“MUSLIM KOK ALERGI TERHADAP SYARIAH?”


Oleh : Nur Amilan

Ketika mendengar istilah hukum Islam (syariah), apa yang muncul di benak Anda? Hukum cambuk, rajam, radikal, teroris, atau bahkan sesuatu yang sangat “bertentangan” dengan hak asasi manusia?? Atau apa yang anda bayangkan jika syariah Islam diterapkan secara total di muka bumi? Peperangan, perpecahan, ketidak adilan terhadap non muslim?.

Sungguh suatu kepedihan mendalam jika kita dapati pemikiran ummat sebatas demikian terhadap hukum agamanya sendiri. Islam yang seharusnya menjadi landasan berhukum dalam segala aspek kehidupan mulai dari bangun tidur hingga membangun sebuah negara sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, malah dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan layaknya monster bahkan alergi terhadapnya.

Betapa tidak, stigma negatif dan framing radikal selalu dialamatkan pada islam, maka tak heran jika masyarakat masih banyak yang tidak menjadikan Al-quran dan Hadist sebagai pedoman hidup melainkan hawa nafsu semata yang menguasai kehidupan mereka.

Baca juga  Mencetak Generasi Unggul, Perlu Visi Pendidikan Islam

Kriminalisasi terhadap simbol-simbol dan ajaran Islam, mempersekusi para ulama serta sikap represif terhadap aktivis islam yang mendakwahkannya. Bahkan melihat bendera tauhid dikirbarkan oleh siswa MAN Sukabumi saja langsung diintrogasi, dan masih banyak lagi kasus-kasus penolakan terhadap syariah. Parahnya lagi penolakan tersebut justru datang dari orang-orang muslim sendiri.

Inilah upaya para pelopor sekularisme untuk menghentikan arus kejayaan islam, karena mereka sangat paham bagaimana kondisi mereka jika muslim berislam secara kaffah, bagaimana jika Islam menguasai peradaban dunia. Segala upaya telah dilakukan mulai dari merusak pemikiran ummat melalui system pendidikan, media, budaya, teknologi hingga menguasai segala asset Negara jajahannya.

Baca juga  KBM Tatap Muka, Perlu Dikaji Kembali

Kondisi ini dikarenakan perang pemikiran (Ghazwulfikr) dan yang menjadi sasaran adalah kaum muslim. Inilah strategi penjajahan gaya baru barat (neoimperialisme), mereka berupaya merusak ideology ummat yang berlandaskan Al-quran dan Hadist yakni ideologi Islam (Al-aqidahar-ruhiyyahwa as-siyasiyah), lalu menanamkan ide-ide propaganda sekularisme yang jelas bertentangan dengan Islam, hingga aturan Islam terasa asing dan ditinggalkan bahkan dimonsterisasi.

Ini merupakan episode tak berkesudahan selama sekularisme-liberalisme-kapitalisme masih bercokol di negeri ini dan menjadikan barat sebagai kiblat pengambilan hukum dan life style.
Islam adalah pandangan hidup yang melahirkan aturan dalam kehidupan dan melaksanakan aturan Allah adalah bentuk ketaatan seorang Muslim.

Aturan yang dimaksud bukan hanya menyangkut ibadah mahdhah tapi aturan yang bersifat menyeluruh disetiap lini kehidupan. Maka sangat jelas hokum menerapkan syariah secara kaffah (manyeluruh) adalah wajib bagi setiap muslim sebagaimana pula hasil ijtimaulama IV yang diproklamirkan oleh Yusuf Muhammad Martak, Senin sore (5/8/2019) di Hotel Lor In, Sentul, Bogor Jawa Barat.

Baca juga  Program Major Project, Eksistensi Kapitalisme

Penerapan syariah juga merupakan wujud ketakwaan hakiki yang akan membuka pintu keberkahan dari langit dan bumi, membawa kerahmat bagi seluruh alam (Islam Rahmatanlil ‘Alamin). Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan tidaklah kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam,” (QS. Al-Anbiya : 107). Secanggih apapun makar yang didesain dan dijalankan para pengusung ide sekularisme tidak akan mampu melawan makar Allah subuhanawata’ala. Wallahu a’lam bi ash showwab.


OPINI