidak hanya itu, lonjakan kasus Covid-19 juga melanda sejumlah negara di Eropa, dimana kasus naik 18% pada pekan lalu. Secara rinci, kasus Covid-19 telah melonjak tajam di Ceko dan Hungaria. Menurut data dari John Hopkins University, negara Eropa lainnya seperti Kroasia, Denmark, Norwegia dan Polandia masing-masing juga mencatat peningkatan kasus rata-rata mingguan. Bahkan lebih dari 70% (Terkini.id, 31/10/21).

Apa kabar Indonesia?
Pemerintah melaporkan kasus harian positif Corona hari ini sebanyak 518 kasus. Selain itu, ada 648 pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh dan 19 kasus meninggal akibat Corona. Total kasus positif Corona hingga hari ini adalah 4.247.320 kasus. Sementara itu, kasus aktif Covid-19 di RI sebanyak 11.215 kasus. Jumlah kasus aktif itu turun 149 dari kemarin. Kasus positif Corona terbanyak hari ini dilaporkan oleh provinsi DKI Jakarta sebanyak 119 kasus. Lalu diikuti oleh provinsi Jawa Barat sebanyak 92 kasus, dan provinsi Jawa Tengah sebanyak 57 (Detik news, 5/11/21).

Baca juga  UU Cipta Kerja : Pemerintah Abai, Demonstrasi Tak Kunjung Usai

Kasus Covid-19 RI memang tengah melandai. Meski demikian kita tetap harus waspada karena lonjakan kasus baru mungkin saja akan terjadi, apalagi menjelang natal dan tahun baru nantinya, peluangnya sangat besar jika tidak diatur dari sekarang. Pemerintah perlu mempertimbangkan agar perayaan ditiadakan untuk menghilangkan peluang kasus baru terjadi. Apalagi sekarang masyarakat kerap abai akan protokol kesehatan ketika mereka berada di luar rumah, baik di tempat kerja ataupun tempat wisata dan sebagainya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa pandemi Covid-19 masih jauh dari selesai. “Jumlah kasus dan kematian global yang dilaporkan dari Covid-19 sekarang meningkat untuk pertama kalinya dalam dua bulan, didorong oleh peningkatan berkelanjutan di Eropa yang melebihi penurunan di wilayah lain,” kata Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus. Pimpinan teknis WHO untuk Covid-19, Maria Van Kerkhove juga menyebut bahwa WHO telah menemukan Delta Plus di 42 negara. Ia memperingatkan bahwa varian ini bisa saja bermutasi cepat di musim dingin (Terkini.id, 31/10/21).

Ratapan dunia dengan keberadaan Covid-19 makin mengkhawatirkan. Pasalnya WHO saja sudah mengakui bahwa pandemi masih jauh dari kata selesai, ditambah dengan lonjakan kasus diberbagai negara juga terus terjadi.

Solusi negara dengan vaksinasi secara bertahap sebagai langkah pemutus penyebaran virus di masyarakat, belum mencapai 30% dari jumlah masyarakatnya. Bahkan kerap kali vaksin dijadikan ajang bisnis diantara para korporat untuk mendapatkan keuntungan ditengah kondisi kesulitan hidup masyarakat.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat masih ada tenaga kesehatan (nakes) di Papua yang sama sekali belum menerima vaksin dosis pertama untuk menangani virus corona (CNN Indonesia, 6/11/21).
Hal ini sangat disayangkan, nakes yang seharusnya mendapat jatah vaksinasi demi keamanan ketika berinteraksi dengan masyarakat, justru masih ada diantara mereka yang belum mendapat vaksin dikarenakan penyebaran yang tidak merata.

Baca juga  Bendera Tauhid Diinvestigasi, Korupsi Dibiarkan

Sejak awal keberadaan Covid-19 negara telah menawarkan berbagai solusi untuk mengurangi penyebaran virus, mulai dari PSBB, PPKM Darurat hingga negara berujung pada krisis ekonomi. WHO (Word Health Organization) menyarankan agar negara menerapkan New Normal sebagai solusi perekonomian dan pandemi yang tak kunjung reda, tetapi hal itu tak berujung beruntung. Pengelolaan negara yang minus politik justru menjadikan penyebaran Covod-19 semakin besar di tengah-tengah masyarakat karena tidak adanya roadmap yang jelas sebagai langkah awal penerapan New Normal.

Seperti inilah gambaran dalam sistem kapitalisme yang merupakan hasil pemikiran buatan manusia, penyelesaian pandemi dengan kebijakan setengah hati pada rakyat hanya akan menghasilkan pelayanan yang kurang memadai. Belum lagi negara yang terkendala dana dalam penanganan pandemi Covid-19 sehingga terjadi hambatan melakukan 3T (testing, tracing dan treatment) mengakibatkan potensi penularan akan sulit terkendali.
Ini menegaskan kegagalan WHO yang menjadi rujukan dunia dalam penanganan pandemi Covid-19 karena perspektif kapitalis yang menjadi landasan dalam mengambil tindakan.

Baca juga  Keadilan dalam Demokrasi hanya Ilusi

Berbeda dengan sistem Islam yang bersandar pada wahyu, penyelamatan nyawa di atas kepentingan ekonomi yang menghantar pada konsistensi mengambil pendapat ahli dalam penyelesaian pandemi. Negara akan menyerahkan skenario penanganan pandemi pada ahlinya sehingga lonjakan tidak akan terjadi. Ini sebagaimana arahan Rasulullah saw bahwa dalam perkara-perkara yang bersifat saintis haruslah dikembalikan pada ahlinya.
Skenario terbaik dalam Islam dalam mengatasi wabah adalah dengan karantina wilayah. Sebagaimana hadist Rasulullah saw: “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR Muslim)

Dalam Islam, negara akan mengurusi rakyatnya dengan pelayanan terbaik sebagai bentuk tanggung jawab atas kepemimpinannya sebagai pengurus urusan umat. Negara akan memenuhi segala kebutuhan rakyatnya dengan sarana dan prasarana yang memadai guna mendukung pelayanan dalam dunia kesehatan. Negara tidak akan menawarkan solusi tanpa roadmap yang jelas karena hal ini akan membahayakan nyawa manusia dan mengancam kemaslahatan hajat hidup orang banyak.

Sistem Islam dengan aturannya yang sempurna dan edukatif akan menjadi leader dalam mencontohkan penanganan pandemi tanpa kebijakan pelonggaran karena faktor ekonomi, kurangnya dana dan terjadinya ketimpangan vaksin akibat dominasi negara produsen. Karena itu sudah saatnya kita sebagai umat muslim mengambil aturan Islam sebagai solusi dalam problematika kehidupan, begitu pula dengan penanganan pandemi. Wallahu a’lam bissawab.