Opini: Edaran Selamat Natal: Arus Moderasi Berbaju Toleransi

  • Bagikan

Oleh: Munawwarah Rahman, S.Pd

Dalam rangka menyambut hari raya Natal tahun 2021 Kmentrian Agama menghimbau kepada satuan kerja dibawahnya untuk memasang spanduk ucapan selamat Natal dan Tahun Baru atas nama toleransi. Kebijakan ini sontak saja menuai protes dari beberapa ormas termasuk di Kemenag Sulawesi Selatan. Meski sempat beredar bahwa himbauan itu telah dicabut namun dari pihak Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan sendiri membantah hal tersebut.

Nuruzzaman membenarkan bahwa Kantor Wilayah Kementerian Agama telah menerbitkan edaran seputar pemasangan spanduk ucapan Natal dan Tahun Baru. Ia juga mengakui ada sejumlah permintaan agar Kantor Wilayah Kementrian Agama Sulawesi Selatan segera mencabut surat edaran tersebut. Namun, hal itu tidak jadi dilakukan.

Pasalnya, Kementerian Agama dianggap sebagai instansi vertikal sekaligus menjadi representasi dari negara. “Kementerian Agama adalah kementerian semua agama, bukan untuk satu agama saja sehingga Kemenag berkewajiban untuk mengayomi, melayani, menjaga seluruh agama, termasuk dalam merawat kerukunan umat beragama,” ujar Nuruzzaman.

Aturan kebolehan mengucap selamat Natal juga disampaikan oleh ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Dakwah dan Ukhuwah yakni KH Muhammad Cholil Nafis yang menyebut bahwa mengucap selamat Natal itu boleh namun hanya dalam konteks saling menghormati dan toleransi antara umat beragama. Pendapat tersebut ia sampaikan di laman twitter pribadinya, pada hari Jumat (17/12/2021). lebih lanjut Dia juga menyampaikan yang tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim ialah mengikuti upacara atau rangkaian kegiatan perayaan natal tersebut.

“Apalagi yang punya keluarga nasrani atau sebagai pejabat. Pada tahun 2015 lalu sudah saya jelaskan di media, bahwa fatwa MUI pada 7 Maret 1981 itu mengharamkan ikut upacara merayakan Natalan,” pungkasnya. (zaki/fajar)

Karena itu, meski sebahagian masyarakat maupun ormas menolak kebijakan memasang spanduk ucapan Natal di seluruh satuan kerja Kementrian Agama namun, kebijakan ini dianggap tetap harus dilakukan untuk menegaskan sikap pemerintah terhadap isu ucapan Natal.

Disamping itu, MUI dan Parpol Islam pun nampak mendukukng kebijakan ini dengan menyatakan tidak ada larangan tegas dari syariah untuk mengucapkan selamat Natal. Ini menegaskan makin gencarnya kebijakan pemerintah terhadap moderasi beragama dan membuktikan program moderasi berbaju toleransi beragama nyata mendorong muslim meremehkan prinsip agama bahkan yang berkaitan dengan aqidah.

Paham moderasi agama secara garis besar adalah paham keagamaan yang moderat sering dilawankan dengan radikal. Kedua istilah ini bukanlah istilah ilmia tetapi cenderung merupakan istilah politis yang memiliki motif tertentu yakni mengungkapkan yang bohong menzahirkan yang palsu serta menyembunyikan yang hakikat.

Moderat sejatinya adalah paham keagamaan Islam yang disesuaikan dengan selera barat sesuai dengan nilai-nilai barat yang sekuler tujuannya untuk memisahkan agama dari kehidupan, sebaliknya radikal adalah paham keagamaan Islam yang dilekatkan pada kelompok Islam anti Barat. Mereka adalah pihak yang menolak sekularisme.

Merekalah yang menginginkan penerapan syariah Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Diantara sikap agama yang dipandang moderat adalah keterbukaan terhadap pluralisme yang menganggap bahwa semua agama benar dan sama-sama berasal dari tuhan. Wajar saja jika pemerintah saat ini sangat getol menyuarakan toleransi beragama yang tergolong kebablasan.

