Narasi Basi Radikalisme dan Terorisme, Siapa Dituju ?


Penulis : Irma Ismail (Aktivis Muslimah dan Penulis Balikpapan )

Dua puluh tahun telah berlalu, sejak peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat yang menewaskan kurang lebih 3000 jiwa dan 6000 lainnya luka-luka dan ini masih saja selalu menarik untuk di bahas. Sebanyak 19 miltan yang terkait kelompok Al Qaida dengan membajak empat pesawat penumpang adalah actor di balik peristiwa ini. 12 September 2001 Amerika mengumumkan perang melawan terorisme. Sebagai negara adidaya, tentu saja ini berimbas ke seluruh dunia, perang melawan terorisme bahkan menjadi isu politik dalam kancah pemilihan kepala negara. Bahkan penjagaan akan obyek vital AS dan kepentingan mereka di luar negeri menjadi lebih ditingkatkan kewaspadaannya, seperti kedutaan, pangkalan militer, usaha bisnis dan warga AS sendiri. Tidak terkecuali di Indonesia.

Berbagai peristiwa di Indonesia juga tak luput dari isu ini. Peristiwa Bom Bali, bom bunuh diri dan lainnya seolah menjadi bukti adanya aksi teror oleh sekelompok orang-orang yang radikal. Adanya ancaman teror dengan kekerasan inilah yang menjadi salah satu latar belakang dan tujuan diterbitkannya RAN PE (Rencana Aksi Nasional dan Penanggulangan Ekstrimisme) melalui Perpres Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2020-2021,pada hari Rabu (16/6/2021).

Hanya saja rangkaian peristiwa yang terjadi, dimana berbagai tindakan terorisme dan radikalisme, acapkali Islam menjadi yang tersudutkan. Penggambaran sosok pelaku atau terduga pelaku , seringkali di kaitkan dengan kelompok-kelompok Islam. Termasuk ciri fisik, berjanggut dan tak luput barang bukti yang mencermikan pemiliknya pastilah muslim, buku dengan tema jihad, bendera tauhid hingga foto seorang Ulama besar.Bahkan hal mirisnya adalah tidak sedikit para terduga ini yang ditembak mati oleh aparat, tanpa pernah ada kesempatan bagi terduga ini untuk membela diri.

Baca juga  Makelarman, Bikin Hidup Lu Kelar Man

Inilah adalah fakta yang terjadi. Narasi yang berkembang terkat terorisme dan radikalisme pada akhirnya tidak bisa dipisahkan dari Islam. Di lansir dari CNN Indonesia (4/2/2016), BNPT ( Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) menyatakan ada 19 pesantren terindikasi ajarkan mengajarkan doktrin bermuatan radikalisme. Dan paling jelas adalah apa yang dikatakan oleh Menteri Agama pada tahun 2020, yang pada saat itu masih di jabat oleh Fachrul Razi yang mengungkapkan bahwa strategi paham radikal masuk di lingkungan ASN dan masyarakat melalui seorang anak yang berparas menarik atau good looking, penguasaan bahasa arab yang bagus, hafidz qur’an hingga akhirnya menjadi Imam kemudian menjadi pengurus masjid.

Berbagai pernyataan dikeluarkan untuk menyatakan bahwa ini bukan menuduh Islam, tetapi tetap saja ini tidak bisa menutupi fakta yang ada bahwa narasi terorisme dan radiakalisme memang ditujukan untuk Islam. Seolah Islam adalah sumber dari lahirnya pemikiran yang ekstrim, yang akan mengakibatkan perbuatan-perbuatan yang meneror dan membuat seseorang menjadi radikal, sehingga perlu solusi untuk mengatasinya. Solusi yang ditawarkan ini seiring mulai munculnya di tengah-tengah ummat rasa beragama atau syuur Islam yang mulai membaik, yang di dasarkan pada pemahaman dan menimbulkan dalam diri untuk bisa berislam secara kaffah.

Baca juga  Praktik Toleransi yang Indah dalam Islam

Menerapkan aturan Islam dalam sendi-sendi kehidupan, dari diri sendiri, keluarga lingkungan hingga negara dan memperbaiki sistem. Kesadaran berislam secara kaffah juga menyadarkan ummat Islam bahwa selama ini umat masih terjajah oleh pemikiran sekuler, kekayaan alam yang selama ini dikuasai oleh asing, aturan kehidupan yang jauh dari Islam.

Dan geliat untuk kembali menerapkan Islam secara kaffah tak terbendungkan dan kesadaran ini ternyata mengancam bagi asing. Sehingga bagi yang menjalankan sesuai dengan makna syariat akan di anggap berlebihan atau ekstrim dan radikal. Bahkan dibuatnya sebagian umat Islam merasa bahwa syariat Islam telah membelenggu hidupnya, hingga merasa tidak butuh akan syariat Allah. Dan akhirnya umat terjauhkan dari Islam menuju kepada kehancuran. Menjadi manusia-manusia yang tidak punya kemuliaan dan kehormatan. Karakter Islam radikal sendiri digambarkan sebagai sosok yang intoleran, brutal, berlebihan dan juga selalu berbicara khilafah.

Istilah Islam radikal yang dipicu oleh sikap Ekstrim yang kemudian dibenturkan dengan Moderasi Beragama sebagai perwujudan Islam Moderat adalah narasi jahat dan basi. Bangkitnya kesadaran dan pemahaman akan Islam yang menyeluruh dan sempurna, adalah hal yang menakutkan bagi penjajah barat yang memang selama ini menguasai negeri-negeri muslim. Ummat sadar bahwa selama kehidupan kaum muslim dalam cengkraman sistem kufur. Penjajah barat yang selama ini dengan leluasa mencengkram dan mendikte semua kebijakan dan menghisap habis setiap sumber daya alam yang ada di negeri-negeri muslim. Sedangkan para penguasa dan siapa pun yang mendukung penjajah barat ini tidak lain merupakan agen dan perpanjangan tangan mereka.

Baca juga  Pandora Papers dan Borok Global Sistem Kapitalisme

Gaung kebangkitan Islam seperti sebuah lonceng kematian yang terus berdenting dan menakutkan, yang akan memporak porandakan ideologi yang selama ini sudah bersarang di negeri-negeri muslim. Tidaklah mudah untuk membenturkan ini kecuali dari kalangan umat Islam sendiri. Berbagai upaya dibuat dan umat Islam tidak menyadari adanya bahaya adu domba ini, kecuali mereka yang berpikiran jernih, mendalam dan cemerlang.

Umat Islam harusnya sadar bahwa ada bahaya yang memang mengintai kaum muslim, pemahaman sekulerisme, pemahaman yang menjauhkan urusan dunia dari agama. Menjadikan sendi-sendi pengaturan dalam hidup kita tak lagi bersumber dari Allah. Sayangnya pejuang sekuler ini adalah muslim juga.

Umat Islam pun harus di sadarkan juga betapa berbahayanya pemahaman sekulerisme ini yang berujung pada pemahaman moderasi beragama dimana ini bisa mengancam akan persatuan kaum muslim sendiri, di samping jelas mengancam aqidah kaum muslim.

Dan inilah saatnya kaum muslim kembali kepada ajaran Islam secara sempurna, mempelajari napak tilas perjuangan Rasulullah Saw bukan sekedar cerita sejarah di masa lampau tetapi sebagai sebuah jalan untuk kita ikuti. Bagaimana Rasulullah Saw dan para Khalifah sesudah beliau mampu untuk menghalau pemikiran yang buruk, rusak dan merusak umat. Dan hanya dengan menerapkan Islam kaffah saja yang akan dengan tuntas membebaskan umat muslim dari penjajahan barat ini. Wallahu a’laamu bi ash-shawwab.[]