Opini: Islam Tegak, Korupsi Lenyap

  • Bagikan

Oleh: Fitriani, S.Pd

Sangat fantastik, kasus dugaan korupsi Lukas Enembe menambah lagi rekor peningkatan grafik skandal korupsi yang dilakukan pejabat di Indonesia. Kasus korupsi Lukas Enembe Gubernur Papua merupakan satu dari sekian banyak kasus korupsi di Papua.

Lukas Enembe diduga memiliki rekening ‘gendut’ Menurut LHKPN total kekayaannya mencapai Rp33.784.396.870. Jumlah itu menjadikannya gubernur terkaya keenam se-Indonesia

Menurut data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Lukas Enembe mempunyai enam bidang tanah yang semuanya terletak di Jayapura. Keenam bidang tanah milik Lukas Enembe bernilai Rp13.604.441.000.

Kendaraan mewah juga turut menambah daftar kekayaan Lukas Enembe
diantaranya Toyota Fortuner tahun 2007, Honda Jazz tahun 2007, Toyota/Jeep Land Cruiser tahun 2010, dan Toyota Camry tahun 2010.

Tak ketinggalan surat berharga senilai Rp 1.262.252.563, beserta kas dan setara kas Rp 17.985.213.707. Selain itu, Lukas Enembe juga diketahui memiliki sebuah tambang emas di Kabupaten Tolikara, Papua.

Sangat disayangkan dibalik fantastik nilai kekayaan Lukas Enembe, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkapkan banyak temuan yang menjadikannya sebagai tersangka kasus korupsi.

Sebelumnya KPK juga menetapkan Gubernur Papua Lukas Enembe sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi Rp 1 miliar

Gubernur Papua itu diduga korupsi ratusan miliar rupiah dan melakukan pencucian uang. PPATK menemukan adanya transaksi keuangan yang janggal atau mencurigakan hingga miliaran dengan temuan terakhir penyetoran uang senilai Rp 560 miliar dari Lukas Enembe ke kasino.

Menkopolhukam, Mahfud MD juga sempat menuding bahwa memang seolah ada semacam penyalahgunaan terkait dana Otonomi Khusus (Otsus) yang telah digelontorkan oleh Pemerintah Pusat dengan tujuan awal pembangunan Papua. Pasalnya di era kepemimpinan Lukas Enembe saja, Pemerintah sudah memberikan dana Otsus sebesar Rp 500 triliun, namun sampai saat ini masih sangat banyak kemiskinan dijumpai di masyarakat Papua sendiri (https://www.suaradewata.com/).

Mahfud MD menegaskan Dengan dana Otsus yang melimpah itu, seolah tak terjadi perkembangan apapun. Hal itu dinilai karena masyarakat Papua masih terbelenggu kemiskinan, tapi di sisi lain justru para pejabatnya tengah berfoya-foya seperti kasus Lukas Enembe dengan banyak aliran dana mencurigakan termasuk untuk membeli jam tangan mewah dan sebagainya.

Inilah gambaran buruknya sistem yang disandarkan pada rumusan akal manusia. Sistem pemerintahan demokrasi sekuler yang berorientasi pada materi dan asas manfaat. Sistem ini telah gagal dalam membentuk karakter pemimpin yang amanah dan anti korup.

Tidak hanya itu, ternyata permasalahan ini nampak dari hulu ke hilir. Dimulai dengan proses pemilihan pemimpin (pemilu) dalam sistem demokrasi sekuler kapitalis yang membutuhkan biaya besar terjadi “money politik” hal ini memicu para cukong untuk bertindak hanya untuk mendapatkan kepentingan materi, memperkaya diri sendiri, dan lalai terhadap urusan rakyatnya.

Bagaimana Islam Memandang Korupsi?

Korupsi dalam Syariah Islam disebut dengan perbuatan khianat, orangnya disebut khaa`in, termasuk di dalamnya adalah penggelapan uang yang diamanatkan atau dipercayakan kepada seseorang.

