Opini: Islamofobia India, Apa Solusinya?

  • Bagikan


Oleh Saripa

Muslim menjadi minoritas di negara India, yang menjadi perbincangan hangat saat ini ialah pelarangan hijab pada mahasiswi sekolah kedinasan sehingga memicu kemarahan di India. Aktivis mahasiswa dan kelompok hak asasi menuduh administrasi perguruan tinggi bias terhadap minoritas Muslim. “Ini adalah Islamofobia. Itu apartheid,” kata aktivis Afreen Fatima, sekretaris Gerakan Persaudaraan di New Delhi, kepada Al Jazeera.

Suara.com – Negara bagian Karnatakadi India mengeluarkan perintah untuk menutup sekolah dan perguruan tinggi selama tiga hari setelah terjadi sejumlah unjuk rasa, yang menanggapi beberapa sekolah menolak masuk murid yang memakai hijab. Partai-partai oposisi dan kritikus di India menuduh jika pemerintah di tingkat federal dan negara bagian telah melakukan diskriminasi terhadap agama minoritas dan berisiko memicu kekerasan.

Pengadilan Tinggi Karnataka sedang mempertimbangkan untuk menentang larangan hijab tersebut. Para siswi kemudian berkembah di luar sekolah setelah mereka dianggap menentang aturan seragam. Beberapa pekan berikutnya, lebih banyak sekolah di negara bagian tersebut yang juga mulai menerapkan larangan penggunaan hijab di sekolah. Laporan ini menjadi perhatian media nasional dengan tagar #HijabiisOurRight yang beredar luar di jejaring sosial.

Seperti itulah yang terjadi di negara India saat ini, perempuan muslimah diperlakukan secara buruk, mereka bahkan tidak aman ketika berjalan di tempat umum, dipermalukan, mereka dibuat basah, dan bahkan sampai kerudung mereka ditarik dimuka umum, lebih memilukan lagi sebab itu semua terekam oleh kamera sehingga dapat dilihat oleh semua mata yang ada di Dunia. Mereka dilecehkan, dirusak mental akibat kezaliman yang diterima dari laki-laki hindu yang ada di sana.

Inilah akibatnya ketika kaum muslim menjadi minoritas, hak-hak dalam menjalankan agama mereka akan disekat-sekat dengan peraturan-peraturan atau bahkan diskriminasi terhadap agama minoritas, ini adalah fakta yang lama dan akan terus terjadi selama belum adanya sosok khalifah yang mampu melindungi umat Islam, dan khalifah itu akan ada jika khilafah sudah menjalankan syariat Islam secara menyeluruh, hingga Islam betul-betul menjadi rahmatan lil alamin.

Sangat banyak kasus yang terjadi ketika muslim menjadi minoritas, sudah kita ketahui bersama, seperti muslim yang ada di Cina, mereka bahkan juga dirusak fisik dan mentalnya, dikumpulkan dalam satu ruang yang didalamnya mereka tempati untuk tidur dan buang air, tak dipungkiri para muslimah mengalami pelecehan seksual di ruang isolasi tersebut.

Begitu juga kasus yang menimpa saudara kita di Myanmar, turut merasakan apa yang dialami oleh muslim yang ada di Cina, dibakar hidup-hidup hingga mereka lebih memilih terombang ambing di laut lepas dibanding kembali ke negara Myanmar yang sudah mereka tempati dari kecil sampai dewasa. Hingga mereka berlabuh diperairan Indonesia dan beberapa negara lain, namun lagi-lagi keberadaan mereka tidak diterima karena adanya sekat-sekat nasionalisme, yang artinya itu adalah urusan negara lain atau tidak boleh ada campur tangan dari negara lain bahkan negara Indonesia sendiri berlepas tangan terhadap kasus yang ada di Miyanmar Padahal Rasulullah saw pernah bersabda:

“Umat Islam seperti satu tubuh, jika salah satu merasakan sakit, maka semua akan ikut merasakan” kira-kira seperti itulah bunyi hadits Rasulullah.

Namun, seolah-olah hadits tersebut sekedar teori belaka saat ini, karena pada faktanya umat muslim sekarang tercerai berai, meskipun banyak namun sangat mudah dicengkram oleh musuh karena apa? Karena kekuatan mereka sudah hilang pada tahun 1924, sejak runtuhnya Daulah Utsmani, maka Islam bukan siapa-siapa, dirinya saja mereka tidak mampu untuk melindungi, apalagi mereka akan mencoba melindungi saudara seiman, muslimah atau bahkan agamanya sendiri, Itu adalah hal yang mustahil untuk kita lakukan saat ini. Kecuali umat Islam hidup kembali dalam naungan syariat Islam, maka kezaliman terhadap mereka akan musnah.

Suara.com – Pemerintah Karnataka dikuasaiPartai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata Party (BJP) dengan pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi. Mereka mengatakan dalam sebuah perintah pada 5 Februari disebutkan semua sekolah harus mengikuti aturan berpakaian yang ditetapkan oleh manajemen sekolah. BC Nagesh, menteri pendidikan Karnataka mengunggah perintah tersebut di Twitter. Ia mengatakan aturan berpakaian sekolah ditetapkan setelah meninjau keputusan pengadilan dari seluruh India
Mari kita melek wahai umat, pelarangan hijab ini adalah bagian dari bukti kekejaman rezim Islamofobia India terhadap muslim. Rezim penguasa dari partai radikal Hindu makin banyak mengeluarkan kebijakan anti Islam. Sehingga saudara-saudara kita mengalami penindasan dalam menjalankan syariat Islam disana.

Masalah ini juga tak luput dari pengamatan wakil ketua MUI Anwar Abbas, beliau mengatakan, bahwa pelarangan menggunakan hijab di India adalah Islamphobia, yang menandakan kebencian penguasa terhadap rakyatnya, Anwar Abbas juga menghimbau pemerintah Indonesia untuk melakukan pendekatan terhadap pemerintah India.
Andai saja Islam masih mempunyai kekuatan, maka Palestina, India, Myanmar, Cina dan beberapa negara lain yang saat ini sedang terzalimi akan teratasi. Sabarlah wahai saudara seiman, Allah SWT tidak akan memberikan ujian, jika kalian tidak mampu melewatinya, ini semua ujian, semoga akan menjadi penggugur dosa, menaikkan martabat, iman dan pahala kalian di yaumul hisab. Aamiin…

Semua permasalahan umat saat ini hanya akan teratasi dengan hadirnya junnah terbaik berupa sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah. Hanya khilafah yang mampu menjaga nyawa, harta dan memberi perlindungan terbaik bagi seluruh alam. Wallahua’lam

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.