Wujudnya berupa ucapan selamat Natal pada kaum Nasrani, perayaan Natal bersama, doa bersama lintas agama, shalawatan di gereja, dan lain-lain. Semua itu tentu melanggar batas-batas aqidah seoarang muslim, telah mencampur adukan yang haq dan batil dan parahnya bisa membuat seoarang muslim Murtad atau keluar dari Islam. Sumber Muslimah media center.

Ucapan Selamat Natal Dalam Islam

Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman: “Bahwasannya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,” (QS.Al-Maidah:73-74).

Pemberian ucapan selamat Natal jelas bertentangan dengan ayat diatas. Yang harusnya diserukan kepada mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-maidah ayat 73-74 diatas yakni agar mereka segera bertobat dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Tentu saja hal itu dengan meninggalkan kekufuran dan masuk Islam secara kaffah. Bukan malah sebaliknya memberi ucapan selamat yang didalamnya terkandung makna ikut bergembira serta pengakuan dan keridhaan terhadap kekufuran nonmuslim.

Dialam ucapan selamat Natal maupun ucapan selamat Hari Raya kaum kafir lainnya juga terdapat unsur tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan yang secara tegas dilarang oleh Allah SWT hal itu bisa dilihat kembali dalam QS al-Maidah :2 yang tentu saja dilarang dalam Islam dan haram hukumnya.

Dalam surah lain juga dikatakan “Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya,”(QS al-furqan:72).

Az-Zuur itu meliputi semua bentuk kebatilan. Yang paling besar adalah syirik dan mengagungkan sekutu Allah SWT. Karena itu Imam Ibnu Katsir-mengutip Abu al-’Aliyah, Thawuz, Muhammad bin Sirrin, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas dan lainnya-menyatakan bahwa az-Zuur adalah hari raya kaum musyrik (Tafsir Ibnu Katsiir, III/1.346).

Ibnu ‘Abbas ra., menjelaskan, makna yasyhaduuna az-Zuura adalah menyaksikan hari raya kaum musyrik, termasuk dalam konteks larangan ayat ini adalah mengikuti hari raya mereka.

Ayat diatas menunjukkan larangan berpartisipasi dalam hari raya orang kafir, baik dorongan, persetujuan dan dukungan, secara langsung maupun tidak langsung. Di dalam ucapan selamat Hari Raya Natal adalah haram jelas terkandung semua itu. Maka jelas bahwa ucapan selamat Hari Raya Natal adalah haram.

Ucapan selamat Natal juga termasuk syiar agama mereka. Jika turut andil dalam mengucapkannya, sama saja menyerupai mereka, padahal Rasul saw sangat tegas melarang hal demikian.

Ijmak Ulama

Keharaman mengucapkan Selamat Natal telah menjadi ijmak atau disepakati oleh para ulama dan menyatakan bahwa orang yang mengucapkan selamat hari raya kepada orang kafir bisa dijatuhi hukuman ta’ziir. Imam Kamaluddin ad-Damiri (w. 808 H) di An-Najmu al-Najmu al-Wahhaaj fi Syarhi al-Minhaaj menyatakan, “Dijatuhi sanksi ta’ziir orang yang menyamai kaum kafir dalam hari raya mereka dan orang yang berkata kepada dzimmi, Ya Haj’, juga orang yang memberikan selamat hari raya.”. Sumber Buletin Kaffah.

Maka melihat kondisi saat ini yang semakin berupaya menjauhkan umat dari ajaran Islam lewat moderasi beragama yang terus dihembuskan selayaknya kita tak gentar untuk terus menyuarakan syariah ditengah-tengah umat agar kemuliaan Islam dan kaum muslim bisa kembali dalam kehidupan ini tentu dalam bingkai khilafah.
Wallahu a’lam.

  • Bagikan