Tindakan khaain ini tidak termasuk definisi mencuri (sariqah) dalam syariah Islam, sebab definisi mencuri (sariqah) adalah mengambil harta orang lain secara diam-diam (akhdzul maal ‘ala wajhil ikhtifaa wal istitar). Sedang khianat ini bukan tindakan seseorang mengambil harta orang lain, tapi tindakan pengkhianatan yang dilakukan seseorang, yaitu menggelapkan harta yang memang diamanatkan kepada seseorang itu. (Lihat Abdurrahman Al Maliki, Nizhamul Uqubat, hlm. 31).

Sanksi bagi koruptor yakni ta’zir, sanksi yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh hakim. Adapun sanksinya bisa dari yang paling ringan, seperti memberi nasehat atau teguran dari hakim, dipenjara, diberi denda (gharamah) atau dengan mengumumkan pelaku di hadapan umat maupun media massa (tasyhir), dicambuk, hingga diberi sanksi yang paling tegas, berupa hukuman mati.

Islam membentuk Pemimpin yang amanah.

Amanah dalam Islam adalah sifat yang wajib dimiliki seorang pemimpin. Sifat amanah yang akan
menjaga kepercayaan rakyat atas tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Pemimpin adalah pelindung bagi rakyatnya, Ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.

Sebagaimana hadis Rasulullah saw,

“Imam adalah raa’in (penggembala) dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari)

Pemimpin wajib memenuhi kebutuhan rakyat dengan jaminan kesediaan sandang, pangan, dan papan. Demikian juga wajib memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Menjaga aqidahnya agar tetap pada ketakwaan kepada Allah Swt.

Seorang pemimpin juga paham bahwa tanggung jawab mengurus urusan rakyat nantinya akan dimintai pertanggung jawaban hingga ke akhirat kelak sehingga dia akan bersungguh-sungguh dalam melayani dan mensejahterakan rakyatnya.

Rasulullah saw. menegaskan dalam sebuah riwayat hadis,

“Tidaklah seorang manusia yang diamanati Allah Swt. untuk mengurus urusan rakyat lalu mati dalam keadaan dia menipu rakyatnya melainkan Allah mengharamkan surga bagi dia.” (HR Bukhari)

Seorang pemimpin harus memiliki ketegasan sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Saat Umar ra. mendapati kekayaan seorang wali atau ‘amil (kepala daerah) bertambah secara tidak wajar, Ia akan meminta penjelasan pejabat tersebut seputar asal-usul harta tambahan tak wajar.

Apabila penjelasannya tidak memuaskan, maka kelebihannya akan disita atau dibagi dua dan sisanya akan diserahkan ke Baitul Mal. Hal tersebut pernah beliau lakukan kepada Abu Hurairah, Utbah bin Abu Sufyan juga Amr bin al-‘Ash (Ibnu ’Abd Rabbih, Al-’Iqd al-Farîd, I/46-47).

Selain itu,
Khalifah Umar juga pernah bersikap tegas terhadap keluarganya sendiri yaitu saat melihat unta milik Abdullah bin Umar paling gemuk di antara unta yang digembalakan di padang penggembalaan umum, beliau lalu menyuruh Abdullah bin Umar untuk menjual unta itu. Keuntungan yang diperoleh dimasukkan ke kas negara. Menurut Khalifah Umar unta tersebut paling gemuk karena mendapat rumput terbaik apalagi Abdullah bin Umar adalah seorang putra Khalifah.

Dalam Islam pemimpin yang baik itu sederhana hidupnya dan kekayaannya tidaklah bertambah banyak saat ia menjabat, ia juga bukan pemimpin yang suka berfoya-foya, suka traveling apalagi mendatangi kasino hanya dengan alasan melepaskan penat. Maka tidak ada jalan lain menuntaskan korupsi kecuali dengan penerapan Sistem Islam secara kaffah

Wallahu a’lam bishowab

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *